Kumparan Logo
Konten Media Partner

Cerita Budi Membangun Pasar di Kota Ternate

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Risval Tri Budiyanto, Kadis PUPR Kota Ternate
zoom-in-whitePerbesar
Risval Tri Budiyanto, Kadis PUPR Kota Ternate

Bagi Budi, pasar tidak sekadar tempat transaksi antara pembeli dan penjual. Pasar adalah wajah kota. Secara infrastrukur, harus memadai dan membuat orang nyaman ketika berada di pasar.

Pada Mei pekan kemarin, cermat berkesempatan berbincang dengan Budi, sapaan akrab Risval Tri Budiyanto, Kadis PUPR Kota Ternate, di kediamannya. Budi bercerita, awalnya ia diberikan tanggung jawab membangun pasar yang tepat berada di jantung Kota Ternate, yakni pasar Higienis Kota Ternate.

“Saya pertama masuk ke PUPR Ternate itu langsung memegang kegiatan cukup fantastik. Nilainya Rp 19 miliar untuk membangun Pasar Higienis di tahun 2011 hingga 2013,” ungkap Budi.

Dokumentasi Pasar Higienis Kota Ternate setelah selesai dibangun. Foto: PUPR Kota Ternate

Saat itu, Budi memegang jabatan sebagai Kepala Seksi Fungsional Proyek Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yang menandatangani kontrak--bertanggungjawab penuh terhadap kontrak proyek yang dijalankan. Tanggungjawab PPK pada kegiatan katanya, melampaui tanggungjawab kepala dinas pada kegiatan.

Budi bercerita, awal masuk di PUPR Ternate pada Desember 2010, pindah dari Inspektorat Kota Ternate. Perjalanannya cukup panjang hingga menduduki posisi sebagai kepala dinas.

Sedari awal, ia sudah ditugaskan untuk membangun infrastruktur, yang hampir semua adalah pembangunan pasar. Saat itu ia menduduki Kepala Seksi Jasa Konstruksi, salah satu seksi di bawah bidang Bangunan Gedung dan Jasa Konstruksi.

Pedagang ikan asap di Pasar Higienis Kota Ternate. Foto: Faris Bobero/cermat

Tiga tahun berjalan, ia pindah ke Seksi Pembangunan Gedung, termasuk Kabid Cipta Karya pada tahun 2014. Di situ, ia juga menjabat sebagai Kasatker--salah satu fungsional kegiatan program pemberdayaan yakni PNPM mandiri Kota Ternate. Hingga pada tahun 2015, tepatnya 5 Oktober 2015 ia diangkat sebagai Plt. Kepala Dinas PUPR Kota Ternate. Baru pada tahun 2019, ia dilantik sebagai kepada definitif PUPR Kota Ternate.

“Saya yang awalnya tidak punya modal apa-apa melakukan manajemen satu kegiatan konstruksi, apa lagi konstruksi yang nilainya cukup fantastis Rp15 miliar untuk multiyears dan ada tambahan Rp4 miliar untuk penataan halaman parkirnya. was-was juga diawal kegiatan, namun alhamdulillah beban tanggung jawab itu bisa ditunaikan, karena bangunan itu selesai bahkan diresmikan oleh Gita Wirjawan yang saat itu menjabat Menteri Perdagangan di era Presiden SBY. Menteri pun meresmikan pasar Higienis dan langsung melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan pasar sisi selatan, yakni Pasar Percontohan,” ungkap Budi.

“Jadi perjalanan saya untuk proyek ini sangat menarik karena saya (awalnya) tidak terbiasa dengan kegiatan manajemen proyek. selama ini hanya mengenal teori. Itu mungkin saya hanya dapatkan di bangku perkuliahan, ada (mata kuliah) manajemen proyek,” katanya.

Namun, kata Budi, dalam prakteknya sangat berbeda, karena selain teknis juga dituntut menghadapi multi type karakter kontraktor, konsultan dan staf teknis yang cukup banyak dalam satu kesatuan tim pembangunan.

Budi bilang, setelah masuk ke PUPR, membangun Pasar Higienis adalah tantangan pertamanya. Selain itu, pembangunan pasar tersebut adalah kegiatan dengan nilai terbesar di tahun tersebut.

