Sampah Plastik Bisa Jadi Bahan Baku Lagi, Apa Peran Teknik Kimia?
Tulisan dari Cika Maeliya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampah plastik masih menjadi persoalan lingkungan karena sebagian besar jenis plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Namun, plastik bekas sebenarnya tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan teknologi tertentu, material ini dapat diolah kembali menjadi bahan yang memiliki nilai guna.
Salah satu teknologi yang terus dikembangkan adalah chemical recycling atau daur ulang kimia. Berbeda dengan daur ulang mekanis yang mengolah plastik melalui proses fisik, daur ulang kimia berusaha memecah rantai polimer menjadi molekul yang lebih sederhana.
Proses tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti pirolisis, hidrolisis, glikolisis, dan penggunaan katalis. Pada jenis plastik tertentu, hasil prosesnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku kimia.
Penelitian dalam Chemical Engineering Journal menunjukkan bahwa teknologi katalitik berpotensi mengubah limbah plastik menjadi produk kimia yang dapat digunakan kembali. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa plastik PET, seperti yang banyak digunakan pada botol minuman, dapat diproses melalui depolimerisasi untuk memperoleh kembali bahan kimia penyusunnya.
Di Mana Peran Teknik Kimia?
Mengolah plastik menjadi bahan baku baru bukan hanya persoalan memasukkan sampah ke dalam mesin. Kondisi proses harus dirancang dengan tepat agar menghasilkan produk yang diinginkan.
Di sinilah Teknik Kimia berperan. Mahasiswa dan lulusan Teknik Kimia mempelajari bagaimana menentukan suhu dan tekanan operasi, merancang reaktor, memilih katalis, melakukan pemisahan produk, serta menghitung kebutuhan energi dan bahan.
Namun, teknologi ini masih memiliki tantangan. Jenis plastik yang beragam, sampah yang tercampur, kebutuhan energi, biaya proses, dan penerapan dalam skala industri menjadi hal yang masih terus diteliti.
Karena itu, chemical recycling sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya solusi sampah plastik. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali produk, dan meningkatkan pemilahan sampah tetap diperlukan.
Bagi Teknik Kimia, persoalan plastik justru menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kelas dapat diterapkan pada masalah nyata. Dari sampah yang terlihat sederhana, ternyata terdapat proses kimia yang kompleks dan membutuhkan inovasi agar material tersebut dapat kembali memiliki nilai.

