Masa Lalu, Benarkah Harus Berlalu?

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cathliniah Izzah Eryna Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai manusia, kita semua pasti memiliki pengalaman hidup yang unik. Rentetan kejadian dalam hidup kita tentunya berwarna warni. Masing-masing dari kita punya cerita yang menyenangkan. Namun, bisa juga ada kejadian yang tidak menyenangkan terjadi, seperti trauma pada masa kecil, kesalahan yang kita perbuat baik itu disengaja maupun tidak disengaja, serta unfinished business lainnya.
Masa lalu yang pahit bisa berasal dari tindakan negatif yang kita perbuat pada orang lain atau sebaliknya. Hal tidak mengenakkan tersebut seringkali membekas dan membubuhkan ‘Stigma’ pada diri kita, seakan hal itu menjadi identitas kita. Kesalahan yang kita lakukan itu seakan mendefinisikan kita sebagai individu yang negatif.
Masa lalu kita memang dapat mempengaruhi kondisi saat ini. Hal negatif yang tidak terproses dengan baik saat kita mungkin dilanda emosi, wajar menimbulkan confirmation bias pada diri sendiri, seolah-olah diri kita ini jahat, tidak berguna, dan memberatkan. Padahal, bisa saja hal negatif yang kita lakukan hanya pada saat itu saja. Masa lalu yang buruk tidak memastikan siapa kita saat ini, tanpa perlu menutupi atau menolak fakta yang ada, tubuh kita diberikan izin untuk menerima dan memproses semua kejadian negatif yang pernah kita alami.
Tetapi readers, orang lain boleh saja tidak sepenuhnya memaafkan kita, atau melupakan perbuatan salah kita. Tetapi, itu tidak berarti kita tidak berhak memperoleh inner peace kita dengan memaafkan diri kita sendiri. Nah, berikut ini merupakan beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk memaafkan diri sendiri:
1. Mengakui dan Memvalidasi Masa Lalu
Coba kalian ingat ingat, apa saja sih hal yang pernah terjadi di masa lalu kalian dan masih membebani atau menghantui pikiran sampai saat ini?
Nah jika kalian ingat, coba tuliskan pada secarik kertas, jika kalian merasa tidak nyaman atau terasa berat, boleh berhenti sejenak. Kita berusaha untuk jujur serta mengakui hal tersebut pada diri kita.
2. Mengapresiasi perasaanmu sendiri
Setelah kalian melakukan penerimaan dengan kejadian kejadian tak mengenakkan tersebut, coba kalian telaah apa sih penyebab dari kejadian buruk yang kalian alami dan apa yang bisa meringankan perasaan kalian sekarang?
Mengenali akar kejadian dapat membimbing kita pada self-understanding. Sedangkan, ketika kita melakukan pemahaman diri dapat membantu kita kepada self-forgiveness.
3. Perlahan kita harus melepaskan kemelekatan
Menurut Dhamma Budha "Jika kau menginginkan kesenangan, sepenuhnya lepaskan semua kemelekatan. Dengan melepaskan semua kemelekatan, kesenangan paling sempurna ditemukan. Selama kau mengikuti kemelekatan, kepuasan tidak akan pernah ditemukan. Siapa pun menjauhi kemelekatan, dengan kebijaksanaan mencapai kepuasan"
Kemelekatan adalah sumber penderitaan, baik pada senang maupun duka. Salah satu cara untuk melepaskan kemelekatan pada duka atau penderitaan adalah kalian harus memaafkan atau meminta maaf, dengan berfokus pada yang bisa kita kendalikan. Dengan mengakui dan menerima masa lalu, kita bisa mulai melepasnya.
Jika kita butuh dimaafkan orang lain, minta maaflah atas apa yang telah kita perbuat, bukan tentang apa yang mereka rasakan. Jika ada orang yang menyakiti perasaan kita, terlepas orangnya akan meminta maaf atau tidak, maafkanlah mereka atas apa yang kita alami atau rasakan.
4. Dan yang terakhir, Kembali hidup untuk hari ini
Pada akhirnya, masa lalu bukanlah hal yang bisa kita ubah. Masa lalu tetaplah sesuatu yang sudah terjadi. Setelah memaafkan diri, kita jadi paham apa yang bisa kita coba untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lesson learned, jika masih ada yang belum terproses secara total, tidak apa-apa kok itu wajar, jangan lupa untuk take your time ya readers. Turn over a new leaf, Memulai hidup yang baru.
“Menurutku tidak ada 100% orang yang benar-benar melupakan masa lalunya, karena sejatinya otak manusia memiliki saraf pengingat. 'Bukan melupakan, tapi mengikhlaskan' Sebuah kalimat yang pas ditambah dengan kesibukan yang kamu jalani serta orang baru yang kamu temui.” ujar Reni (20/11)
So readers, masa lalu atau kejadian buruk yang pernah kalian alami sebelumnya mungkin tidak sepenuhnya akan hilang dan masih melekat di dalam pikiran kalian, cara terbaik untuk melupakan masa lalu yaitu bukan dengan menghindari atau menyesalinya, namun dengan menerima dan memaafkannya. Tidak apa tidak usah terburu-buru, santai saja nikmati prosesnya, ketika di tengah proses itu kamu merasa lelah, istirahat sejenak. Karena sejatinya We’re all just human who try our best, after all.