Pembangunan pasar Percontohan 2014. Foto: PUPR Kota Ternate

Setelah dari Pasar Higienis, Budi kemudian memegang proyek pembangunan Rumah Toko (Ruko) di depan Taman Nukila. semuanya berjumlah empat blok ruko, Saat itu ia sebagai PPK juga. Ruko yang dibangun: 1 di bagian selatan dan satunya di bagian utara. Tahap pertama pembanguan Ruko di bagian selatan memakan anggaran kurang lebih Rp7,5 miliar. Begitu juga Ruko di bagian utara Rp 7,5 miliar.

“Anggaran sebesar itu karena ada penimbunan material, dulunya kawasan itu kumuh sekali” katanya.

Belum selesai pembangunan ruko, muncul lagi satu kegiatan, pembangunan ruko selatan 2 dan ruko utara 2. Pembangunan itu baru selesai pada tahun 2014.

Setelah itu, membangun pasar percontohan tahun 2015. Saat itu pembangunannya melekat di Disperindag Kota Ternate yang masih dipimpin oleh Arif Gani. “Saya sebagai Tim Bantuan Teknis yang bertugas memberi memberikan masukan teknis kegitan di Disperindag agar infrastruktur pembangunan sesuai dengan manajerial tatakelola pasar,” kata Budi.

kumparan post embed

Selain itu, harus membangun sinergi antar Pasar Higienis dan Pasar Percontohan di sebelah selatan agar jadi satu konektivitas dalam satu kawasan. Olehnya itu, Budi dilibatkan pada tahun 2014. Pembangunan pasar percontohan pun bersamaan dengan Pasar Dufa-dufa, yang nilanya kurang lebih sekitar Rp 4 miliar.

Bangunan Pasar Percontohan itu, katanya dari dana perbantuan Kementerian Perdagangan kurang lebih Rp 10 miliar. Dari pembangunan tersebut, Budi mulai terlibat membangun komunikasi dengan Kementerian Perdagangan yang saat itu getol merevitalisasi pasar-pasar tradisional Indonesia.

kumparan post embed

“Dari situ kita bisa membuat proposal yang masuk ke Kementerian Perdagangan khususnya untuk dana alokasi dan lainnya, walaupun tugas dan fungsi saya hanya di PUPR tapi keterhubungan kita, komunikasi kita dengan teman-teman kementerian yang begitu bagus akhirnya itu berdampak pada tahun 2017, Kota Ternate menerima DAK (Dana Alokasi Khusus) bidang perdagangan kurang lebih Rp 50 miliar,” ungkapnya.

Akhirnya, pada tahun 2017, Ternate menjadi salah satu dari 3 kota yang menerima DAK Rp 50 miliar. Itu adalah penerimaan DAK terbesar di Indonesia “Dan itu adalah titik awal pembangunan pasar Gamalama Modern yang sekarang,” tambahnya.

Katanya, untuk mendapatkan DAK tidak mudah. DAK adalah wajib, jika daerah dapat memenuhi segala administrasi kebutuhan infrastruktur pasar. “Maka, akan diminta administrasi kegiatan jadi wajib di update jika ada permintaan kebutuhan data dan lainya,” ujarnya.

Tahun 2015, Budi selaku pengguna anggaran di Pasar Barito di samping selatan Pasar Percontohan. Saat itu ada saran agar di sini akan bekas pasar kebakaran. Makanya mau dibuat pasar trasinional, yang khusus untuk penjual bawang, rica, tomat (barito). Banyak yang bertanya bagimana disain pasar itu yang cukup berbeda dengan pasar yang lain di Maluku Utara.

Katanya, pembangunan pasar di Ternate cukup modern dengan pasar yang ada di daerah lain di Maluku Utara. Saat itu Budi memberi tantangan para konsultan bahkan staf PUPR, bagaimana membangun bangunan pasar yang tampilannya tidak lagi konfensional.

“Yang kita inginkan adalah kaya akan fungsional tanpa meninggalkan budaya. Makanya muncul disain yang unik, misalnya dimulai dari Pasar Higienis. Adalah pasar yang penyatuan antara pasar modern dan kultur Kota Ternate. Masih menggunakan atap tradisional, bahannya modern.

Pengalaman saat pembangunan atap Pasar Higineis yang nilainya cukup mahal menggunakan design atap, Budi mencari cara, membuat atap yang anggarannya tidak begitu mahal namun kaya akan fungsi. dari situlah muncul disain minimalis yakni satu atap miring. Tidak lagi membuat atap model tutup saji yang menguras banyak angaran.

