Konten dari Pengguna

Kisah Haydar, Hafizh Qur'an Penyandang Tuna Rungu

Cerita Santri

Cerita Santriverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cerita Santri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah Haydar, Hafizh Qur'an Penyandang Tuna Rungu
zoom-in-whitePerbesar

Keterbatasaan bukan halangan bagi Ali Haydar Altway untuk meghafal Al-Qur’an. Bahkan, di tengah kondisi pendengarannya yang dibantu implan koklea, Haydar, sapaannya, mampu meraih prestasi yang membanggakan. Bukan hanya untuk dirinya dan keluarga, tapi sekaligus jadi inspirasi untuk masyarakat Indonesia.

Alumi Sekolah Menegah Pertama (SMP) Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ungaran ini diundang ke gedung Museum Rekor Indonesia (MURI) Semarang, Kamis 2 Juli 2020 lalu untuk menerima penghargaan sebagai penyintas tuna rungu yang berhasil menghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Jerih payahnya mondok selama 3 tahun di tingkat SMP dan 4 tahun di tingkat SMA, terbayar lunas.

Haydar adalah anak dari pasangan orangtua Ahmad Rifqy dan Nadiya asal Surabaya. Keduanya turut hadir dalam upacara penganugerahan tersebut. Harapannya, kata sang ayah, prestasi ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi buat semua orangtua anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya anak yang terlahir tuna rungu.

“Tugas kita sebagai orangtua berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik. Yang dinilai Allah SWT adalah usaha kita. Hasil kita pasrahkan kepada-Nya, karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT berkendak,” tukasnya.

Penghargaan diberikan oleh perwakilan MURI, Ari Andriani. Menurutnya, apa yang diraih Haydar perlu diapresiasi agar jadi motivasi bagi penyandang disabilitas lain khususnya dalam menghafal Al-Qur’an. Karena lewat Al-Qur’an juga lah muncul berbagai macam keberkahan. Sehingga, kondisi saat ini bukanlah halangan untuk bersyukur dan bekerja keras.

Haydar yang juga kerap diminta mengisi berbagai kegiatan penyandang disabilitas untuk memberikan motivasi tentu amat bersyukur dengan prestasi ini. Selain itu, ia juga membawa misi tersendiri.

“Penghargaan ini saya dedikasikan kepada semua anak disabilitas khususnya tuna rungu, untuk mendapatkan tempat yang sejajar di masyarakat dan mempunyai kualitas hidup yang lebih baik,” kata Haydar.

Sejatinya, Rekor Muri ini bukanlah pencapaian pertama Haydar. Ia sudah sering mendapatkan penghargaan hingga banyak menginspirasi lewat forum-forum, baik untuk orangtua yang semangatnya menurun karena mendengar si anak punya keterbatasan seperti Haydar, maupun para penderita tuna rungu untuk terus belajar dan mampu mengikuti langkahnya.

“Saya selalu bilang pada mereka, jangan mau seperti saya, tapi harus bisa lebih baik dari saya,” ujar Haydar penuh semangat dalam wawancara via telfon.

Di tahun 2019, Komisi Nasional Penanganan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) di bawah Kementerian Kesehatan menobatkan 11 orang role model tuna rungu Indonesia, salah satunya Haydar. Ia bersanding dengan salah satu staf khusus presiden saat ini yang juga penyandang tuna rungu, Angkie Yudistia. Kesebelas orang tersebut juga mengikuti Sound Hearing World Congress di Bali, bulan Februari tahun 2019.

Masih di tahun yang sama, tepatnya di bulan November, Haydar kembali mengikuti kongres internasional. Kali ini ia menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam acara International Congress Deaf Muslims yang digelar di Jakarta.

