Kumparan Logo
Konten Media Partner

Aktivis Lingkungan Kampanyekan Pelestarian Alam Melalui Musik di Gunung Ciremai

ciremaitodayverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah aktivis lingkungan bersama musisi saat berdialog soal lingkungan dan alam di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jabar. (Andri)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah aktivis lingkungan bersama musisi saat berdialog soal lingkungan dan alam di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jabar. (Andri)

Ciremaitoday.com, Kuningan – Sejumlah aktivis lingkungan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memiliki cara unik untuk mengkampanyekan pelestarian alam. Salah satunya melalui talk show soal hutan yang dikemas dengan pertunjukan musik di Buper Talaga Surian, Taman Nasional Gunung Ciremai Kuningan.

Kegiatan yang digagas para aktivis lingkungan ini menjadi momentum memperingati Hari Bakti Rimbawan. Salah seorang musisi peduli lingkungan, Anto Klopediakustik sempat berbagai cerita tentang karya seni musiknya yang berjudul Cerita Alam.

“Jika bumi adalah ibu, maka manusia harus menjaganya, jika hutan adalah rumah maka manusia harus merawatnya. Jika bumi dan hutan adalah surge, maka musik akan menjadi syairnya,” kata Anto kepada awak media, Selasa (22/3/2022).

Sebagai musisi, Ia juga peduli terhadap kelestarian alam. Karena itu, kerap kali setiap lagu yang diciptakan bertemakan soal alam.

“Meskipun saya baru bisa mendaki Gunung Ciremai saja, tapi saya ingin sekali berbakti kepada bumi dan mengajak para rimbawan untuk turut menjaga kelestarian alam. Jadi ketika kita mendaki, itu bukan hanya berselfie ria, tapi kita juga harus menjaga kelestarian hutan dan lingkungan seperti mengambil sampah yang ada di gunung ketika kita sedang mendaki dan membawa pulang, jangan sampai kita meninggalkan sampah disana,” ungkapnya.

Musisi ini dikenal melalui single Semesta Ikut Bahagia dalam album kompilasi Music for Adventure. Lagunya dirilis bersamaan dalam bentuk box set album kompilasi yang berisi enam musisi ibukota, serta lima band lokal pemenang audisi tahun 2020.

“Alhamdulillah saya bisa masuk satu album bersama musisi ternama, dengan nama band Klopediakustik. Waktu itu bersama almarhumah istri saya,” terangnya.

Menurutnya, hasil dari penjualan album kolaborasi disumbangkan untuk rehabilitasi orang utan, dan pembekalan keterampilan bagi orang utan yang akan dilepasliarkan ke hutan.

“Album ini juga untuk reboisasi dan pelestarian hutan sebagai tempat tinggal orang utan dan satwa liar lain,” ucapnya.

Sejumlah aktivis lingkungan bersama musisi saat mengkampanyekan gerakan pelestarian alam di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jabar. (Andri)

Sementara Sekretaris Gema Jabar Hejo (GJH) Kuningan, Nanang Subarnas menuturkan, manusia menjadi salah satu penyumbang terhadap penurunan kualitas hutan dan alam. Sehingga wajib melakukan upaya-upaya pengembalian ekosistem alam yang sudah rusak.

“Salah satunya bisa dengan melakukan rehabilitasi, baik itu upaya penanaman pohon di wilayah kritis maupun upaya menjaga hutan yang tersisa. Ini agar fungsi hutan sebagai sumber kehidupan bisa terus terjaga,” jelasnya.

Dia beranggapan, upaya pelestarian hutan dan alam tidaklah sulit jika sudah terbangun kesadaran di masyarakat.

“Yakni mulai dari diri pribadi kita sendiri dan dari lingkungan sekitar kita. Contoh kecil tularkan budaya bersahabat dengan sampah dengan tidak membuang sembarangan, pilah sampah dari rumah masing-masing,” ujarnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga cukup aktif melakukan sejumlah upaya dalam menanamkan cinta lingkungan terhadap generasi bangsa sedini mungkin.

“Kita dari GJH gencar melakukan edukasi lingkungan kepada generasi muda sejak usia TK melalui kegiatan bernama eco-education. Kita juga butuh ada penambahan zona hutan lindung, khususnya di kawasan Kuningan timur yang saat ini banyak terjadi bencana,” tutupnya.(*)