Konten dari Pengguna

Apakah Strategi "Lapor Pak!" Trans7 Masih Efektif Menarik Audiens?

Chica Andara

Chica Andara

mahasiswa jurusan ilmu komunikasi,universitas pamulang

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chica Andara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi suasana program Lapor Pak! Trans7. (Sumber: Gemini AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suasana program Lapor Pak! Trans7. (Sumber: Gemini AI)

Kalau penonton sekarang bisa memilih hiburan hanya dengan sekali scroll, bagaimana sebuah program televisi membuat mereka tetap mau kembali menonton? Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika melihat keberadaan Lapor Pak! Trans7, salah satu program komedi yang sudah memiliki identitas kuat di televisi. Konsep kantor polisi, karakter pemain yang khas, sketsa, percakapan komedi, permainan, isu yang sedang dibicarakan, dan kehadiran bintang tamu menjadi bagian yang membuat program ini mudah dikenali. Ketika penonton sudah mengetahui karakter dan pola hiburannya, mereka memiliki gambaran mengenai apa yang akan mereka dapatkan saat menonton.

Namun, sesuatu yang sudah familiar juga dapat menjadi tantangan. Menurut saya, ketika sebuah program memiliki pola yang sudah dikenal, yang perlu dipikirkan bukan hanya bagaimana mempertahankan ciri khasnya, tetapi juga bagaimana membuat penonton tetap menemukan hal baru di dalamnya. Bukan berarti Lapor Pak! sudah kehilangan penonton atau tidak lagi menarik. Kesimpulan seperti itu membutuhkan data audiens. Persoalan yang lebih relevan adalah bagaimana sebuah program yang sudah memiliki identitas kuat dapat mempertahankan kebiasaan menonton ketika penonton sekarang mempunyai begitu banyak pilihan hiburan.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin besarnya penggunaan internet dan media sosial. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada akhir 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang digital sudah menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat dalam mencari informasi dan hiburan. Penonton dapat berpindah dari televisi ke YouTube, TikTok, Instagram, atau platform lain hanya dengan beberapa kali scroll. Mereka juga tidak selalu harus menunggu jadwal tayang karena banyak konten dapat ditonton kapan saja.

Dalam situasi seperti ini, persaingan Lapor Pak! bukan hanya dengan program televisi lain. Program tersebut juga berhadapan dengan berbagai konten digital yang terus muncul setiap hari. Karena itu, mempertahankan penonton membutuhkan strategi programming yang tidak hanya berfokus pada apa yang ditampilkan di layar televisi, tetapi juga bagaimana program membangun kebiasaan, menyesuaikan diri dengan audiens, dan mempertahankan perhatian mereka di tengah banyaknya pilihan.

Salah satu cara melihat persoalan ini adalah melalui konsep Habit Formation dalam programming. Sebuah program dapat membentuk kebiasaan menonton ketika audiens sudah mengenal pola dan memiliki alasan untuk kembali pada waktu tertentu. Lapor Pak! mempunyai modal tersebut melalui pemain, karakter, konsep kantor polisi, dan gaya komedi yang sudah dikenal. Penonton yang merasa familiar dengan program lebih mudah mengetahui jenis hiburan yang akan mereka dapatkan.

Akan tetapi, kebiasaan menonton tidak berarti program boleh terus mengulang pola yang sama. Jika setiap episode hanya memberikan pengalaman yang terasa serupa, kebiasaan yang awalnya menjadi kekuatan dapat kehilangan daya tariknya. Karena itu, menurut saya, solusi yang dapat diterapkan adalah mempertahankan unsur utama Lapor Pak! sambil memberikan variasi pada bagian-bagian di dalamnya. Tema sketsa dapat dibuat lebih beragam, permainan dapat dikembangkan, interaksi antarpemain dapat ditempatkan dalam situasi berbeda, dan bintang tamu dapat digunakan untuk menghadirkan dinamika baru. Dengan begitu, penonton tetap mendapatkan sesuatu yang familiar sekaligus mempunyai alasan untuk menunggu episode berikutnya.

Selain kebiasaan menonton, Compatibility juga penting karena sebuah program perlu sesuai dengan karakteristik audiens dan lingkungan penayangannya. Lapor Pak! sebagai program komedi perlu mempertimbangkan tema, bahasa, bentuk humor, bintang tamu, serta isu yang diangkat agar tetap relevan dengan penontonnya. Penggunaan isu yang sedang dibicarakan masyarakat dapat menjadi salah satu cara untuk membuat materi komedi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, selama pengolahannya tetap sesuai dengan karakter program.

Konsep compatibility juga menjadi semakin penting ketika program hadir di berbagai platform. Menurut saya, kesalahan yang perlu dihindari adalah menganggap konten televisi dan konten media sosial sebagai sesuatu yang sama. Episode televisi memiliki durasi dan alur yang berbeda dengan video TikTok atau Instagram. Karena itu, potongan adegan lucu untuk media sosial sebaiknya tidak sekadar mengambil bagian acara secara acak, tetapi memilih bagian yang dapat langsung menarik perhatian. Behind the scene, bloopers, interaksi pemain, atau teaser juga dapat dibuat dengan bentuk yang lebih sesuai dengan karakter masing-masing platform.

Setelah audiens menemukan konten tersebut, persoalan berikutnya adalah bagaimana membuat mereka tetap bergerak dari satu konten ke konten lainnya. Di sinilah konsep Control of Audience Flow dapat digunakan. Dalam konteks Lapor Pak!, aliran audiens tidak harus berhenti ketika episode televisi selesai. Promosi sebelum tayang dapat digunakan untuk membangun rasa penasaran, kemudian potongan adegan setelah tayang dapat menjadi pengingat terhadap episode yang sudah ditonton. Dari konten tersebut, audiens dapat diarahkan untuk melihat episode lain atau mengikuti konten berikutnya.

