Kumparan Logo
Konten Media Partner

Ibu-ibu di Sula Kecewa Karya Tak Laku di FTW, Disperindagkop: Miskomunikasi

Cermatverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah ibu-ibu pengrajin anyaman rotan asal Desa Waigai, yang kecewa karena hasil karyanya tak laku di Festival Tanjung Waka, Kabupaten Kepulauan Sula. Foto: tangkapan layar video viral.
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah ibu-ibu pengrajin anyaman rotan asal Desa Waigai, yang kecewa karena hasil karyanya tak laku di Festival Tanjung Waka, Kabupaten Kepulauan Sula. Foto: tangkapan layar video viral.

Di tengah kemeriahan Festival Tanjung Waka (FTW) di Kabupaten Kepulauan Sula, muncul video pendek yang memperlihatkan curahan hati para ibu-ibu.

Dalam video berdurasi 2:51 detik itu, ibu-ibu pengrajin anyaman rotan asal Desa Waigai, Kecamatan Sulabesi Selatan, terlihat kecewa karena hasil karyanya tidak laku terjual.

Menanggapi video yang viral di media sosial itu, Kadisperindagkop Kepulauan Sula, Djena Tidore mengatakan, ada miskomunikasi antara pengrajin dan panitia FTW.

"Acaranya masih berjalan dan tidak ada arahan untuk pelaku UMKM pulang," kata Djena kepada cermat, Rabu (30/3).

Djena mengaku sudah menyampaikan ke para pelaku UMKM tersebut, untuk mengikuti pembukaan FTW hingga selesai, agar hasil karyanya dibeli pengunjung.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kepulauan Sula, Djena Tidore. Foto: Iwan/cermat

Ia mencontohkan, seperti misalnya stand UMKM di Desa Pasipa yang menjual anyaman keranjang dari bambu dan rotan, serta Desa Bega untuk anyaman topi dari tikar.

"Dua stand UMKM itu hasil karyanya sudah terjual habis pada hari kedua FTW," katanya.

Ia mengaku sudah berkomunikasi dengan ibu-ibu pelaku UMKM dari Desa Waigai tersebut, untuk membawa kembali hasil karyanya di lokasi acara.

"Allahmdulillah, mereka pun membawa kembali anyamannya di stand UMKM, lokasi FTW berlangsung," katanya.

Bahkan sesuai arahan Bupati Kepulauan Sula, Fifian Adeningsih Mus, hasil karya ibu-ibu Desa Waigai itu langsung dibeli.

"Saya bayar semua hasil karya anyamannya itu, supaya tidak ada lagi masalah," tutupnya.

---

Iwan