Konten dari Pengguna

(Seri 5) Kediri: Tanah Wingit yang Tumbuh Menemukan Arah

Chevy N Suyudi

Chevy N Suyudi

ASN Kota Kediri

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Goa Selomangleng di Kediri. Situs bersejarah yang diyakini menjadi tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga. Relief dan lorong batunya menyimpan jejak spiritualitas dan peradaban kuno Kediri. Foto: kedirikota.go.id.
zoom-in-whitePerbesar
Goa Selomangleng di Kediri. Situs bersejarah yang diyakini menjadi tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga. Relief dan lorong batunya menyimpan jejak spiritualitas dan peradaban kuno Kediri. Foto: kedirikota.go.id.

Empat seri sebelumnya telah membawa kita menyusuri berbagai lapisan identitas Kediri. Seri 5 ini mengajak untuk melangkah lebih jauh. Bukan lagi hanya membaca artefak dan kisah, melainkan mencoba memahami jiwa tanah Kediri yang diyakini wingit, untuk tumbuh menemukan arahnya.

Setiap kota besar memiliki kisah yang membentuk jati dirinya. Kediri, salah satu kota tertua di Nusantara, tidak hanya dikenal karena warisan sejarahnya yang gemilang, tetapi juga karena aura wingitnya. Kata ini telah lama melekat dalam kesadaran kolektif masyarakat Jawa; sebuah tanah yang sakral, berdaya, dan mengandung sesuatu yang tak terjelaskan.

Bagi sebagian orang, wingit berarti angker atau tempat yang sebaiknya dijauhi. Namun bagi yang memahami lapisan kebudayaan Jawa, wingit justru melambangkan kedalaman spiritual dan getaran historis dari sebuah tempat yang pernah menjadi tempat ilmu dan peradaban.

Jika kita menelisik lebih dalam, istilah "tanah wingit" bukan hanya soal kengerian atau tabir mistis, melainkan sebuah metafora kultural. Bisa dimaknai sebagai tempat yang punya kedalaman nilai, sejarah, spiritualitas, dan daya tarik non-material yang menyerap dan menahan jejak manusia dan alam sekaligus.

Di sinilah dilema muncul. Apakah Kediri hanya tempat bertuah yang diselimuti aura mistis, atau kota yang terus tumbuh dan bergerak maju dengan kesadaran akan nilai leluhurnya?

Makna Wingit dalam Budaya Jawa

Dalam kebudayaan Jawa Klasik, istilah wingit berasal dari akar kata winit, yang berarti "penuh daya, menimbulkan rasa hormat, mengandung kekuatan tak kasatmata". Serat Centhini (abad ke-18) menyebut bahwa panggonan wingit adalah tempat yang pernah menjadi arena laku spiritual; entah karena doa, tapa, atau peristiwa besar yang meninggalkan "getaran" di ruang dan waktu.

Tanah dalam pandangan Jawa tidak pernah netral. Ia merekam jejak perilaku manusia. Bila tanah Kediri dianggap wingit, itu bukan karena makhluk gaib, melainkan karena ia menyimpan jejak peradaban besar; mulai dari Panjalu, Jenggala, Kediri, hingga Singhasari.

Setiap dinasti menanamkan nilai dan sistem makna, membentuk lapisan-lapisan kebudayaan yang menjadikan Kediri tanah dengan "ingatan panjang". Sebagaimana tertulis dalam Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV:

"Kang wus kapethik saka bumi, aja klalen asale." (Apa yang tumbuh dari bumi, jangan lupa dari mana asalnya).

Ungkapan ini menegaskan, tanah wingit adalah metafora. Ia mengingatkan manusia agar tidak kehilangan kesadaran akan asal-usul atau siapa yang telah memberinya kehidupan dan anugerah.

Warisan Spiritual dari Airlangga hingga Jayabaya

Jejak spiritual Kediri dapat ditelusuri sejak masa Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan yang kemudian membagi wilayahnya menjadi Panjalu dan Jenggala. Pembagian itu bukan semata politik, melainkan cerminan kosmologi Jawa; keseimbangan antara dua kekuatan agar dunia tetap harmoni.