Pola tersebut juga dapat berjalan sebaliknya. Seseorang yang awalnya menemukan potongan Lapor Pak! di TikTok atau Instagram mungkin belum menjadi penonton televisi yang rutin. Jika konten digital tersebut menarik, audiens dapat diarahkan untuk mengenal episode lengkap dan konten lainnya. Dengan demikian, televisi dan media digital tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat saling mendukung untuk menjaga hubungan program dengan audiens.

Strategi tersebut sebenarnya dapat dilakukan tanpa selalu membutuhkan produksi yang sepenuhnya baru. Konsep Conservation of Program Resources menunjukkan pentingnya memanfaatkan sumber daya program yang sudah tersedia. Lapor Pak! sudah memiliki pemain, karakter, setting, format, serta elemen produksi yang menjadi bagian dari identitasnya. Semua itu dapat terus digunakan dan dikembangkan sehingga program tidak harus mengeluarkan sumber daya untuk menciptakan konsep baru dari awal setiap saat.

Namun, memanfaatkan sumber daya lama bukan berarti menggunakannya dengan cara yang sama terus-menerus. Karakter yang sama dapat ditempatkan dalam situasi yang berbeda. Pemain dapat dipasangkan dengan bintang tamu dari latar belakang yang beragam. Setting yang sama juga dapat digunakan untuk membuat tema atau permainan yang berbeda. Menurut saya, pendekatan ini lebih masuk akal untuk program yang sudah memiliki identitas karena perubahan dilakukan dari dalam format, bukan dengan menghilangkan hal yang sudah dikenal penonton.

Di sisi lain, Lapor Pak! juga perlu mempertimbangkan Breadth of Appeal, yaitu bagaimana program dapat memiliki daya tarik bagi audiens yang lebih luas. Program komedi tidak harus hanya mengandalkan satu bentuk humor untuk mempertahankan perhatian. Variasi tema, bintang tamu, permainan, dan topik yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat membuka peluang bagi kelompok penonton yang berbeda untuk menemukan bagian yang mereka sukai.

Media digital juga dapat membantu memperluas daya tarik tersebut. Tidak semua orang yang melihat video pendek Lapor Pak! di media sosial akan langsung menonton satu episode penuh. Namun, potongan sketsa, bloopers, behind the scene, atau interaksi pemain dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan program kepada orang yang sebelumnya tidak mengikuti tayangan tersebut. Artinya, keberadaan di media digital tidak hanya berfungsi sebagai promosi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas jangkauan audiens.

Menurut saya, dari kelima konsep tersebut terlihat bahwa solusi untuk Lapor Pak! bukanlah mengganti identitas program secara keseluruhan. Justru, identitas yang sudah kuat perlu dijadikan dasar untuk melakukan pengembangan. Habit Formation dapat digunakan untuk mempertahankan kebiasaan penonton dengan memberikan variasi. Compatibility membantu program menyesuaikan isi dengan audiens dan karakter setiap platform. Control of Audience Flow dapat menghubungkan penonton antara televisi dan media digital. Conservation of Program Resources memungkinkan program memanfaatkan pemain, karakter, dan format yang sudah dimiliki. Sementara itu, Breadth of Appeal dapat digunakan untuk memperluas daya tarik melalui variasi tema dan bentuk konten.

Kelima konsep tersebut juga sebaiknya tidak diterapkan secara terpisah. Misalnya, ketika sebuah episode memiliki tema khusus, tema tersebut dapat digunakan sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan baru, kemudian dipromosikan melalui media sosial, dibuat menjadi beberapa potongan konten, dan diarahkan kembali kepada episode berikutnya. Pemain dan karakter yang sudah dikenal tetap digunakan, tetapi ditempatkan dalam situasi yang berbeda. Dengan cara seperti ini, satu ide program dapat dikembangkan menjadi beberapa bentuk konten tanpa harus kehilangan identitas utamanya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah melakukan evaluasi terhadap respons audiens. Menurut saya, programming tidak seharusnya hanya berjalan berdasarkan asumsi bahwa sesuatu yang pernah berhasil akan selalu berhasil. Respons penonton terhadap tema, karakter, jenis humor, bintang tamu, permainan, maupun konten digital dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan bagian mana yang masih relevan dan bagian mana yang perlu dikembangkan. Evaluasi tersebut dapat membantu program mengambil keputusan berdasarkan respons audiens, bukan hanya berdasarkan kebiasaan lama.

Pada akhirnya, tantangan Lapor Pak! bukan sekadar bagaimana membuat penonton tertawa selama sebuah episode berlangsung. Tantangannya adalah bagaimana membuat penonton masih memiliki alasan untuk kembali ketika mereka bisa menemukan hiburan lain hanya dengan sekali scroll. Menurut saya, jawabannya bukan dengan mengubah Lapor Pak! menjadi program yang sepenuhnya berbeda, melainkan dengan menjaga keseimbangan antara identitas dan pembaruan.

Lapor Pak! sudah memiliki sesuatu yang tidak perlu dibangun dari awal, yaitu karakter, pemain, konsep, dan kebiasaan yang telah dikenal audiens. Yang perlu dilakukan adalah mengembangkan modal tersebut melalui variasi isi, kesesuaian dengan audiens, pengelolaan aliran penonton, pemanfaatan sumber daya, dan perluasan daya tarik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, program dapat tetap terasa seperti Lapor Pak! bagi penonton lama, tetapi juga memiliki sesuatu yang baru untuk membuat penonton penasaran dan kembali menonton.