"Dan point yang paling penting adalah keleluasaan dari Wali Kota Ternate yang memberi ruang untuk kami di PUPR memberikan design yang tidak lagi konvensional dan Beliau sangat mendukung itu," katanya.

Saat itu, Budi bilang, Wali Kota Ternate berpesan kepadanya saat turun ke lokasi pasar. "Budi, kalo ngoni biking [kalau kalian bikin] pasar, gedung, dan lain-lain, ketika orang liat saja langsung orang itu tersenyum karena bangunan itu menarik, bersih, dan bagus saja itu ngoni so dapat amal," ungkapan Wali Kota Ternate pada Budi yang selalu diingan sebagai pesan-amanah.

Setelah pembangunan Pasar Barito, Budi pun membangun pasar yang dinamakan Teras Gamalama. Pasar tersebut dipersiapkan untuk relokasi para tukang jahit yang awalnya berada di Pasar Gamalama. “Pasar itu dibangun sebelum relokasi para penjahit dari Pasar Gamalama,” ungkapnya.

"Jadi memang terencana walaupun step by step namun skema rencana atau blue print penataan itu sudah kami siapkan sejak awal. Setelah para penjahit dipindahkan, barulah dilakukan renovasi Pasar Gamalama," ungkapnya.

Ketika ditanya soal kenapa membangun pasar? Budi bilang, Ternate telah berubah dari kota yang awalnya kota pertanian penghasil cengkeh, pala, dan lainnya, berubah menjadi kota jasa, dan pembangunan infrastruktur pasar ini adalah cara untuk meningkatkan PAD Kota Ternate.

Budi berkisah, pada tahun 2010, ia pergi ke pasar di Ternate, orang-orang masih menggulung bagian kaki celana panjang. waktu itu pasar ikan letaknya masih di sisi barat terminal. "Pasar masih identik dengan kotor, bau amis. Olehnya itu, pasar harus direvitalisasi, membuat orang nyaman. Sebab ketika orang sampai di satu daerah, orang akan bertanya di mana pasarnya," ujarnya.

"Tanpa infrastruktur yang baik, sebagus apapun manajemen tata kelola, perilaku pedagang yang diciptakan kalau infrastrukturnya kurang mendukung, saya rasa itu suatu hal yang mustahil," ujarnya.

Selain itu, kata Budi, pasar di Ternate sekarang ini dari sisi bangunannya sudah cukup memadai, kita tak lagi kalah dengan kota lain di Indonesia namun butuh pengelolaan, penataan manajerial yang baik, sebab pasar adalah wajah kota itu sendiri.

"Jika pasar masih semerawut berarti masih ada kebijakan yang semrawat pula. Ternate sudah harus menuju ke sana: membenah hal manajemen pasar," ujarnya. dari bangunan yang konvensional kita menuju ke bangunan modern otomatis manajemen pengelolaan pun harus berbenah ke modern.

kumparan post embed

Budi mencontohkan, secara tata ruang pasar sudah diatur di mana lokasi tempat penjual ikan, barito, dan buah-buahan. Namun, saat ini masih saja semrawut. Lokasi penjualan Baroto ada penjual pakaian, penjulana buah tercampur dengan lapak penjual handphone, dan lain sebagainya. Padahal sudah ada di atas 200an blok yang dibangun, namun masih saja ada yang kosong. Ada pula yang berjualan di jalan.

"Artinya ini belum maksimal. Namun, saya tetap optimis kita akan menuju kesana, butuh waktu memang dalam merubah pola,".

Dari sisi aksitektur, pasar di Ternate sudah cukup mumpuni dibandingkan dengan pasar yang ada di Maluku Utara bahkan pasar di kota lain, Makassar atau Manado misalnya. Olehnya itu, Ternate cukup maju di bidang infrastruktur pasar, sudah cukup modern.

"Sisa bagaimana sistem membuat blok pedagang ini harus tertata, rapi tidak bisa lagi kita bercampur baur," tambahnya. Katanya, kita bisa belajar dari sejarah Pasar Gamalama. Setiap orang akan tahu, jika mau mencari tukang jahit, ada di sana.

Pasar Gamalama

Sebelumnya, revitalisasi Pasar Gamalama menuai polemik. Tidak sedikit yang memprotes dengan alasan bahwa pasar tersebut adalah situs sejarah.

