Konten dari Pengguna

Inovasi Teknologi untuk Mendukung TKDN Menuju Industri Mandiri dan Berdaya Saing

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cely Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pribadi. Kepala BPPT Hammam Riza
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi. Kepala BPPT Hammam Riza

Meningkatkan dan mempererat kerjasama dengan para mitra, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Pusat Layanan Teknologi (Pusyantek BPPT) adakan webinar Business Gathering dengan tema “Inovasi Teknologi Untuk Mendukung Peningkatan TKDN Menuju Industri Yang Mandiri dan Berdaya Saing di Bidang Teknologi Hankam, Maritim dan Manufaktur”. (18/08). Kegiatan ini rutin diselenggarakan setiap tahunnya. Ini merupakan implementasi dari Undang-undang Sisnas Iptek pasal 31 ayat 2.

Dok. Pribadi. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko memberikan arahanya pada acara Bisnis Gathering BPPT (18/08)

Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko dalam arahanya memberikan appresiasi kepada BLU Pusyantek BPPT yang telah banyak berkontribusi dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi melalui layanan teknologi yang telah diberikan dengan melibatkan mitra pemerintah, pelaku bisnis, periset, asosiasi dan media.

Hal ini sejalan dengan tujuan pembentukan BRIN untuk menciptakan Ekosistem Riset dan Inovasi yang jauh lebih baik. BRIN menurutnya, memiliki beberapa target untuk menciptakan fondasi ekonomi Indonesia berbasis riset yang kuat dan berkesinambungan dengan fokus “digital green blue economy”, sebagai gerbang utama pelayanan teknologi dan hilirisasi teknologi, “BLU Pusyantek harus terus berinovasi, terus bergerak menjadi yang terbaik”, jelasnya.

Handoko menambahkan BRIN sendiri dibentuk untuk menjadi penyedia infrastruktur riset berbagai bidang, utamanya untuk meningkatkan nilai tambah kekayaan sumber daya alam lokal demi peningkatan ekonomi nasional. “Pada tahap awal saya akan memfokuskan pada riset dan inovasi berbasis biodiversitas yang memiliki local competitiveness tinggi. Tentu riset dan inovasi teknologi juga tetap didukung,” ujar Handoko. Dirinya pun menambahkan, BRIN diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia riset dengan dunia industri. “BRIN harus mampu menjadi enabler (pengungkit) bagi industri Indonesia untuk mampu berkompetisi secara global,” ungkapnya.

Melalui aktivitas riset yang terintegrasi dan melahirkan banyak invensi dan inovasi yang mampu bersaing secara global maka hilirisasi industri dapat menjadi enabler ekonomi dan sekaligus penarik investor sektor riset, ujar Handoko.

Sementara itu pada kesempatan yang sama Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan dalam sambutannya, BPPT sebagai lembaga kajiterap dengan 7 peran utama (Intermediasi, Technology Clearing House, Pengkajian Teknologi, Audit Teknologi, Solusi Teknologi, Komersialisasi Teknologi dan Difusi Teknologi) terus melaksanakan program terkait Program Riset Nasional maupun Program Prioritas Nasional untuk mendukung upaya-upaya menuju kemandirian industri nasional dalam berbagai bidang, terutama pada sektor-sektor yang memerlukan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN).

Hammam menyampaikan bahwa penguasaan teknologi, inovasi dan layanan menjadi kata kunci bagi BPPT dalam mendorong percepatan pembangunan bangsa, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa untuk menghela pertumbuhan ekonomi, Dengan tujuh peran tersebut, BPPT terus melaksanakan kaji terap teknologi terkait Program Riset Nasional maupun Program Prioritas Nasional guna mendukung upaya-upaya menuju kemandirian industri nasional dalam berbagai bidang, terutama pada sektor-sektor yang memerlukan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

BPPT saat ini terus melaksanakan program pengkajian dan penerapan yang berdampak pada peningkatan penggunaan produksi dalam negeri (P3DN), dengan fokus pada delapan bidang teknologi diantaranya, bidang Energi, Kesehatan dan Pangan, Transportasi, Rekayasa Keteknikan, Pertahanan dan Keamanan, Kemaritiman, Mitigasi Bencana, serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (Transformasi Digital). BPPT terlibat aktif dalam Timnas P3DN khususnya pada Pokja Pemantauan. Pokja Pemantauan ini memiliki tugas diataranya adalah melakukan kerja pemantauan terhadap proyek strategis nasional, dan melakukan koordinasi antara K/L/Badan Usaha tentang pelaksanaan P3DN (diantaranya adalah dengan Kemenko Marves, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, BPKP, KADIN, PII, dll). BPPT sendiri ditunjuk sebagai Sekretariat Pokja Pemantauan.

Diharapkan dengan fokus ini hasil riset dan inovasi BPPT akan memberikan kontribusi yang lebih nyata dalam agenda percepatan pertumbuhan ekonomi, penyelesaian permasalahan bangsa, agenda pembangunan yang berkelanjutan dan agenda kemandirian iptek nasional, dan dengan acara ini merupakan titik awal yang terus berkelanjutan dalam proses sinergi dan kerjasama antara BPPT dengan semua pemangku kepentingan untuk memperkuat Ekosistem Inovasi dalam mendukung pembangunan bangsa dan negara ini berbasis iptek, untuk mewujudkan Bangsa yang Mandiri dan Berdaulat Teknologi serta Memiliki Daya Saing Global. tutur Hammam.