Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengokohkan Tradisi, Menjaga Lemah Cai dan Memakmurkan Incu Putu

ciremaitodayverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

DPRD Kabupaten Kuningan menggelar rapat paripurna istimewa dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kuningan ke-521, Minggu (1/9). Dalam momen hari jadi Kabupaten Kuningan, segenap elemen diharapkan dapat mengokohkan tradisi, menjaga lemah cai (tanah kelahiran), dan memakmurkan incu putu (anak cucu). (Andry)
zoom-in-whitePerbesar
DPRD Kabupaten Kuningan menggelar rapat paripurna istimewa dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kuningan ke-521, Minggu (1/9). Dalam momen hari jadi Kabupaten Kuningan, segenap elemen diharapkan dapat mengokohkan tradisi, menjaga lemah cai (tanah kelahiran), dan memakmurkan incu putu (anak cucu). (Andry)

ciremaitoday.com, Kuningan, - DPRD Kabupaten Kuningan menggelar rapat paripurna istimewa dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kuningan ke-521, Minggu (1/9). Saat membuka paripurna, Ketua DPRD Kuninan Rana Suparman SSos mengajak untuk berilustrasi tentang mengokohkan tradisi, menjaga lemah cai (tanah kelahiran), dan memakmurkan incu putu (anak cucu).

“Selalu ada momen penting, dimana kita terbuka kepada eksistensi kita yaitu mempertanyakan lagi arti keberadaan kita, menilai apa yang telah dilakukan dan membuat antisipasi kemungkinan di masa mendatang, dan salah satu momen itu adalah memperingati hari kelahiran,” kata Rana.

Dia menilai, manusia adalah makhluk yang senantiasa mencari makna dari setiap peristiwa dan fenomena. Peristiwa dan fenomena tidak datang begitu saja, sebab itu adalah tanda-tanda yang harus dibaca dan yang dibaca adalah makna di balik tanda-tanda.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya siang dan malam terdapat makna-makna bagi orang yang berfikir mendalam, begitu isyarat dalam Al Qur’an. Maka saat ini sangat tepat, dalam suasana batin yang lebih terbuka untuk memaknai keberadaan Kuningan, terkait apa keberhasilan yang telah kita raih, apa kekurangannya dan harapan-harapan yang akan kita raih di masa depan yang akrab diingatan dan kesadaran kita hari ini,” ungkapnya.

Dia juga mengajak, agar semuanya dapat merenungkan kembali dan mengambil makna dari peristiwa itu.

“Maka, disinilah kita menemukan relevansinya untuk peringatan saat ini yaitu jika kita berhasil menggali makna untuk menjawab tantangan, dan merumuskan pondasi yang kokoh untuk antisipasi masa depan kita yang lebih baik. Jika tidak terjadi dan tidak menjadi nilai yang mengikat dari para pemimpin Kuningan, maka sesungguhnya kita terjebak pada acara rutinitas dan seremonial tahunan belaka,” ujarnya.

Kebijakan pemerintahan daerah harus membuat agenda antisipasi strategis untuk mengokohkan, mengukuhkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi dan lemah cai sebagai ciri substansi Kuningan. (Andry)

Dia menuturkan, memperingati adalah mengokohkan kembali identitas diri sebagai Kuningan dan masyarakat Kuningan. Sebab identitas perlu untuk posisi berdiri dalam merespon perubahan zaman dengan tantangan dan persoalan-persoalannya.

“Lalu juga membuat agenda antisipasi masa depan, sebagai milik kita, karena tanpa identitas dan posisi itu, hanyalah terombang-ambing dalam arus perubahan yang belum tentu berpihak kepada kita. Dengan identitas yang berkarakter dan posisi berdiri yang kokoh, akan sanggup menghadapi zaman yang senantisa berubah sehingga zaman ini dalam kendali dan milik kita, karena kita tidak ingin jadi korban dari sebuah zaman,” tandasnya.

“Soal identitas dan berubahnya zaman, saya ingin memberikan sedikit ilustrasi, mengambil inspirasi dari salah satu pantun bogor yaitu Uga Wangsit Siliwangi, tentu dengan penafsiran saya sendiri,” terangnya.

Dia menceritakan, Padjadjaran dengan capaian peradaban dan tokoh sentralnya Prabu Siliwangi adalah sebuah tradisi. Tradisi adalah sesuatu, dimana bisa merujuk dan menggali nilai-nilainya. Karena disitu ada keaslian, kemurnian, dan keagungan. Misalnya barat atau Eropa yang mengambil tradisi Yunani untuk melancarkan gerakan renaisance dan pencerahannya. Pada Islam fase Mekah dan Madinah adalah tradisi dengan tokoh Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah.

