Kumparan Logo
Konten Media Partner

Tradisi Saptonan, Kearifan Lokal yang Terus Dilestarikan Warga Kuningan

ciremaitodayverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kembali mengadakan Tradisi Saptonan dalam peringatan Hari Jadi ke-524 Kuningan. (Andri)
zoom-in-whitePerbesar
Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, kembali mengadakan Tradisi Saptonan dalam peringatan Hari Jadi ke-524 Kuningan. (Andri)

Ciremaitoday.com, Kuningan Tradisi Saptonan merupakan sebuah kearifan lokal yang mempertunjukkan ketangkasan seseorang dalam berkuda. Sebab harus mampu mengendalikan kuda yang ditunggangi sambil mengarahkan tombak ke titik sasaran.

Acara rakyat ini kembali digelar di lapangan Ancaran, Kamis (1/9/2022), setelah sempat tertunda akibat pandemi COVID-19. Saptonan sendiri rutin diadakan pemerintah daerah saat memperingati Hari Jadi Kuningan, Jawa Barat.

Sebagai tradisi adu ketangkasan dalam berkuda yang melegenda di Kuningan, Saptonan dikemas dengan pagelaran tradisional seba atau penyerahan upeti serta lomba panahan tradisional. Warga antusias menonton aksi berkuda yang membawa tombak, untuk dilontarkan pada sasaran lubang kecil di bawah ember berisi air yang digantungkan pada mistar gawang setinggi 3 meter.

Tak jarang peserta saat menunggang kuda akhirnya gagal mencapai gawang mistar, akibat kuda yang ditunggangi sulit dikendalikan dan berbelok arah. Tak sedikit pula yang meleset saat melontarkan tombak ke titik sasaran.

“Acara tradisional ini merupakan warisan leluhur Kuningan ratusan tahun silam. Karena, ditandai dengan penyerahan aneka hasil bumi dari para tumenggung kepada kerajaan untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat,” kata Bupati Kuningan, Acep Purnama.

Dijelaskan, Saptonan dan tradisi panahan merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan oleh para pendahulu dan pendiri Kabupaten Kuningan. Salah satunya yakni dengan ciri khas berkendara kuda sesuai dengan kondisi zaman dulu berkendara dengan kuda.

“Ini semata-mata sebagai wujud syukur terhadap kelimpahan rejeki dan anugerah dari Allah SWT. Di samping itu mengangkat nilai-nilai kebiasaan yang dilakukan para pendahulu kami, dan kami wajib melestarikan,” tutupnya.(*)