Panjalu (Kediri) kemudian berkembang menjadi kerajaan besar di bawah Raja Jayabaya (abad ke-12). Di masa inilah muncul karya monumental Kakawin Bharatayuddha (1157 M), hasil adaptasi epos Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuno oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Prasasti Ngantang atau Prasasti Hantang mencatat kebijakan Jayabaya dalam menata pertanian, pemerintahan, dan spiritualitas.

Jayabaya bukan hanya penguasa politik, melainkan simbol raja bijak yang dianggap memiliki pandangan jauh ke depan. Jayabaya juga diyakini mampu "melihat masa depan", sebagaimana termaktub dalam Jangka Jayabaya.

Mitos tentang "ramalan" ini menunjukkan bahwa Kediri bukan sekadar kerajaan, melainkan ruang kosmik tempat manusia mencari makna tentang waktu dan nasib.

Cerminan nilai moral Kediri tertulis dalam Kakawin Bharatayuddha; Tan hana dharma mangrwa (Tiada kebenaran yang mendua). Prinsip moral ini menjadi jiwa etis masyarakat Kediri, bahwa kebenaran harus tunggal dan teguh, tidak bercabang oleh kepentingan. Pada masa jayabaya, di atas tanah ditegakkan nilai moral yang dalam. Itulah sebabnya tanah Kediri dianggap "bertuah".

Tanah Kediri menyimpan getaran masa lalu. Di sanalah raja-raja tidak hanya membangun istana, tapi juga menegakkan nilai-nilai kebenaran yang abadi.

Lanskap Sakral dan Jejak Peradaban

Kedalaman spriritual Kediri tidak hadir dalam ruang abstrak. Ia bersemayam dalam lanskap nyata; gunung, sungai, dan situs-situs kuno. Gunung Wilis di barat dan Sungai Brantas di tengah bukan hanya unsur geografis, tetapi poros kosmologis yang membentuk karakter masyarakat Kediri.

Dalam Tantu Panggelaran (abad ke-14), gunung dianggap tempat bersemayam para dewa, sedangkan sungai adalah jalan kehidupan. Ketika Airlangga mendirikan kerajaannya di lembah Brantas, Ia sebenarnya sedang menata tatanan kosmos antara "gunung dan air", yang merupakan simbol keseimbangan antara spiritualitas dan kesejahteraan.

Situs Tondowongso yang ditemukan pada 2007 di wilayah barat Kediri memperkuat hal ini. Arca Siwa dan fragmen Yoni-Lingga yang ditemukan di sana menandakan bahwa wilayah Kediri merupakan pusat pemujaan dan pendidikan rohani sejak abad ke-9. Sementara Candi Tegowangi di Pare diyakini sebagai tempat upacara sraddha bagi Bhre Matahun, keponakan Hayam Wuruk, yang memperlihatkan kesinambungan ritual antara Kediri dan Majapahit.

Dengan demikian, wingit di Kediri bukanlah label mistik, melainkan penanda kedalaman sejarah spiritual yang hidup melalui ruang-ruang suci tersebut.

Transformasi Makna Wingit di Masa Kolonial

Makna wingit mulai bergeser pada masa kolonial. Ketika Belanda menaklukkan wilayah Mataram dan memecah Jawa menjadi keresidenan-keresidenan administratif, pandangan spiritual terhadap tanah dan ruang dianggap "tak rasional". Narasi mistis kemudian dipelintir menjadi mitos menakutkan. Kediri pun mulai dikenal sebagai tempat "berbahaya bagi penguasa".

Catatan kolonial De Residentie Kediri (1850) menyebut wilayah ini "terlalu sarat dengan perlawanan rakyat dan kepercayaan yang sulit dikendalikan. Dari sinilah berkembang kepercayaan bahwa siapa pun pemimpin yang datang ke Kediri akan "lengser". Sebuah mitos yang bertahan hingga masa modern.

Namun secara antropoligis, mitos ini adalah ekspresi simbolik masyarakat terhadap kekuasaan yang tidak selaras dengan nilai spiritual tanahnya. Tanah ini tidak menolak siapa pun, ia hanya menguji siapa yang datang dengan hati yang selaras dan langkah yang ringan.

