Air Bisa Jadi Bahan Baku Hidrogen, Begini Prosesnya
Tulisan dari Cika Maeliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Air selama ini dikenal sebagai kebutuhan dasar manusia. Namun, dengan teknologi tertentu, air juga dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan hidrogen yang berpotensi digunakan sebagai pembawa energi.
Salah satu caranya adalah melalui elektrolisis air.
Secara sederhana, proses ini menggunakan energi listrik untuk memecah molekul air (H₂O) menjadi hidrogen (H₂) dan oksigen (O₂). Jika listrik yang digunakan berasal dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin, hidrogen yang dihasilkan sering disebut sebagai hidrogen hijau.
Teknologi ini semakin banyak diteliti karena hidrogen dapat digunakan dalam berbagai sektor, termasuk industri. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan kapasitas elektrolisis air yang terpasang secara global telah melampaui 4 GW pada 2025. Meski begitu, produksi hidrogen global masih didominasi oleh bahan bakar fosil.
Proses elektrolisis sebenarnya tidak sesederhana memasukkan air lalu menghasilkan hidrogen. Kinerja elektroliser dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jenis elektrolit, material elektroda, katalis, temperatur, kebutuhan listrik, serta kondisi operasi.
Penelitian yang diterbitkan pada 2025 juga menunjukkan bahwa pengembangan katalis menjadi salah satu perhatian penting dalam meningkatkan efisiensi elektrolisis. Para peneliti terus mencari material yang dapat membantu reaksi berlangsung lebih efektif sekaligus memiliki daya tahan yang baik.
Di sinilah ilmu Teknik Kimia memiliki peran penting. Proses elektrolisis tidak hanya berkaitan dengan reaksi kimia, tetapi juga melibatkan perpindahan massa dan panas, desain peralatan, pemilihan material, pengendalian proses, hingga efisiensi energi.
Bahkan, penelitian terbaru mengenai pemodelan elektroliser menunjukkan bahwa aspek kinetika elektrokimia, perpindahan panas, dan perpindahan massa perlu diperhitungkan untuk membantu mengoptimalkan desain dan kinerja sistem.
Namun, hidrogen hijau juga masih menghadapi tantangan. Kebutuhan listrik yang besar, biaya peralatan, ketahanan elektroliser, serta pengembangan infrastruktur menjadi beberapa persoalan yang masih diteliti.
Artinya, air memang dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan hidrogen, tetapi teknologi di baliknya membutuhkan proses yang terencana dan efisien.
Bagi mahasiswa Teknik Kimia, perkembangan ini menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kelas memiliki hubungan dengan tantangan energi masa depan. Dari sebuah molekul air yang sederhana, terdapat proses panjang untuk menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