Mondok di Daqu Membentuk Pondasi dalam Menghafalkan Al-Qur’an

Haydar telah banyak berkeliling Indonesia untuk memberikan motivasi, di antaranya ke Balikpapan, Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, kegiatan tersebut kerap tak terlaksana ataupun diaksanakan secara daring. “Pada saat di Daqu pun Haydar sering ijin karena ada undangan. Dan Alhamdulillah diizinin sama pondok selama kita bisa nunjukkin suratnya,” kenang ayah Haydar kala itu.

Sang ayah mengaku, kesempatan yang Allah berikan pada Haydar untuk mampu menghafalkan Qur’an terpupuk kala Haydar mondok di Pesantren Daqu Ungaran. Pola menghafal yang Haydar punya pun timbul kala mondok di sana. Pasalnya, sebelumnya Haydar belum punya hafalan Qur’an sama sekali.

Haydar sendiri pula lah yang ingin mondok di sana. Kala itu, cerita sang ayah lagi, Haydar ingin didaftarkan di Pesantren Daqu pusat yang ada di Tangerang. Izin Allah pendaftarannya sudah tutup. Sampai akhirnya Haydar disarankan untuk mendaftar di Pesantren Daqu Ungaran yang waktu itu baru pertama kali menerima pendaftaran santri.

“Waktu itu belum ada tol. Dari sini (Surabaya) sekitar 8 jam. Kalau ke Jakarta lebih jauh lagi. Jadi menurut saya cukup masuk akal (untuk mendaftarkan Haydar di Pesantren Daqu Ungaran),” ungkap ayah Haydar mengenang perjuangannya untuk menyekolahkan anaknya di pesantren.

Pola hafalan yang dimaksud dijelaskan Haydar lebih rinci. “Pertama dibaca berulang-ulang dulu hingga lancar. Kemudian mulai menghafalkan,” kata anak yang gemar membaca buku ini. “Kalau suratnya panjang, bisa dibagi 2 dulu atau dibagi 3 dulu menghafalnya,” imbuhnya. Sang ayah pun menambahkan, pola itu semakin menunjukkan pengaruhnya pada Haydar setelah 1,5 tahun sang anak mondok.

Keisengan teman-temannya di pondok tak menyurutkan semangat Haydar dalam menghafal. Bahkan ia mengaku tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an meski ada saja yang gemar mengganggunya. Bagi Haydar, lingkungan pesantren bagaimanapun keadannya, adalah tempat paling kondusif utuk menghafal Al-Qur’an.

Haydar selalu teringat ucapan salah satu asatidz di sana, yakni Ustadz Yasa. “Nanti para penghafal Al-Qur’an akan berkumpul bersama di surga. Jadi saya gak mau menyiaka-nyiakan kesempatan itu,” terangnya mengikuti ucapan sang guru.  

Kegigihannya membuahkan hafalan sebanyak 8 juz saat lulus dari Pesantren Daqu Ungaran. Hingga akhirnya anak sulung yang tengah menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya ini mampu mengafal seluruh isi Al-Qur’an. Rekor Muri yang ia terima hanyalah segelintir keberkahan yang Allah berikan. Lebih dari itu, kelapangan hidup dan keluasan rezeki amat terasa di dalam kesehariannya.

Berjuang dengan Keterbatasan Pendengaran

Kisah Haydar bermula saat usianya belum genap satu tahun. Berawal dari kecurigaan kedua orangtuanya karena suara petasan saat malam Idul Fitri di tahun 2001 tak membuat Haydar kecil bangun dari tidurnya sementara sepupunya yang lain terbangun dan menangis.

Setelah Haydar genap berusia satu tahun, orangtua Haydar akhirnya membawa ia ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Hasilnya, Haydar dinyatakan mengalami gangguan pendengaran berat dan hanya bisa mendengar di ambang 110 desibel, atau setara suara deru pesawat terbang dari jarak 10 meter. “Haydar hanya mendengar dengan satu telinga saja,” terang sang ayah.