Foto udara pabrik gula Meritjan Kediri tahun 1925. Sekitar abad 17 pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan tanaman tebu melalui sistem tanam paksa atau biasa disebut Culture Stelsel. Sejak masa itulah berkembang industri gula di Jawa Timur khususnya Kediri. Foto: dok. KITLV.

Ketika kolonialisme menulis ulang peta, tanah Kediri menulis ulang makna. Dari ruang yang dulu dianggap wingit dan penuh daya mistis, ia menjelma menjadi simbol perlawanan dan kebangkitan batin.

Bagi orang Jawa, tanah bukan sekadar wilayah kekuasaan, melainkan bagian dari tubuh dan jiwa yang tak bisa dipisahkan. Namun, di masa kolonial, pandangan ini digeser oleh logika administrasi dan eksploitasi. Ruang yang sakral dijadikan komoditas; gunung, sungai, dan desa dikalkulasi dengan ukuran produksi.

Meski begitu, di balik ketertundukan lahir kesadaran baru, bahwa spiritualitas bukan lagi sekadar ritual, tetapi bentuk kebertahanan. Kediri menjadi ruang sunyi yang menyimpan ingatan kolektif tentang keseimbangan, kesetiaan, dan harga diri.

Dalam diamnya, tanah ini tidak menyerah. Ia bertransformasi dari tanah yang dianggap bertuah menjadi tanah yang menumbuhkan daya hidup, dan menolak dilenyapkan oleh peta kekuasaan.

Kediri Tumbuh dari Akar Kultural

Dengan memahami makna wingit, masyarakat dapat lebih menghargai akar budaya, warisan kerjaan, kasusastraan, dan spiritualitas lokal. Warisan seperti naskah-naskah kuno, aksara kuadrat, cerita panji, semua itu menandai bahwa Kediri mempunyai kedalaman yang tidak hanya fisik tapi juga mental dan spiritual.

Tarian kolosal 1000 Topeng Panji di Kediri. Perwujudan kearifan lokal Kediri yang menggambarkan kisah Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Melalui sendratari, masyarakat merayakan warisan budaya yang menyatukan sejarah, seni, dan spiritualitas Jawa. Foto: dok. Imam Mubarok.

Kini, Kediri berada di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai tanah bertuah, tetapi juga kota yang bertumbuh cepat. Terlihat dari berdirinya Bandara Dhoho, Monumen Simpang Lima Gumul, perluasan kawasan pendidikan, serta geliat ekonomi kreatif dan pariwisata sejarah.

Pembangunan infrastruktur dan digitalisasi bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap tradisi, justru lanjutan dari semangat inovatif yang sudah hadir sejak zaman Airlangga. Dalam Prasasti Pucangan (1042 M), Airlangga menyebut dirinya Sri Maharaja Lokanatha (pelindung dunia). Sebutan ini bukan simbol kuasa, melainkan tanggung jawab moral terhadap keseimbangan dunia nyata dan spiritual.

Kediri dapat tumbuh tanpa kehilangan jiwa jika pembangunan diarahkan pada “pertumbuhan yang sadar nilai”. Melakukan sebuah pembangunan yang tidak hanya mengejar fisik, tetapi juga menjaga rasa dan memori kolektifnya.

Tidak ada kota yang besar tanpa akar, dan akar yang hidup adalah yang bersentuhan dengan manusia, alam, dan waktu.

Kediri saat ini menghadapi tantangan yang harus segera dilewati, yaitu menjadikan "tanah wingit" atau "tanah bertuah" sebagai fondasi pertumbuhan kota modern.

Kediri harus bisa menafsir ulang spiritualitas sebagai kesadaran ekologis dan kultural. Kedalaman batin orang Jawa yang dahulu diwujudkan dalam laku tapa dan ritual, kini dapat diterjemahkan dalam bentuk menjaga sungai, ruang hijau, kehidupan harmoni, dan gotong royong. Kediri memiliki potensi menjadi kota yang membangun dengan kesadaran terhadap keseimbangan alam dan budaya.

Berikutnya, Kediri perlu memperkuat literasi sejarah. Buku-buku klasik seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Pararaton menjadi jendela untuk memahami jati diri Kediri sebagai bagian dari mata rantai Majapahit.

