Kebijakan Populer, Beban yang Tak Terlihat

Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Katolik Santo Thomas Medan. penulis dan pembaca
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Chyintya Sitepu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa waktu terakhir, wacana mengenai program-program populis kembali menguat di Indonesia. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi konkret untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Di permukaan, kebijakan ini tampak mulia: negara hadir, anak-anak diperhatikan, dan masa depan bangsa dijaga melalui pemenuhan gizi.
Namun, seperti banyak kebijakan populis lainnya, persoalan tidak berhenti pada niat baik. Justru di balik narasi besar tentang kepedulian negara, tersembunyi berbagai persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka—mulai dari beban anggaran, ketimpangan kapasitas daerah, hingga potensi pengorbanan sektor lain yang sama pentingnya.
Kita perlu jujur melihat bahwa kebijakan publik tidak pernah gratis. Setiap program yang diluncurkan pemerintah selalu memiliki biaya, dan biaya itu pada akhirnya ditanggung oleh rakyat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam konteks Indonesia—di mana struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masih menghadapi berbagai keterbatasan—munculnya program berskala besar tentu akan membawa konsekuensi serius.
Masalah pertama yang patut disorot adalah soal prioritas. Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar: infrastruktur yang belum merata, kualitas pendidikan yang timpang, layanan kesehatan yang belum optimal, dan ketimpangan ekonomi antarwilayah yang masih lebar.
Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk mengalokasikan anggaran besar pada satu program populis harus dipertanyakan secara kritis: Apakah ini benar-benar kebutuhan paling mendesak, atau sekadar langkah strategis untuk menarik simpati publik?
Lebih jauh lagi, implementasi kebijakan di Indonesia tidak pernah seragam. Apa yang dirancang di pusat sering kali menghadapi realitas yang berbeda di daerah. Tidak semua pemerintah daerah memiliki kapasitas fiskal yang sama. Ada daerah yang masih bergantung pada dana transfer pusat, dengan ruang gerak anggaran yang sangat terbatas. Ketika program nasional dipaksakan untuk dijalankan secara serentak, daerah-daerah ini sering kali harus “memutar otak” dengan mengorbankan program lain yang sebenarnya tidak kalah penting.
Di sinilah letak ironi kebijakan populis: ia terlihat menyelesaikan masalah di satu sisi, tetapi diam-diam menciptakan masalah baru di sisi lain. Program makan bergizi gratis, misalnya, mungkin mampu menjawab persoalan gizi anak dalam jangka pendek. Namun, jika pelaksanaannya mengorbankan anggaran pendidikan, pembangunan fasilitas kesehatan, atau infrastruktur dasar, manfaat jangka panjangnya justru jadi dipertanyakan.
Kritik lain yang tidak kalah penting adalah soal keberlanjutan. Banyak kebijakan populis dirancang untuk memberikan dampak instan yang mudah diukur dan dilihat. Namun, jarang sekali ada kejelasan mengenai bagaimana program tersebut akan dipertahankan dalam jangka panjang. Apakah anggaran negara cukup kuat untuk menopang program ini selama bertahun-tahun? Ataukah program ini hanya akan menjadi beban yang terus membesar tanpa evaluasi yang jelas?
Dalam konteks ini, kita juga perlu menyoroti kecenderungan politik yang semakin mengedepankan citra dibanding substansi. Program-program populis sering kali dikemas dengan narasi yang sangat menarik—penuh empati, dekat dengan rakyat, dan mudah dipahami. Namun, di balik itu, diskusi mengenai aspek teknis, risiko, dan konsekuensi sering kali justru diabaikan.
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Kebijakan yang “terlihat baik” akan dengan cepat mendapatkan dukungan publik, tanpa melalui proses kajian yang mendalam. Akibatnya, ruang diskusi publik menjadi dangkal. Kritik dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian, sementara dukungan diberikan tanpa pertanyaan.
Padahal, dalam demokrasi yang sehat, kritik adalah bagian penting dari proses pengambilan kebijakan. Tanpa kritik, pemerintah berisiko terjebak dalam keputusan yang hanya berorientasi pada popularitas, bukan pada efektivitas. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak kualitas tata kelola pemerintahan.