Haydar kecil tak bisa langsung melakukan operasi, untuk sementara pendengarannya dibantu menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD). Informasi mengenai Cochlear Implant (CI) dari tim dokter THT Singapore General Hospital yang sedang berkunjung ke Surabaya akhirnya jadi jalan Haydar untuk melakukan operasi.

Saat itu, operasi tersebut masih belum bisa dilakukan di Indonesia hingga Haydar harus melakukannya di Singapura. Operasi tersebut pun dilakukan tanggal 28 Februari 2005. “Haydar menyelesaikan program belajar terapi di Singapura selama 1,5 tahun dengan perkembangan luar biasa,” jelas ayah Haydar.

Kala dirinya mendaftar sebagai angkatan pertama Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Ungaran, sang ayah mengisahkan bahwa saat itu para asatidz yang menguji Haydar tak mengetahui kekurangan Haydar itu. “Waktu itu Ustadz Rahmat Arif yang menguji. Setelah semua rangkain tes selesai baru kami cerita bahwa Haydar punya kekurangan. Beliaupun bilang ‘Oh gitu ya? Yaudah saya lapor dulu ya ke Jakarta (Tangerang),” cerita sang ayah.

Tuna rungu yang diidap Haydar terjadi salah satunya karena virus Rubella yang menyerang sang ibu. Ketika terjangkit dalam kondisi hamil, rubella juga dapat mempengaruhi kesehatan sang janin. Efeknya bisa seperti yang dirasakan Haydar, bahkan hingga menyebabkan kebocoran jantung.

Kisah kebocoran jantung itu juga pernah didengar Haydar dari salah satu orangtua yang curhat kala ia mengisi sebuah seminar motivasi. “Maka itu saya juga masih sangat bersyukur, istilahnya ‘hanya’ seperti ini. Maka jangan pernah melihat di atas terus, harus lihat ke bawah,” terangnya.

Kemampuan Haydar menghafal Al-Qur’an yang diberikan Allah SWT amat disyukuri kedua orangtuanya. Hal itu juga jadi motivasi bahwa Al-Quran itu mudah untuk dihafalkan. Bahkan jadi tamparan buat kita yang diberikan kondisi fisik sempurna oleh Allah SWT. Bahwa keterbatasan yang dialami Haydar tak menyurutkan niatnya untuk menghafal Al-Qur’an hingga berhasil. Sementara, banyak umat muslim yang sempurna secara fisik masih enggan untuk mendawamkan kalamullah.

Memiliki seorang anak yang hafal Al-Qur’an jauh lebih berharga daripada harta yang sang ayah keluarkan untuk pendidikan anaknya. “Harta yang dikeluarkan itu gak ada apa-apanya, bahkan ketika anak kita bisa menghafal 1 juz saja,” ucap ayah Haydar.

Untuk para orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya di pondok, ayah Haydar pun punya tips, “Anak kalau mondok jangan dipaksakan, akhirnya nanti malah dipikirkan terus. Anaknya juga nanti kalau ada masalah malah pikirannya rumah terus. Jadi, ikhlaskan.”

Jangan pernah melupakan jasa para asatidz adalah pesan yang selalu ayah Haydar sampaikan pada anaknya itu. Dengan takzim, Haydar menuruti pesan itu. Tugas Haydar selanjutnya adalah mengimplementasikan apa yang sudah ia hafal sembari terus menjaganya. Ia pun terus menyemangati bagi siapa saja yang tengah mendawamkan Al-Qur’an.

“Jangan menyerah, berjuang terus sampai habis,” tegasnya.

Kisah Haydar juga dihimpun dari berbagai sumber:

1. https://azizaku.com/2017/10/11/kisah-inspiratif-gangguan-pendengaran-tak-menghalangi-haydar-jadi-penghafal-al-quran/

2. https://azizaku.com/2020/07/06/haydar-santri-tuna-rungu-pemakai-implan-koklea-hafal-30-juz-al-quran/

3. http://muri.org/penyintas-tunarungu-pertama-penghafal-al-quran/