Konten dari Pengguna

Seberapa Efektif Pendidikan di Indonesia?

Citra Fathimah

Citra Fathimah

Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Prodi Pendidikan Ekonomi

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Fathimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan belajar mengajar di sekolah swasta. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan belajar mengajar di sekolah swasta. Foto: Dokumentasi pribadi

Sudah efektifkah sistem pendidikan di Indonesia? Pertanyaan tersebut kerap kali muncul di pikiran mahasiswa pendidikan, juga para wali murid. Lalu apabila pendidikan di Indonesia masih kurang efektif, mampukah para generasi muda untuk membantu dan berkontribusi dalam memperbaiki pendidikan di Indonesia?

Indonesia sudah merdeka 78 tahun. Sistem pendidikan di Indonesia juga sudah banyak mengalami perubahan, termasuk kurikulumnya yang silih berganti. Tercatat, Kurikulum di Indonesia setidaknya sudah mengalami perubahan sebanyak 11 kali.

Ngomong-ngomong terkait perubahan kurikulum, tentunya hal ini dapat membawa dampak positif dan negatif terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu dampak positif dari perubahan kurikulum adalah siswa dapat belajar dengan mengikuti perkembangan zaman.

Sementara itu, dampak negatif dari perubahan kurikulum yang begitu cepat, salah satunya adalah dapat menurunkan prestasi siswa. Kenapa demikian? Hal ini disebabkan karena siswa yang belum dapat mengikuti perubahan kurikulum yang baru.

Lantas pertanyaannya, mengapa pemerintah tidak memfokuskan pada kurikulum yang sudah ada dan memperbaiki kurikulum tersebut, bukan justru mengganti kurikulum pada setiap pergantian menteri pendidikan?

Banyak sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang ada di daerah terpencil, kerap kali tertinggal terkait penggunaan kurikulum baru. Sebagai contoh, pada tahun 2013 pemerintah telah menetapkan K13 atau Kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang digunakan.

Lalu ketika para guru di daerah terpencil baru saja mengaplikasikan pada pembelajaran dan para siswa baru saja memahami terkait tata cara pembelajaran pada kurikulum tersebut, pemerintah justru menggantinya dengan kurikulum Merdeka Belajar. Otomatis, baik siswa maupun guru harus sama-sama belajar lagi terkait tata cara dan pengaplikasian kurikulum baru tersebut.

Selain itu, Kurikulum Merdeka Belajar yang digunakan saat ini menuntut guru atau tenaga pendidik untuk mampu memahami materi pembelajaran secara mandiri melalui media Merdeka Belajar yang telah disediakan oleh pemerintah.

Namun faktanya pada saat ini, khususnya guru di daerah pedesaan banyak yang buta akan teknologi. Faktor penyebab buta teknologi bisa karena faktor lanjut usia dan bisa juga karena minimnya akses teknologi pada daerah tersebut. Apabila kualitas guru saja belum memadai, maka sesempurna apapun kurikulum yang disediakan, hasil pendidikan tetap akan kurang maksimal.

Kurangnya penyebaran tenaga pendidik di daerah terpencil juga menjadi salah satu hambatan terkait keefektifan dalam pendidikan. Pun dengan minimnya gaji seorang guru honorer yang menyebabkan banyak anak muda enggan untuk menjadi seorang guru.

Kebanyakan para generasi Z lebih memilih menjadi seorang konten kreator atau membuka usaha bisnis. Apabila generasi muda enggan untuk menjadi guru, lalu bagaimana nasib dunia pendidikan di Indonesia ke depan?

Kurangnya sarana dan prasarana di daerah pedesaan atau daerah terpencil juga menjadi salah satu hambatan kurang efektivitasnya suatu pendidikan di daerah pedesaan. Pelatihan terkait perubahan kurikulum kerap kali hanya diberikan kepada tenaga didik di daerah perkotaan.

Minimnya sarana dan susahnya akses menjadi salah satu hambatan susahnya seorang guru di pedesaan atau di daerah-daerah terpelosok untuk dapat mengikuti pelatihan-pelatihan terkait perubahan kurikulum.

Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan lagi nasib para guru di daerah pedesaan atau daerah terpencil. Sehingga kualitas pendidikan di perkotaan dan pedesaan akan seimbang, tanpa adanya ketimpangan.