Kisah Princess Charlotte dan Prince Leopold, Perjuangan Sampai Maut Memisahkan

Mulailah membaca dengan Bismillah, akhiri dengan Istighfar. Kisah didramatisir dari kisah nyata.
Tulisan dari Cinta dan Rahasia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Princess Charlotte merupakan pitri George, Pangeran Wales yang nantinya menjadi George IV dari pernikahannya dengan Caroline dari Brunswick. Dia merupakan pewaris takhta masa depan dan dipuja oleh banyak orang. Tidak seperti keluarga lainnya yang dibenci, Charlotte memiliki auranya sendiri.
Charlotte dari awal merupakan wanita yang punya pendirian kuat. Di usia 17 tahun, dia mencoba untuk melawan orang tuanya karena tidak setuju untuk menikah dengan seorang pangeran yang dia suka. Justru Charlotte pada saat itu memilih untuk menjalin percintaan dengan Leopold dari Saxe-Coburd-Saalfeld yang tampan dan gagah.
Pada akhirnya sang ayah pun mengalah dan menyetujui pernikahan anaknya dengan Leopold. Dari sini kisah cinta penuh tantangan dan berliku antara Charlotte dengan Leopold dimulai. Di awal pernikahan, keduanya selalu gagal mendapatkan momongan.
Charlotte dua kali keguguran hingga akhirnya dia kembali hamil yang disambut oleh suka cita seluruh negeri. Di tahun 1817, di usia 21 tahun, setelah dua hari persalinan yang sulit, Charlotte melahirkan seorang anak laki-laki seberat 9 pon tapi kemudian meninggal.
Leopold sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Dia bahkan enggan meninggalkan sang istri serta bersikukuh membantunya. Sesuatu yang pada saat itu masih sangat tabu. Setelah hari ketiga, kondisi Charlotte membaik.
Pada saat itu juga Leopold didesak untuk minum opiat untuk istirahat, karena dia tidak tidur selama 3 hari. Tapi sayangnya, ketika beristirahat itulah kondisi Charlotte memburuk dan meninggal tanpa diketahui sang suami. Charlotte enggan membangunkan Leopold yang terlihat sangat lelah.
Duka Mendalam Seumur Hidup
Kematiannya menimbulkan duka dalam skala yang besar. Inggris pada saat itu kehabisan stok kain hitam karena semua orang mengenakan pakaian hitam. Bahkan para tunawisma mengenakan potongan kain hitam di lengan mereka.
Leopold kemudian depresi hingga akhirnya bertemu dengan wanita yang mirip dengan Charlotte. Bertahun-tahun kemudian, dia menikah lagi dan menamai putrinya Charlotte. Keinginan terakhir sang Putri sebelum meninggal adalah agar Leopold dimakamkan di sampingnya ketika waktunya tiba.
Sesaat sebelum meninggal, dia meminta Ratu Victoria agar keinginan ini dipenuhi tapi sayangnya ditolak. Kata-kata terakhir sebelum dia meninggal adalah dia memanggil Charlotte.
