Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jou Kolano Uci Sabea, Tradisi Malam Lailatul Qadar di Ternate

Cermatverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, duduk di atas kursi dan ditandu para doi-doi dalam ritual Kolano Uci Sabea se Kabasarang. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, duduk di atas kursi dan ditandu para doi-doi dalam ritual Kolano Uci Sabea se Kabasarang. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Aroma getah damar yang dibakar di atas pohon pisang menyergap hidung.

Ini sebagai penanda datangnya malam Lailatul Qadar. Orang Ternate menyebutnya malam ela-ela.

Malam itu, Kamis (28/4) sekira pukul 18.50 WIT, sejumlah perangkat adat hingga masyarakat biasa, mulai berkumpul di halaman Kedaton Kesultanan Ternate.

Mereka ingin menyaksikan prosesi Jou Kolano Uci Sabea atau Sultan Turun Salat, salah satu tradisi yang mengakar lama di Kesultanan Ternate.

Letnan Alfiris, Ronny M. Saleh, mengatakan prosesi ini sempat vakum 7 tahun sejak Sultan Ternate ke-48, Mudaffar Sjah, meninggal dunia.

"Jadi ketika hadir Sultan ke 49, Hidayatullah Sjah, prosesi ini akhirnya dilaksanakan kembali," ucap pengawal sultan ini.

Sebelumnya, kata Ronny, prosesi Jou Kolano Uci Sabea dilaksanakan di malam qunut atau hari ke 16 Ramadhan. "Dan ini setiap tahun," tandasnya.

Sesaat kemudian, para bobato akhirat yang terdiri dari para imam, tiba di kedaton. Mereka hadir menyampaikan, bahwa Salat Isya dan Tarawih siap dilaksanakan.

Sultan Ternate, Hidayatullah Sjah, didampingi Wali Kota Ternate, Tauhid Soleman, beserta perangkat adat Kesultanan Ternate, saat membakar obor di halaman depan kedaton. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Seketika, mulai terdengar suara dentingan gamelan dan gong memecah hening, penuh hikmat menghiasi prosesi ini.

Dari atas balakun atau balkon kedaton, tampak 12 anak laki-laki berusia belasan tahun, beriringan menuruni tangga kedaton.

Mereka berpakaian serba putih dengan ikat kepala hitam yang disebut lastar. Jumlah mereka berdasarkan hitungan tahun Hijriyah.

Morinyo Kie, Abdul Gani Mustari, yang memimpin 12 anak-anak tersebut, menjelaskan para bocah ini bertugas membawa perangkat Kabasarang Kolano.

"Seperti Bendera Goheba Dopolo Romdidi, topi tembaga, pedang, salawaku, dan tongkat," ujarnya.

12 anak laki-laki atau Ngungare Ici dipimpin Murinyo Kie saat membawa Kabasarang Kolano dalam ritual Kolano Uci Sabea. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Setelah 12 bocah, lalu diikuti para imam dengan bunga lilin di tangan, serta perangkat adat dan sultan, diikuti bala atau rakyat.

Sang sultan lalu diarak ke Sigi Lamo atau Masjid Besar Kesultanan menunaikan Salat Isya dan Tarawih yang dipimpin Jo Qalem, atau imam tertinggi Kesultanan Ternate, Hidayatussalam Sehan.

Bertugas menandu sang sultan hingga ke masjid disebut Doi-Doi. Mereka dipimpin oleh Kiemalaha Doi, Madjid Husain.

Kepada cermat, Madjid menjelaskan kursi tandu yang diduduki sultan terdapat 4 lubang. "Dua di kiri dan 2 di kanan," katanya.

Ia bilang, lubang itu dimasukan kayu yang nantinya diletakkan di bahu orang yang bertugas menandu.

"Yang lain menyesuaikan dengan panjang kayu yang disebut doi," jelasnya.

Iring-iringan ini didahului 12 bocah pembawa Kabasarang Kolano, disusul kelompok penabuh gamelan.

Kemudian pemandu sultan dan pengawal yang berada di sisi kiri dan kanan jalan, serta para imam dan masyarakat di posisi belakang.

Ketika sultan dan rombongan berada di dalam masjid, 12 bocah pembawa perangkat tadi, mengambil posisi di kiri dan kanan beranda masjid.

Mereka duduk berjejer dan tetap memegang perangkat Kabasarang Kolano hingga selesai salat. Sementara, di dalam masjid, sultan menempati sisi kanan shaf depan.

Suasana di dalam Sigi Lamo atau Masjid Besar Kesultanan Ternate. Tampak 4 Modim atau Muadzin mengumandangkan adzan, sebelum pelaksanaan Salat Isya. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Sesaat kemudian, 4 orang modim atau muadzin mengambil posisi berjejer di tengah, tepat di bawah tiang alif atau tiang tunggal menara masjid dan mengumandangkan adzan seperti biasa.

Ketika sultan dan seluruh jemaah melaksanakan salat, terdapat beberapa kelompok pria dengan kostum dan ikat kepala serba hitam, berdiri di depan gerbang utama masjid.

Mereka adalah kalangan Nasrani dari Soa Tabanga. Salah satu Soa atau marga tertua di Ternate selain Soa Tobona, Tubo, dan Tubuleu.

Kapita Tabanga atau pemimpin Soa Tabanga, Nyong Ali, menjelaskan kehadiran Soa Tabanga hanya di 4 hari besar umat Islam.

"Seperti malam qunut, lailatul qadar, idul fitri dan idul adha. Kecuali Salat Jumat," jelasnya.

Menurut Nyong, di mana ada Kolano atau Sultan, di situ ada Soa Tabanga.

"Apa pun yang terjadi. Intinya, kita harus pastikan Sultan tiba di masjid dengan lancar," tegasnya.

Setelah melaksanakan salat Isya dan Tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat salat qunut, rombongan pun kembali ke kedaton, dalam prosesi yang sama dengan kedatangan.

Ribuan masyarakat Ternate mengikuti iring-iringan prosesi Kolano Uci Sabea. Foto: Nurkholis Lamaau/cermat

Terlihat, ratusan masyarakat ikut bergabung dalam iring-iringan rombongan, hingga tiba di tangga kedaton.

Mereka tak henti-henti mengarahkan kamera ponsel ke sang sultan yang tengah ditandu.

Tuli Lamo Kesultanan Ternate, Irwan Abdul Gani, menjelaskan, ritual Kolano Uci Sabea dilaksanakan 4 kali dalam setahun.

"Malam qunut, malam lailatul qadar, salat idul fitri dan idul adha," singkat juru tulis kesultanan ini.