Mengapa Belajar Sejarah?

Guru Sejarah SMAS Rex Mundi Manado
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Christian Andre Tuwo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

G.W.F Hegel pernah berkata, “satu hal yang dapat dipelajari dari sejarah adalah bahwa tak seorang pun pernah mempelajari sesuatu dari sejarah”. Fenomena ahistori di masyarakat kita bisa digambarkan dari munculnya fundamentalis agama dan primordialisme.
Ambil saja contoh tentang isu kebangkitan PKI. Di Negara ini kata PKI bagaikan hantu yang selalu merongrong anak-anak kecil sehingga takut pergi ke kamar mandi waktu malam. Akan lebih mudah bagi mereka membuka pintu dan kencing di luar rumah.
Pertanyaannya adalah mana yang lebih berbahaya; kencing di kamar mandi atau di luar rumah? Kita memang terlalu takut pada hantu yang tidak kelihatan daripada malaikat yang sepertinya terang padahal iblis yang nyata.
Sejarah sebenarnya banyak memberikan pelajaran kepada kita, jika kita mau sejenak membuka kembali lembaran-lembaran arsip, buku, dan pikiran atau kenangan kita tentang masa lalu. Kita mencap semua yang berhubungan dengan komunis adalah berbahaya.
Dalam narasi pembelajaran sejarah Indonesia terkesan tidak adanya pembedaan antara PKI masa pergerakan nasional dan PKI pada masa kemerdekaan. Semua topik tentang pemberontakan PKI hanya berfokus pada peristiwa Madiun 1948 (yang benar dilakukan PKI) dan peristiwa 30 september 1965 (yang masih kabur siapa dalangnya).
Narasi pembelajaran sejarah di sekolah tidak memberikan porsi yang cukup untuk pemberontakan PKI terhadap pemerintah kolonial pada tahun 1926 dan fakta bahwa PKI adalah partai pertama yang menggunakan nama Indonesia di masa kekuasaan kolonial Belanda tahun 1920.
Setelah peristiwa gerakan 30 september 1965, PKI menjadi partai terlarang berdasarkan Tap MPRS 1965 No XXV/MPRS/1966. Sejak itu pembicaraan mengenai paham komunis bahkan untuk tujuan akademik seakan menjadi tabu dan sensitif. Sejarah PKI digeneralisasi sebagai sejarah buruk dan berbahaya bagi NKRI.
Pembelajaran sejarah yang seharusnya independen dan ilmiah seolah berubah menjadi sejarah yang subyektif dan terlalu dicampuri dengan kepentingan penguasa orde baru. Memang seperti yang ditulis oleh A.L Rowse dalam buku Apa Guna Sejarah, (2014); dijelaskan bahwa generalisasi dalam sejarah dapat dilakukan karena ada lebih dari satu ritme, plot, pola, bahkan pengulangan dalam sejarah.
Tugas sejarawan dan guru sejarah seharusnya memberikan pencerahan dan berupaya agar dalam menginterpretasikan sebuah peristiwa, ia benar-benar harus mengurangi subyektivitas meski tidak akan pernah sepenuhnya obyektif karena sulit untuk merekonstruksi peristiwa yang sudah terjadi lebih dari lima puluh tahun. Setidaknya seperti yang dikatakan oleh Francis Bacon, “sejarah membuat manusia bijaksana”.
Sewaktu mempelajari sejarah, kita harus berpikir sesuai masa di mana peristiwa itu terjadi. Penting untuk membedakan suasana dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya perbedaan pemberontakan PKI 1926, 1948, dan 1965 (?). Mengutip A.L Rowse, “sejarah adalah tentang kelompok masyarakat, faktor-faktor yang mengendalikan mereka, motif, umum atau pun personal yang membentuk berbagai peristiwa”.
Dari pernyataan Rowse, kita bisa menyimpulkan bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya sebuah peristiwa sejarah. Kita hanya bisa belajar darinya tapi tidak bisa membanding-bandingkan seolah-olah apa yang terjadi sekarang sama dengan yang terjadi pada masa lalu.
Dalam landasan teori, sejarah tidak berulang karena setiap peristiwa itu unik dan hanya sekali terjadi. Tapi fenomena yang mengarah ke peristiwa yang sama mungkin saja terjadi di waktu yang berbeda. Oleh karena itu penting juga untuk melihat gejala-gejala masa lalu yang mungkin “terulang” saat ini. di sinilah kegunaan sejarah.
Belajar dari sejarah berarti mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa dialami sekarang dan masa yang akan datang. Semuanya akan berguna jika kita melihat sejarah dengan kedua mata secara terbuka. Ini berarti melihat fenomena sejarah secara holistik bukan dengan mata tertutup sebelah.
Mengenai bahaya separatis dan fundamentalis agama di Negara ini tentunya kita jangan hanya fokus pada isu PKI saja tetapi juga kepada DI/TII, RMS, PRRI/Permesta, GAM, OPM yang bukan tidak mungkin akan muncul dalam rupa-rupa gerakan baru yang ingin bernostalgia dengan masa lalu; bukan untuk belajar dari sejarah tapi untuk “mengglorifikasi” dan mencuri kesempatan dalam menciptakan kegaduhan politik untuk mengganggu kedaulatan NKRI.