Dalam Negarakertagama pupuh disebut bahwa raja Majapahit melakukan perjalanan suci ke Kediri dan menyanjungnya sebagai "tanah yang penuh cahaya dan kebajikan".

Selain itu, Kediri juga perlu menjadikan spiritualitas sebagai etika publik. Prinsip tan hana dharma mangrwa dari Bharatayuddha dapat dihidupkan kembali dalam tata kelola pemerintahan. Di mana pelayanan publik, integritas, dan keadilan menjadi bentuk nyata dharma modern.

Dan yang tidak boleh ditinggalkan, Kediri harus menumbuhkan kesadaran generasi mudanya. Mengenalkan Museum Airlangga, Goa Selomangleng, situs Tondowongso, dan Candi Tegowangi bukan nostalgia, melainkan sarana untuk menanamkan jati diri generasi muda.

Melalui program edukasi sejarah lokal juga dapat menjadi media pembelajaran identitas. Kota yang maju adalah kota yang warganya tahu dari mana mereka datang.

Spirit Kedalaman dalam Petumbuhan Kota

Ketika seluruh elemen ini disatukan, kita menemukan makna sejati dari Kediri. Kota yang wingit bukan karena menakutkan, melainkan karena menggetarkan nurani. Kedalaman spiritualnya bukan penghalang pembangunan, tetapi akar moral yang menjadikan pertumbuhan lebih manusiawi.

Kediri bukan kota yang "melengserkan" pemimpin, melainkan kota yang menguji kedalaman kepemimpinannya. Ia menuntut kesadaran, bukan kekuasaan. Karena hanya pemimpin yang rendah hati dan memahami nilai tanah inilah yang akan diterima oleh Kediri.

Sapa ngudi kasampurnan, kudu nggayuh rasa kang jero. (Siapa ingin mencapai kesempurnaan, harus menyelami rasa yang dalam) - Pepatah Jawa Kuno.

Kediri mengajarkan bahwa modernitas sejati bukanlah menyingkirkan tradisi, melainkan menumbuhkannya ke arah baru. Spirit wingit dapat menjadi energi kreatif untuk membangun kota berkarakter, bijaksana, dan tangguh menghadapi perubahan zaman.

Kota yang tumbuh cepat secara fisik, ekonomi, dan sosial sering terjebak pada pembangunan instrumental tanpa pijakan nilai budaya. Dengan melihat Kediri sebagai kota yang bertumbuh di atas tanah bertuah, maka arah pembangunan bisa menyertakan dimensi spiritual dan historis, bukan sekadar fisik.

Di era globalisasi dan digitalisasi, banyak kota kehilangan jati diri. Jika Kediri hanya dianggap bertuah dan tidak dinamis, maka ia bisa tertinggal. Sebaliknya, jika ia bergerak sebagai kota bertumbuh yang sadar akan tuahnya, maka ia punya keunggulan kompetitif budaya.

Kediri, Kota yang Mengingat

Dari masa Airlangga hingga Jayabaya, dari Panjalu hingga Kediri hari ini, Kediri tidak pernah kehilangan getarannya. Ia menyimpan doa-doa tua, laku tapa, dan karya sastra yang melampaui zaman. Tanahnya wingit karena penuh makna, airnya bertuah karena pernah menghidupi peradaban, dan manusianya tumbuh karena terus belajar dari sejarah.

Dalam falsafah Jawa, "Ngelmu iku kelakone kanthi laku" (ilmu sejati hanya bisa dicapai lewat laku, pengalaman, dan penghayatan). Begitu pula Kediri, ia bukan sekadar catatan sejarah, tetapi perjalanan hidup kolektif yang terus mencari bentuk terbaiknya.

Kota ini mengajarkan bahwa peradaban sejati tidak diukur dari tinggi gedung, tetapi dari dalamnya jiwa warga. Dan di antara gemuruh pembangunan, kita diingatkan untuk tidak kehilangan keheningan yang menumbuhkan.

Kediri bukan tanah yang menakuti, melainkan tanah yang mengingatkan.

Di persimpangan antara wingit dan bertumbuh, Kediri berdiri sebagai pengingat bahwa masa depan hanya akan kokoh jika berakar pada kedalaman nilai. Ia bukan sekadar "tanah bertuah", tetapi yang menumbuhkan peradaban.