Toxic Friendship: Mengapa Kita Takut Menjadi Diri Sendiri?

Mahasiswi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Chika Juniana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toxic friendship adalah hubungan pertemanan yang tidak sehat dan dapat membuat seseorang merasa tertekan, tidak nyaman, serta takut menjadi diri sendiri. Dalam toxic friendship, seseorang terkadang merasa harus mengikuti kebiasaan, candaan, atau gaya kelompok agar tetap diterima oleh teman-temannya.
Dalam pertemanan, kita bisa saja menghadapi tekanan sosial untuk mengikuti kebiasaan atau cara bercanda kelompok. Misalnya, jokes atau candaan yang mereka buat terasa kurang cocok karena terlalu garing, terlalu dark, atau berisi ejekan dan candaan yang menjatuhkan orang lain. Kita merasa candaan seperti itu sudah kurang pantas untuk disebut sebagai jokes, apalagi kalau yang dijadikan bahan bercandaan adalah diri kita sendiri. Kita bisa saja merasa tersinggung, tetapi akhirnya memilih untuk ikut tertawa karena kalau menunjukkan rasa tidak nyaman, kita takut malah dibilang, “Baper banget sih lu.”
Bukan hanya soal candaan, perbedaan hobi juga bisa membuat kita merasa sulit untuk masuk ke dalam sebuah sirkel. Misalnya, kita masuk ke dalam kelompok yang sebagian besar anggotanya suka menonton anime, sedangkan kita sendiri tidak terlalu tertarik dengan anime. Ketika mereka sedang membicarakan anime, kita jadi cukup kesulitan untuk ikut nimbrung karena tidak terlalu memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Kita ingin ikut dalam percakapan, tetapi akhirnya bingung harus membahas apa karena memang tidak memiliki ketertarikan yang sama. Akibatnya, kita lebih sering diam dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
Dari hal sederhana tersebut, kita bisa melihat bahwa terkadang seseorang memilih untuk memakai “topeng” ketika berada di lingkungan sosial. Kita berusaha menyesuaikan diri, mengikuti candaan, mengikuti pembicaraan, bahkan mengubah penampilan hanya agar bisa diterima oleh orang-orang di sekitar kita. Padahal, di balik itu semua, mungkin ada rasa tidak nyaman yang kita simpan sendiri. Kita ingin menjadi diri sendiri, tetapi di sisi lain juga ingin merasa diterima dan tidak dianggap berbeda.
Mengapa Kita Rela Mengubah Diri Demi Penerimaan dalam Pertemanan?
Kita rela mengubah diri sendiri hanya karena takut tidak diterima oleh sebuah kelompok. Kita takut kalau tidak mengikuti kebiasaan atau gaya mereka, kita akan diejek, dijauhi, atau tidak ada yang mau berteman dengan kita. Pada akhirnya, rasa takut merasa sendirian dan tidak punya teman membuat kita memilih untuk menyesuaikan diri, bahkan sampai mengubah hal-hal yang sebenarnya kita sukai.
Padahal, bisa saja sebenarnya kita hanya belum menemukan kelompok yang benar-benar cocok dengan diri kita. Tidak semua orang atau kelompok akan memiliki frekuensi, hobi, dan cara berpikir yang sama dengan kita. Banyak orang juga merasa bahwa menemukan teman atau kelompok yang benar-benar sefrekuensi itu sulit. Jadi, kita hanya perlu waktu untuk menemukan orang-orang yang bisa menerima kita apa adanya.
Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar ingin berubah karena memang menyukainya atau kita berubah hanya karena takut tidak diterima? Menyesuaikan diri dalam pertemanan memang wajar, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan diri sendiri hanya untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain.
Dampak Toxic Friendship terhadap Diri Sendiri
Kelelahan mental
Kita bisa merasa lelah secara mental karena terus berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita sebenarnya. Ketika bersama mereka, kita mungkin merasa terpaksa untuk ikut dalam pembicaraan atau melakukan hal-hal tertentu hanya demi diterima, padahal sebenarnya kita tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
Kehilangan jati diri
Kita juga bisa merasa sulit untuk menjadi diri sendiri ketika bersama mereka. Kita terlalu fokus memikirkan pendapat dan penerimaan orang lain sampai akhirnya lebih mengutamakan keinginan mereka daripada diri kita sendiri.
Adaptasi yang Sehat vs Kehilangan Diri dalam Pertemanan
Adaptasi yang Sehat
Sebenarnya, kita perlu belajar menghargai perbedaan tanpa harus melanggar prinsip atau mengubah kepribadian dasar seseorang. Kalau ada satu orang yang berbeda dari kelompok tersebut, kita tidak seharusnya mengejeknya karena setiap manusia memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda-beda. Selama orang tersebut baik, tidak perlu memaksanya untuk berubah hanya supaya mengikuti selera atau kebiasaan kelompok.
Kehilangan Diri
Kita bisa saja menghabiskan banyak waktu untuk berubah demi mengikuti keinginan mereka. Tanpa sadar, kita malah kehilangan jati diri dan diri kita yang sebenarnya. Bahkan, mungkin ada saatnya kita berpikir, “Ini kayak bukan diri aku deh. Perasaan sebelum masuk ke kelompok ini, aku nggak seperti ini.” Hal seperti ini tentunya bisa sangat melelahkan karena kita terus berusaha menyesuaikan diri hanya untuk menghindari ejekan atau perlakuan yang membuat kita tidak nyaman.
Refleksi
Pada akhirnya, kita perlu berani melepas topeng yang selama ini kita pakai hanya demi mendapatkan penerimaan dari orang lain. Kalau kita ditolak oleh lingkungan yang tidak cocok dengan diri kita, bukan berarti ada yang salah dengan diri kita. Mungkin, kita hanya belum menemukan orang-orang yang benar-benar bisa menghargai dan memahami kita.
Karena pertemanan yang baik seharusnya membuat kita nyaman menjadi diri sendiri, bukan membuat kita terus berpura-pura menjadi orang lain.
Ditulis oleh: Chika Juniana
