Solo Literasi Festival 2026: Menjelajah Literasi, Sejarah dan Nostalgia.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Chairina Husna Afifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surakarta - $Solo Literacy Festival (SLF)$ kembali hadir sebagai ruang pertemuan bagi masyarakat dan komunitas kebudayaan. Berlangsung selama tiga hari, pada 17-19 September 2026, di Rumah Kebudayaan Ndalem Djojokoesmoeman, Surakarta, festival ini menghadirkan ruang literasi interaktif yang memadukan edukasi sejarah, kebudayaan, hingga nostalgia.
Solo Literacy Festival 2026 Hadirkan Koleksi Uang Kuno
Salah satu daya tarik yang menonjol dari festival ini adalah adanya stan koleksi numismatik atau uang kuno. Stan tersebut menawarkan berbagai jenis uang kuno dari mancanegara termasuk Indonesia yang memiliki nilai sejarah sekaligus cerita di balik proses pengumpulannya.
Pemilik stan merupakan seorang pegiat uang lama asal Yogyakarta yang kini menetap di Surakarta, menceritakan bahwa perjuangannya dalam mengumpulkan lembaran uang kuno secara door-to-door hingga barter dengan sesama kolektor. Ia juga aktif dalam mengikuti berbagai event barang antik, salah satunya Lawas Luwes di Temanggung, Jawa Tengah.
Berbagai koleksi uang kuno dapat ditemukan di stan, seperti uang Rupiah pecahan Rp100 bergambar perahu Phinisi, Rp500 bergambar orangutan, hingga Rp5.000 bergambar alat musik Sasando.
Tidak hanya mata uang Indonesia, terdapat juga koleksi mata uang asing seperti 10 Turkish Lira yang menampilkan sosok matematikawan Cahit Arf beserta rumus Arf Invariant.
Koleksi uang kuno tersebut, menunjukkan bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Nostalgia Permainan Tradisional di "Balik Dolanan"
Tak kalah menarik perhatian, puncak acara pada hari kedua yaitu bertemakan Balik Dolanan yang menjadi wadah interaksi sosial antar pengunjung untuk dapat merasakan nostalgia permainan zaman dahulu yang sekarang sudah mulai pudar dan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi yang lebih muda.
Pada acara kali ini, pengunjung dapat memainkan kembali berbagai macam permainan tradisional seperti dakon, lompat tali, bola bekel, sudamanda, dan berbagai permainan tradisional jaman dahulu.
Kemeriahan sangat terasa ketika para pengunjung dari berbagai kalangan usia saling mengenal dan bermain bersama. Kehadiran mainan tradisional ini berhasil membangkitkan ingatan kolektif sekaligus melestarikan budaya lokal.
Ulasan
Yang membuat Solo Literacy Festival terasa menyenangkan adalah bagaimana perpaduan antara sisi edukatif dengan personal. Bertemu langsung dengan kolektor uang maupun barang antik lainnya, memberi gambaran nyata tentang dedikasi seseorang menjaga sejarah melalui benda-benda kecil yang mudah terlupakan seiring perkembangan zaman.
Solo Literacy Festival berhasil membuktikan bahwa literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis, melainkan mencakup literasi sejarah dan budaya yang inklusif. Festival ini sangat direkomendasikan untuk terus diselenggarakan secara rutin sebagai ruang edukasi, hiburan, dan interaksi komunitas dalam satu kegiatan.
