Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kartini, Si Pencuci Sepatu di Ternate Raup Rp 15 Juta Tiap Bulannya

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kartini S Hasan. Foto: Gustam Jambu/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Kartini S Hasan. Foto: Gustam Jambu/cermat

Dua pasang sepatu kesayangan beda warna telah mengubah jalan hidup Kartini S Hasan, perempuan muda yang kini membuka dua cabang usaha cuci sepatu di Ternate, Maluku Utara. Kini, dalam sebulan, Ia bisa meraup keuntungan Rp 15 juta.

Kartini mengisahkan, dua tahun lalu, ia membeli dua pasang sepatu: merah dan biru. “Itu sepatu kesayangan saya,” kata perempuan yang lahir di Desa Malifut, tahun 1992 itu.

“Suatu hari, ponakan saya pinjam sepatu biru. Ia pakai pergi nonton pertandingan sepak bola. Karena hari itu hujan, sepatu itu penuh lumpur”. Kartini menahan geram. Ponakannya kemudian mencuci sepatu itu memakai detergen. Hasilnya, warna sepatu pudar. Kartini naik pitam. Namun nasi telah menjadi bubur. Sepatu kesayangan tak lagi seperti yang diharapkan.

video youtube embed

Namun, Kartini terus mencoba mencari cara agar pengalaman pahit itu tak terjadi pada sepatu merah. Ia lalu menelusuri cara mengembalikan warna sepatu lewat google.

“Ternyata, ada di youtube. Bahkan, saya baru tahu kalau ada cairan khusus untuk mencuci sepatu” kata Tini, panggilan akrab Kartini.

Dari situ, ia tahu—ada cairan khusus untuk mencuci sepatu hingga mengembalikan warna sepatu. “Bahkan untuk parfum khusus sepatu. Jadi, kalau pakai parfum biasa, itu malahan membuat kaki kita berbau tak sedap,” ungkapnya.

Kartini saat berada di distro miliknya di Kelurahan Sangaji, Ternate Utara. Foto: Gustam Jambu/cermat

Tini pun memesan cairan khusus sepatu seharga Rp143 ribu. Satu botol cairan, bisa membersihkan 70 hingga 100 pasang sepatu.

Tak ingin cairan itu mubazir, Tini mencoba membuka jasa cuci sepatu lewat instagram. Ia kerjakan sendiri di rumah.

Semakin hari peminat bertambah. Ia pun memikirkan untuk membuka lapak kecil di luar rumah, sebab banyak peminat yang kebingungan mencari tempatnya.

Potret Kartini S Hasan. Pengusaha Muda di Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat

Kebetulan, saat itu, ada satu warung kopi, milik temannya yang sudah tak terurus, di Kelurahan Soasio, depan Masjid Kesultanan Ternate. Tini menyewa tempat itu Rp500 ribu perbulan.

“Saat itu belum ada apa-apa. Meja pun tak ada. Saya harus mengambil meja dan kursi dari rumah”. Tini menamakan tempat usahanya Ternate Shoes Cleaner.

Melihat peminat di instagram masih sedikit, Tini pun mencoba membuat brosur sendiri. Brosur itu pun ia bagi kepada orang-orang di jalan. “Sungguh. Memulai awal itu tidak mudah, saya kerjakan sendiri, siang-malam," ujarnya.

Distro milik Kartini di Kelurahan Sangaji, Ternate Utara, Kota Ternate. Foto: Gustam Jambu/cermat

Dalam 6 bulan berjalan, Tini belum juga membukukan penghasilan bahkan pengeluaran. Ia bahkan belum tahu betul soal istilah omzet, saat itu.

“Uang yang masuk, saya kantongi begitu saja. Bahkan saya pakai untuk jalan-jalan”.

Akibat kebiasaannya yang suka traveling, keuntungan dari hasil usaha pun habis terpakai. Modal habis. Ia sempat berniat menutup usaha itu. Niat itu, ia utarakan ke temanya.

Kartini saat berbincang dengan kru cermat. Foto: Gustam Jambu/cermat

“Banyak orang sudah telanjur tahu. Jika kau tutup, mereka cuci sepatu di mana. Mereka membutuhkan ini,” ujar temannya.

“Bahkan salah satu teman saya kasih modal lagi Rp500 ribu, agar saya bisa menjalankan usaha ini kembali,” kata Tini.

Ketika usaha berjalan 8 bulan, Tini mulai dengan satu karyawan. Saat itu, ia masih bingung untuk sistem gaji.

“Saya baru mulai buka usaha di situ. Terima karyawan, tapi saya bilang belum bisa gaji. Lalu, bagaimana caranya?”.

Tini mulai menelusuri lagi di google. Ia pelajari sistem bagi hasil. Di situ, ia berinisiatif. Membayar karyawan dari satu pasang sepatu yang dicuci, ia upah Rp10 ribu. Misalnya, sepasang sepatu yang dicuci Rp30 ribu, maka, karyawan ambil Rp10 ribu dari Rp30 ribu itu.

“Ternyata, selama sebulan, kita sama-sama untung,” katanya. Saat itu, dalam sebulan, pendapatanya baru bisa mencapai 2 jutaan.

Lambat laun, usahanya pun berkembang. Hingga kini, omzetnya mencapai Rp15 juta perbulan. Dua bulan lalu, tahun 2019 ini, ia pun membuka cabang baru. Tepatnya di Kelurahan Sangaji, Ternate Utara.

Tini bilang, mamang sudah lama ia ingin membuka cabang. Mencari tempat yang lebih luas, dan tak hanya cuci sepatu. Kini, di tempat tersebut sudah layaknya distro. Ia pun menjual berbagai macam kaos, sepatu, syal, hingga sebagian perlengkapan kemping.