Kumparan Logo
Konten Media Partner

Jalan Panjang Proyek Bendungan Kuningan Sebelum Bikin Warga Desa Jadi Miliarder

ciremaitodayverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proyek pembangunan rumah bagi warga Desa Kawungsari, Kabupaten Kuningan, yang direlokasi kini masih terus dilakukan. (Andri Yanto)
zoom-in-whitePerbesar
Proyek pembangunan rumah bagi warga Desa Kawungsari, Kabupaten Kuningan, yang direlokasi kini masih terus dilakukan. (Andri Yanto)

Ciremaitoday.com, Kuningan - Sebelum ganti rugi lahan maupun rumah warga terdampak pembangunan proyek Bendungan Kuningan, Jawa Barat, diberikan, beberapa kali sempat dilakukan aksi unjuk rasa oleh masyarakat setempat. Ratusan warga terdampak menuntut percepatan ganti rugi yang belum tuntas dibayarkan.

Aksi itu dilakukan sebagian besar warga dari Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Sebab ada 3 desa terdampak proyek Bendungan Kuningan di Kecamatan Cibeureum yakni Kawungsari, Randusari dan Sukarapih.

Adapula 3 desa di Kecamatan Karangkancana yakni Tanjungkerta, Cihanjaro dan Simpayjaya. Total desa terdampak proyek bendungan ini sebanyak 6 desa, namun paling besar dampaknya di Desa Kawungsari, karena seluruh warga harus direlokasi.

Kantor Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan. (Andri Yanto)

Saat itu, warga melakukan aksi pembubuhan tanda tangan pada kain sepanjang 10 meter di jembatan Asdam. Aksi ini sebagai simbol kekecewaan warga, yang tak ingin nasibnya diombang-ambing oleh janji yang tak kunjung terealisasi.

Peristiwa itu terjadi pada Juli 2019 lalu. Namun kini, tepat 4 Februari 2021 pembayaran ganti rugi diberikan secara bertahap oleh perintah pusat.

Sebagian besar warga terdampak khususnya di Desa Kawungsari pasrah untuk direlokasi. Mereka harus merelakan kenangan masa kecil dari tempat kelahiran tersebut.

Misalnya saja seperti yang diungkapkan seorang warga Desa Kawungsari, Asep. Sebulan terakhir ini, Ia mulai berbenah untuk membereskan perabotan rumah tangga yang ada di rumahnya.

Sejumlah rumah megah di Desa Kawungsari Kecamatan Cibeureum Kabupaten Kuningan terpaksa harus ditinggalkan. (Andri Yanto)

Asep mengaku menerima ganti rugi sekira Rp 500 juta untuk lahan dan bangunan rumah seluas 280 meter persegi.

Namun apabila ada kerusakan rumah seperti kenteng bocor maupun cat rumah sudah kusam, Ia tidak memperbaikinya. Sebab rumah itu nantinya akan tetap ditinggalkan setelah tiba waktu untuk relokasi.

"Ya dibiarkan saja, karena percuma nanti juga ditinggalkan. Paling perabotan rumah saya pindahkan ke ruangan yang aman, supaya tidak rusak saat pindah rumah," katanya, Jumat (19/2/2021).

Dirinya mengaku, sudah ikhlas dengan ketetapan pemerintah menjadikan tempat kelahiran untuk digenangi air akibat proyek Bendungan Kuningan. Terkait uang ganti rugi yang diberikan pemerintah untuk tanah dan rumah yang dibangun sejak tahun 2012 lalu, terbilang sepadan untuk penghidupan di tempat baru.

"Semuanya sudah harus saya relakan, tanah kelahiran dan masa kenangan saat kecil dulu. Kemudian bisa membangun rumah dengan istri dari hasil berdagang di Cirebon, semuanya akan tenggelam menjadi bendungan," ungkapnya.

Ia bersama warga lain berharap, agar pemerintah memprioritaskan keberadaan warga Desa Kawungsari untuk program terkait Waduk Kuningan kedepan. Misalnya untuk pengembangan wisata ataupun sektor lain, sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga Kawungsari yang kini tergusur.

"Jangan sampai, tanah dan rumah kami ditenggelamkan nanti malah hanya jadi penonton saja," tutupnya.