Konten dari Pengguna

Saya Cinta Indonesia tapi Tidak dengan Pejabatnya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Choiril Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Cinta itu bukan membenarkan yang salah, tapi memperjuangkan yang benar.”

Cinta Negeri Ini Tak Pernah Luntur

Saya mencintai Indonesia.

Bukan karena slogannya. Bukan karena sekadar simbol atau seremoni.

Saya cinta tanah ini karena rakyatnya, budayanya, semangat gotong royongnya, dan keteguhan orang-orang kecil yang terus bertahan di tengah sulitnya hidup.

Namun, rasa cinta itu tidak serta-merta membuat saya buta. Tidak membuat saya menutup mata pada mereka yang justru menyakiti negeri ini dari dalam: para pejabat publik yang seharusnya melayani, bukan memanfaatkan.

Ketika Rakyat Berjuang, Kekuasaan Sibuk Menikmati

Berita tentang pejabat yang berlaku arogan, tak sensitif, atau terlibat dalam penyimpangan bukanlah hal baru.

Banyak yang terseret skandal. Ada yang mempertontonkan kemewahan di tengah kemiskinan.

Ada pula yang tidak tahan dikritik, dan justru membungkam suara rakyat dengan cara yang legal tapi tidak etis.

Menurut Corong Rakyat, Mahkamah Konstitusi pernah menegaskan bahwa kritik terhadap badan publik bukanlah tindak pidana. Tapi kenyataannya, suara rakyat kerap dianggap ancaman, bukan masukan.

Korupsi: Luka yang Tak Pernah Kering

Hampir setiap tahun, lembaga penegak hukum mengumumkan kasus baru yang melibatkan pejabat. Proyek sosial, pendidikan, hingga pangan—semuanya bisa menjadi ladang korupsi.

Sebuah artikel di Kompasiana menulis bahwa korupsi bukan lagi sekadar tindakan individu, tapi telah menjadi bagian dari sistem yang diwariskan dan ditoleransi. Ironisnya, banyak dari mereka yang ditangkap tetap hidup mewah setelahnya.

Kritik adalah Wujud Cinta, Bukan Pengkhianatan

Ada anggapan bahwa mengkritik pemerintah berarti tak cinta tanah air. Saya menolaknya, karena memang semestinya ketika pemerintah salah menggunakan kewenangannya/amanahnya ya harus dikritik.

Justru karena kita mengkritik itu adalah bukti cinta kita pada negara, saya tidak ingin negeri ini rusak oleh mereka yang semestinya menjaga.

Dalam tulisan opini di Kompasiana, dijelaskan bahwa sikap kritis adalah bentuk kontrol warga terhadap kekuasaan. Tanpa itu, demokrasi akan kehilangan arah.

Jangan Samakan Negara dengan Penguasanya

Negara adalah rakyat. Pejabat hanyalah pelaksana amanah.

Kita tidak boleh terkecoh: mencintai Indonesia tidak berarti harus tunduk pada kesalahan para penguasa.

Artikel reflektif di Retizen Republika menyampaikan bahwa rasa cinta kepada tanah air bisa tetap tumbuh, meski kecewa terhadap sistem dan pengelolanya.

Harapan: Lahirnya Pemimpin yang Membumi

Di tengah kekelaman birokrasi, masih ada harapan.

Masih ada pejabat yang bersih, beretika, dan memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan warisan.

Yang kita butuhkan bukan sekadar pemimpin cerdas, tapi juga yang berempati, mendengar, dan jujur.

Tetap Cinta, Tetap Kritis

Saya cinta Indonesia. Tapi cinta itu bukan berarti diam.

Cinta yang tulus berarti berani menyuarakan yang salah, demi kebaikan yang lebih besar.

“Indonesia terlalu indah untuk diserahkan pada kekuasaan yang sembrono. Maka mencintai negeri ini,

Ilustrasi pemuda Indonesia menggambarkan kritik terhadap kekuasaan tanpa mengurangi rasa cinta pada tanah air. (Gambar; Choiril A)

harus dimulai dengan menjaga akalnya tetap waras.”