“Kembali pada uga wangsit siliwangi, detik-detik saat kerajaan Padjadjaran akan burak dan menjelang Prabu Siliwangi ngahiang, beliau berbicara pada para pengikutnya. Menawarkan pilihan untuk menjalani kehidupan berikutnya yang makmur, sejahtera, supaya suatu saat bisa mendirikan lagi Padjadjaran anyar yang tidak mengikutinya pergi ke sebelah selatan, yang ingin kembali ke dayeuh pergi ke sebelah utara, yang ingin bergabung dengan penguasa yang baru pergi ke timur, dan yang tidak akan mengikuti siapa-siapa supaya pergi ke barat,” bebernya.

Kemudian, lanjutnya, Prabu Siliwangi memberi gambaran apa yang akan dialami oleh para pengikut dan turunannya (seuweu siwi siliwangi) dalam melewati fase-fase perubahan berubahnya jaman melalui adanya fase Raja Panyelang. Setelah itu lahirnya raja dari turunan pulau dewata, munculnya penguasa buta, bukan buta penglihatannya tapi yang menyengsarakan rakyat, munculnya budak buncireung yang serakah, lalu akan munculnya budak janggotan dan budak angon sebagai penyelamat zaman.

“Akan halnya para pengikut dan seuweu siwi siliwangi terkait berubahnya jaman, dan ganti lalakon harus tetap waspada. Karena ada yang ikut larut atau kajongjonan dalam berubahnya zaman, ada yang lalajo tapi kabalerangan, ada yang seperti budak angon, ngangon kalakay jeung tutunggul, ngorehan bari ngalawan, ngalawan bari seuri. Dalam narasi pantun bogor ada gambaran bagi kita, bahwa identitas yang merujuk pada tradisi tangguh menghadapi berubahnya zaman jeung gantina lalakon,” imbuhnya.

Dia menafsirkan, tradisi Padjadjaran dengan tokoh sentralnya Prabu Siliwangi diantaranya kesadaran akan diri sejati, diri yang mempunyai kesadaran ngahiyang (makrifatulloh), dari kesadaran akan ngahiyang itu melahirkan tekad, ucap, jeung lampah yang menebarkan wawangian, silih asah, silih asih, silih asuh. Namun pribadi yang seperti ini akan melampaui menjadi budak buncireung, yaitu diri yang masih dikuasai nafsu-nafsu amarah. Menjadi budak janggotan yaitu diri yang dewasa dan waspada, dan pada gilirannya akan berpribadian seperti budak angon, seorang pemimpin yang mampu menjaga dan memelihara, mengembangkan, memakmurkan, serta memahami Tuhan-nya dan dharmanya.

“Lalu apa tantangan zaman yang harus kita respon dan jawab dengan keaslian identitas kita. Dimana setiap perubahan dan berubahnya zaman selalu ada peluang dan tantangan, peluang untuk memberikan kebaikan dan tantangan yang bisa menghambat bahkan membawa kerusakan,” ujar Rana.

Jika melihat pemikiran para pendahulu dan kondisi kekinian, Rana menilai, tugas politik adalah menjaga kesucian dan mengatur hal-ihwal yang duniawi untuk kemaslahatan, keselamatan, dan kerahayuan bersama.

“Setelah menyelami makna hari jadi adalah menemukan sesuatu yang substansi dari Kuningan dan manusia Kuningan, maka selanjutnya adalah tugas politik, harus merespon cepat dalam menghadapi jaman dengan identitas otentik kita, sehingga kita tidak terseret oleh arus perubahan dan efek permasalahan negatifnya, teu kairid ku ci ki’ih, teu palid ku cileuncang. Dalam hal ini kita mesti bisa merumuskan agenda strategis untuk mengukuhkan dan mengokohkan hal-ihwal identitas yang otentik, asli dan fitrah serta merumuskan agenda pembangunan kemakmuran incuputu atau penduduk kuningan,” ungkapnya lagi.

Oleh sebab itu, Rana meminta, agar kebijakan pemerintahan daerah harus membuat agenda antisipasi strategis untuk mengokohkan, mengukuhkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi dan lemah cai sebagai ciri substansi Kuningan. Sekaligus dengan program dan agenda yang berpihak pada kepentingan rakyat. (*)

Penulis : Andry Yanto

Editor : Tomi Indra PriyantoD