Jejak Mikroplastik di Laut Dalam: Barnakel yang Menyimpan Rahasia Lautan

Pranata Humas - Anggota Iprahumas Indonesia
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Cely Julianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kedalaman 200 meter di bawah permukaan Laut Maluku utara dan Laut Filipina barat daya, kehidupan berjalan dalam ritme yang sangat berbeda dengan dunia kita di daratan. Gelap, sunyi, dan dingin seolah terputus dari hiruk-pikuk peradaban manusia. Di sanalah barnakel, hewan kecil berkulit keras yang menempel di permukaan pelampung tambat (mooring buoy), hidup tanpa pernah berpindah tempat. Mereka menjadi bagian dari rantai ekosistem laut yang tak terlihat mata kita.
Tapi ketenangan itu ternyata menyimpan cerita yang mengusik. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa hampir sepertiga barnakel laut dalam di lokasi ini ternyata mengandung mikroplastik di tubuhnya. Ya, plastik material buatan manusia yang kita gunakan setiap hari untuk membungkus makanan, membawa belanjaan, atau membuat alat tangkap ikan.
Bagaimana mungkin makhluk yang hidup jauh dari pesisir dan tak pernah berenang bebas ini bisa terkontaminasi oleh plastik? Pertanyaan ini membawa kita pada kenyataan pahit bahwa pencemaran laut tak mengenal batas, kedalaman, atau jarak.
Barnakel: Saksi Bisu Laut Dalam
Barnakel adalah invertebrata laut yang terkenal dengan sifat “menempel” seumur hidupnya di satu tempat. Mereka tidak punya kemampuan untuk menghindari ancaman lingkungan. Sebagai pemakan partikel (filter feeder), barnakel menyaring air laut untuk mendapatkan makanan berupa plankton. Sayangnya, jika air laut yang mereka saring mengandung mikroplastik, partikel itu ikut masuk ke tubuh mereka.
Penelitian BRIN ini menjadi yang pertama mendokumentasikan keberadaan mikroplastik pada barnakel laut dalam di wilayah Indonesian Throughflow atau Arus Lintas Indonesia jalur arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Jalur ini penting untuk sirkulasi laut global dan memengaruhi iklim dunia.
Barnakel yang diteliti menempel di mooring buoy alat pemantau laut yang ditempatkan di dua titik strategis: satu di Laut Maluku utara, satu lagi di Laut Filipina barat daya. Pelampung itu dipasang selama setahun di kedalaman 200 meter, sebelum akhirnya diangkat untuk diambil barnakelnya.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan, hampir sepertiga barnakel tersebut mengandung partikel dan serat mikroplastik. Tingkat kontaminasinya setara dengan yang ditemukan pada penelitian sebelumnya di perairan permukaan dan bawah permukaan di wilayah sekitar.
Jenis polimer yang paling banyak ditemukan adalah nilon bahan yang umum digunakan dalam jaring ikan dan tali-temali laut. Disusul oleh polyvinylidene fluoride dan poliamida. Sumbernya diduga kuat berasal dari aktivitas perikanan, terutama alat tangkap yang hilang atau ditinggalkan di laut, serta dari mikroplastik lintas batas yang terbawa arus laut antarnegara. Bagi peneliti, ini bukan sekadar angka atau daftar polimer. Ini adalah bukti bahwa pencemaran plastik telah menembus ruang yang selama ini kita anggap “terlindungi”.
Mikroplastik: Masalah yang Tak Terlihat
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Karena ukurannya sangat kecil, sering kali ia tak terlihat oleh mata manusia. Tapi justru itulah masalahnya mikroplastik bisa dengan mudah masuk ke rantai makanan laut. Penelitian di berbagai belahan dunia telah menemukan mikroplastik di tubuh ikan, kerang, bahkan air minum. Kini, temuan pada barnakel laut dalam Indonesia menunjukkan bahwa masalah ini jauh lebih dalam secara harfiah.
Barnakel memang tidak menjadi makanan langsung manusia, tetapi mereka adalah bagian dari rantai makanan laut. Artinya, mikroplastik yang masuk ke tubuh mereka bisa berpindah ke organisme lain, dan pada akhirnya berpotensi mencapai piring makan kita.
Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN di bidang oseanografi, menekankan bahwa temuan ini adalah alarm peringatan. “Laut dalam sering kita anggap jauh dan aman dari dampak aktivitas manusia. Padahal kenyataannya, laut dalam pun tidak steril dari plastik. Mikroplastik yang kami temukan pada barnakel menunjukkan betapa luas dan kompleksnya masalah ini,” ujar Reza.
Ia menjelaskan bahwa Arus Lintas Indonesia adalah salah satu jalur laut terpenting di dunia. Setiap polusi yang masuk ke jalur ini berpotensi terbawa ribuan kilometer, memengaruhi ekosistem di banyak negara. “Kita berbicara tentang arus global. Mikroplastik yang masuk di wilayah Indonesia bisa berakhir di Samudra Hindia atau Pasifik, dan sebaliknya. Ini bukan masalah satu negara saja, tapi masalah bersama,” tambahnya.