Ketika ditanya terkait polemik dan tanggapan publik, Budi bilang, segala sesuatu yang dilakukan tentu ada kontroversial. Hal itu bukan saja terjadi di Ternate. "Di mana kebijakan publik yang diambil tidak ada pro kontra? Pasti ada," katanya.

"Banyak yang protes itu tujuannya baik, berarti banyak yang menginginkan pembangunan itu diarahkan agar lebih baik. Saya pun demikian, ingin membangun Ternate ke arah yang lebih baik. hanya saja, cara kita yang berbeda," ujarnya.

Budi memang agak berbeda dalam menyikapi hal yang tidak sepaham, protes dan sebagainya itu normatif baginya. "Artinya, kinerja kita selalu dilihat, diawasi, hingga kita harus mawas diri dan semuanya harus mengedepankan aturan yang berlaku," katanya.

Pihaknya mengambil keputuan untuk revitalisasi Pasar Gamalama sebab ada kesejarahan perdagangan pertama di Maluku Utara.

"Namun, bagaimana mengembalikan sejarah ini yang paling penting. Ini yang tidak dipikirkan mengembalikan kejayaan Pasar Gamalama di era milenial. Tidak mungkin Pasar Gamalama bisa berjaya dengan bentuk yang masih seperti itu saja," ujarnya.

Pasar Gamalama sebelum direvitalisasi. Foto: Ivan Dahlan/jalamalut

Ia menjelaskan, saat itu bangunan depan Pasar Gamalama bisa menampung kurang lebih 30 los/kios yang ada. Namun, karena faktor usia, bangunan belakang Pasar Gamalama sekira 80 kios tak dapat berfungsi lagi, akibat retak. Sebab, belakang pasar itu adalah pesisir pantai saat itu. Bangunannya mulai ambruk. Butuh direvitalisasi hingga menjadi satu kesatuan pasar.

Rencananya Pasar Gamalama nanti sampai di sisi timur sehingga mencapai target bangunan infrastruktur sarana perdagangan yang ada. Bangunan tersebut juga multifunsi yakni berfungsi sebagai casing menutupi areal yang semrawut dan tak layak keliatan dari badan jalan apalagi ini di tengah kota.

"Tak mungkin jika tidak direvitalisasi lagi. Sebab, sebagian besar bangunan tidak layak huni dan jangan lupa kalau Pasar Gamalama itu pernah mengalami bencana kebakaran yang sudah tentu cukup berbahaya dari sisi konstruksi karena kita berada di zona gempa ungkapnya," ungkapnya.

Sebelum revitalisasi, pihanya telah melakukan penelitian uji struktur bahwa bangunan Pasar Gamalama ini kalau ditambah 1 atau 2 lantai tidak akan bisa menampung, bagaiamana membuat tambahan 2 atau 3 lantai lagi, maka harus dengan cara pembongkaran.

Budi pun menanggapi bahwa bangunan tersebut adalah situs sejarah yang tak boleh dibongkar. Katanya, pemerintah Kota Ternate juga punya OPD yang membidangi tupoksi tentang sejarah, "Dan saya rasa pemkot takakan mungkin melakukan hal tersebut dan seceroboh itu membongkar situs bersejarah," jelas Budi.

Budi bilang, tahap awal revitalisasi pembanguan Pasar Gamalama dana awalnya bersumber dar DAK 2017 Rp 20 miliar. Tahap kedua dar DAU Rp3,5 miliar, tahap ketiga masuk dalam multiyears Rp70 miliar. "Jadi totalnya ada Rp93,5 miliar," kataya.

Sebelumnya, bangunan Pasar Gamalama ditargetkan rampung pada Desember tahun ini. Namun, pandemi COVID-19 melanda. tahapan pembangunan pun terhambat karena Pasar Gamalama ini beberapa pelengkapnya adalah barang pabrikasi import, lift, escalator tak dijual bebas, semuanya harus indent pabrikan.

"Apakah kami nanti akan mundur dari jadwal yang ditentukan? Waktu yang nanti akan menjawabnya namun kami PUPR Ternate tetap optimis dan terus berupaya menampilkan performa terbaik di penghujung masa jabatan Wali Kota Ternate ini, kami juga butuh masukan dan dukungan moril serta doa dari masyarakat agar bisa selesai tepat pada waktunya. Semoga. Amiiin,".