Kumparan Logo
Konten Media Partner

Tradisi Saptonan, Ajang Adu Ketangkasan Berkuda di Kuningan, Jabar

ciremaitodayverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saptonan merupakan tradisi ketangkasan dalam berkuda yang melegenda di Kabupaten Kuningan. Lomba ketangkasan berkuda ini digelar di Open Space Galery (OSG) Lapangan Desa Kertawangunan Kecamatan Sindangagung Kabupaten Kuningan, Minggu (1/9). (Andry)
zoom-in-whitePerbesar
Saptonan merupakan tradisi ketangkasan dalam berkuda yang melegenda di Kabupaten Kuningan. Lomba ketangkasan berkuda ini digelar di Open Space Galery (OSG) Lapangan Desa Kertawangunan Kecamatan Sindangagung Kabupaten Kuningan, Minggu (1/9). (Andry)

ciremaitoday.com, Kuningan, - Pemerintah Kabupaten Kuningan, kembali menggelar lomba ketangkasan berkuda atau tradisi Saptonan, dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-521 di Open Space Galery (OSG) Lapangan Desa Kertawangunan, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan, Minggu (1/9). Saptonan merupakan tradisi ketangkasan dalam berkuda yang melegenda di Kabupaten Kuningan.

Lomba ketangkasan berkuda ini merupakan tradisi rutin yang digelar setahun sekali. Tradisi saptonan dikemas dengan pagelaran tradisional seba atau penyerahan upeti, serta lomba panahan tradisional.

Penunggang kuda Saptonan, sebagian besar merupakan para kusir delman. Peserta Saptonan secara bergantian adu cepat memacu kudanya mengarah ke mistar gawang lalu menghunuskan sebatang tombak ke titik sasaran. (Andry)

Ribuan warga tampak antusias menonton aksi para joki yang memacu kudanya, sekaligus dengan membawa tombak untuk dilontarkan pada sasaran lubang kecil di bawah ember berisi air, yang digantungkan pada mistar gawang setinggi sekitar 3 meter.

Belasan penunggang kuda Saptonan, sebagian besar merupakan para kusir delman. Peserta Saptonan secara bergantian adu cepat memacu kudanya mengarah ke mistar gawang lalu melempar sebatang tombak ke titik sasaran.

Warga tampak antusias menonton aksi para joki yang memacu kudanya, sekaligus dengan membawa tombak untuk dilontarkan pada sasaran lubang kecil di bawah ember berisi air, yang digantungkan pada mistar gawang setinggi sekitar 3 meter. (Andry)

Tak jarang, para penunggang kuda akhirnya gagal mencapai gawang mistar karena kuda yang ditungganginya sulit dikendalikan hingga akhirnya berbelok arah. Bahkan, cukup banyak juga yang meleset saat melemparkan tombak ke titik sasaran.

Bupati Kuningan, Acep Purnama, mengatakan acara tradisional ini merupakan warisan leluhur Kuningan ratusan tahun silam. Kegiatan ini juga ditandai dengan penyerahan aneka hasil bumi dari para tumenggung kepada kerajaan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Saptonan dan tradisi panahan ini merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulu kami, para pendiri Kabupaten Kuningan. Di mana, salah satunya yakni ciri khasnya dengan berkendaraan kuda sesuai dengan kondisi jaman dulu berkendara dengan kuda,” ujarnya.

Acara tradisional Saptonan merupakan warisan leluhur Kuningan sejak ratusan tahun silam. Dalam tradisi saptonan, ditandai dengan penyerahan aneka hasil bumi dari para tumenggung kepada kerajaan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat. (Andry)

Tradisi yang terus dijaga kelestariannya ini kata Acep, di samping ada pembinaan juga untuk diikutsertakan dalam perlombaan ketangkasan berkuda. Ketangkasan itu berupa memacu kuda dengan cepat, sambil melemparkan tombak ke titik sasaran yang ditentukan.

“Ini semata-mata sebagai rasa ungkapan syukur terhadap kelimpahan rezeki dan anugerah yang diberikan Allah SWT. Di samping itu mengangkat nilai-nilai kebiasaan yang dilakukan para pendahulu kami, dan kami wajib melestarikan,” terangnya.

Tradisi Saptonan ini, sebagai rasa ungkapan syukur terhadap kelimpahan rizki dan anugerah yang diberikan Allah SWT. (Andry)

Acep juga bersyukur, antusias warga masyarakat cukup tinggi untuk menyaksikan tradisi Saptonan. Hal itu membuktikan, bahwa kecintaan masyarakat terhadap tradisi daerah masih tinggi.

“Alhamdulillah kegiatan Saptonan dan kegiatan lain selalu berkembang sesuai dengan inovasinya. Namun tetap tidak meninggalkan nilai-nilai tradisinya, termasuk juga panahan tradisional,” tutupnya. (*)

Penulis : Andry Yanto

Editor : Tomi Indra Priyanto