Melakukan penelitian di laut dalam bukan perkara mudah. Kedalaman 200 meter sudah cukup untuk membuat manusia membutuhkan peralatan khusus jika ingin menyelam. Ombak besar, arus kuat, dan cuaca yang tak menentu adalah tantangan sehari-hari di laut terbuka.
Tim BRIN mengandalkan _mooring buoy_ sebagai “platform” untuk mengumpulkan barnakel. Pelampung ini dipasang dan dibiarkan selama setahun, menjadi rumah bagi barnakel dan organisme laut lainnya. Setelah itu, pelampung diangkat menggunakan kapal riset, dan barnakel dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.
Proses identifikasi mikroplastik juga rumit. Peneliti harus memisahkan partikel-partikel kecil dari jaringan barnakel, kemudian mengidentifikasi jenis polimernya menggunakan teknologi seperti _Fourier Transform Infrared Spectroscopy_ (FTIR). Kontaminasi mikroplastik pada barnakel bukan hanya persoalan hewan kecil yang menelan partikel plastik. Ini adalah sinyal bahwa mikroplastik telah masuk ke dalam jaringan ekosistem laut dalam.
Barnakel adalah filter feeder, yang artinya mereka menyaring partikel dari air untuk makan. Jika air laut di kedalaman 200 meter sudah tercemar, kemungkinan besar organisme laut dalam lain juga terpapar. Dampak biologisnya masih belum sepenuhnya diketahui, tapi studi di tempat lain menunjukkan mikroplastik bisa mengiritasi jaringan, mengganggu pencernaan, dan bahkan memengaruhi reproduksi organisme laut.
Walau barnakel tidak umum dikonsumsi manusia di Indonesia, rantai makanan laut sangatlah kompleks. Ikan predator yang memakan hewan-hewan kecil di laut dalam pada gilirannya bisa menjadi santapan manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi kembali ke tubuh kita.
Muhammad Reza Cordova mengingatkan,“Plastik yang kita buang hari ini tidak hilang begitu saja. Ia bisa pecah menjadi potongan kecil, hanyut ribuan kilometer, masuk ke tubuh organisme laut, dan pada akhirnya bisa sampai ke tubuh kita.”
Masalah mikroplastik tidak bisa diselesaikan oleh peneliti saja. Butuh kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas nelayan, dan masyarakat umum. Pengelolaan sampah yang buruk, terutama di daerah pesisir, adalah salah satu sumber utama plastik di laut. Alat tangkap ikan yang hilang atau sengaja ditinggalkan juga menjadi penyumbang besar. Jaring nilon yang robek tidak terurai dalam waktu singkat; sebaliknya, ia akan hancur menjadi mikroplastik dan mencemari laut selama puluhan tahun.
Reza menekankan, “Laut adalah sistem yang saling terhubung. Jika kita membuang plastik di Jakarta, ia bisa berakhir di Laut Maluku. Dan dari sana, ia bisa terbawa arus hingga ke Samudra Pasifik. Tidak ada batas administratif di lautan.”
Harapan ke Depan
Penelitian ini baru langkah awal. BRIN berencana melakukan studi lanjutan untuk memantau mikroplastik di laut dalam dengan cakupan yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak jenis organisme. Tujuannya bukan hanya memahami skala pencemaran, tapi juga dampaknya terhadap kesehatan ekosistem laut dan manusia.
Namun, Reza mengingatkan bahwa data saja tidak cukup. Diperlukan kebijakan yang tegas dan kesadaran publik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan pengelolaan sampah, dan mengatur praktik perikanan agar lebih ramah lingkungan. “Kita tidak bisa menunggu sampai semua data lengkap. Kerusakan yang terjadi hari ini mungkin butuh puluhan tahun untuk dipulihkan. Lebih baik kita bertindak sekarang,” tegasnya.
Barnakel laut dalam di Laut Maluku dan Laut Filipina barat daya kini menjadi saksi bisu bahwa aktivitas manusia di permukaan bumi punya jejak hingga ke palung laut. Mereka tidak pernah memilih untuk menelan plastik, tapi arus laut membawanya ke sana.
Pertanyaannya, seperti yang dikatakan Reza, adalah: “Jejak seperti apa yang ingin kita tinggalkan di laut kita?”
Jika kita memilih untuk terus membuang plastik tanpa kendali, laut dalam akan terus menjadi gudang sampah tak terlihat. Tapi jika kita memilih untuk berubah mengurangi plastik sekali pakai, mengelola sampah dengan benar, dan menjaga alat tangkap agar tidak hilang di laut maka mungkin, suatu hari nanti, barnakel di kedalaman 200 meter hanya akan menyimpan jejak plankton, bukan plastik.
Sumber : https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/15275922.2025.2539678