Selain itu, kita juga perlu mempertanyakan mekanisme pengawasan terhadap program-program besar seperti ini. Indonesia bukanlah negara yang bebas dari persoalan korupsi dan penyalahgunaan anggaran. Ketika sebuah program melibatkan distribusi sumber daya dalam skala besar, potensi terjadinya kebocoran anggaran menjadi semakin tinggi.
Tanpa sistem pengawasan yang kuat dan transparan, program yang awalnya bertujuan baik justru bisa menjadi ladang baru bagi praktik-praktik yang merugikan negara. Ini bukan sekadar asumsi pesimistis, melainkan juga refleksi dari berbagai kasus yang telah terjadi sebelumnya.
Di sisi lain, masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya lepas dari tanggung jawab. Dukungan yang diberikan tanpa kritik terhadap kebijakan populis turut memperkuat kecenderungan pemerintah untuk terus mengedepankan program-program serupa. Dalam hal ini, masyarakat perlu belajar untuk tidak hanya melihat apa yang diberikan, tetapi juga memahami bagaimana dan dengan biaya apa kebijakan itu dijalankan.
Ada kecenderungan dalam masyarakat kita untuk menyambut baik segala bentuk bantuan tanpa mempertanyakan keberlanjutannya. Ini adalah pola pikir yang perlu diubah. Sebab, dalam jangka panjang, ketergantungan pada kebijakan populis justru dapat melemahkan kemandirian dan daya kritis masyarakat itu sendiri.
Kita juga tidak boleh melupakan bahwa pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan keseimbangan. Fokus yang terlalu besar pada satu sektor dapat mengorbankan sektor lain. Dalam konteks ini, kebijakan publik seharusnya dirancang secara komprehensif, dengan mempertimbangkan dampak jangka panjang dan keterkaitan antarsektor.
Program MBG memang memiliki nilai positif. Tidak ada yang menyangkal pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak. Namun, menjadikan program ini sebagai prioritas utama tanpa mempertimbangkan kondisi fiskal dan kebutuhan lain justru berisiko menciptakan ketimpangan baru.
Pemerintah seharusnya lebih transparan dalam menjelaskan dasar pengambilan keputusan. Berapa besar anggaran yang dibutuhkan? Dari mana sumbernya? Apa saja program lain yang harus dikurangi atau ditunda? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab agar publik dapat memahami gambaran utuh dari kebijakan yang diambil.
Lebih dari itu, evaluasi berkala juga menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Setiap kebijakan harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan mekanisme evaluasi yang transparan. Tanpa itu, program hanya akan berjalan tanpa arah, menghabiskan anggaran tanpa memberikan dampak yang signifikan.
Pada akhirnya, kita perlu kembali pada prinsip dasar kebijakan publik: bahwa setiap keputusan harus didasarkan pada kebutuhan nyata, bukan sekadar keinginan untuk terlihat peduli. Kepedulian yang sejati tidak diukur dari seberapa besar program yang diluncurkan, tetapi dari seberapa tepat sasaran dan berkelanjutan dampaknya.
Kebijakan populis mungkin memberikan kepuasan instan. Ia mudah dipahami, mudah diterima, dan mudah dipuji. Namun, di balik itu, ada beban yang tidak selalu terlihat—beban anggaran, beban implementasi, dan beban jangka panjang yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.
Jika kita tidak mulai bersikap kritis, kita berisiko terjebak dalam siklus kebijakan yang berorientasi pada popularitas semata. Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya efisiensi anggaran, melainkan juga arah pembangunan itu sendiri.
Indonesia tidak kekurangan ide besar. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk bersikap jujur terhadap konsekuensi dari setiap kebijakan. Dalam konteks ini, kejujuran menjadi jauh lebih penting daripada sekadar popularitas.
Sebab pada akhirnya, kebijakan yang baik bukanlah yang paling banyak dipuji hari ini, melainkan yang tetap memberi manfaat—bahkan ketika sorotan publik telah lama hilang.
