Konten dari Pengguna

Perubahan Tradisi Membakar Janda di India Pada Masa Kolonialisme Inggris

citra ajeng

citra ajeng

Saya adalah seorang mahasiswi dari Universitas Airlangga Surabaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari citra ajeng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Tradisi Sati. Sumber Wellcome Collection
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Tradisi Sati. Sumber Wellcome Collection

Tradisi Sati (Su-thi, Settee) atau aksi membakar diri oleh para janda merupakan warisan kebudayaan Hindu kuno yang tidak berhenti dibicarakan oleh masyarakat India sampai saat ini.

Di beberapa daerah di India, perempuan masih diperlakukan sebagai pelengkap dari suami mereka saja dan mereka diberikan dua pilihan jika suatu saat suami mereka meninggal dunia, yakni memilih mengikuti suami mereka sampai mati atau memilih untuk tetap suci selama menjadi janda.

Secara tradisional, agama Hindu tidak mengizinkan janda yang berkeinginan untuk menikah kembali dengan alasan menjaga kesucian diri mereka. Para janda dipandang sebagai beban keluarga karena tidak memiliki kontribusi apapun dan dianggap sebagai penguras pendapatan oleh keluarag mertuanya. Sehingga kehadiran seorang janda dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti dan menjadi pertanda buruk dalam keluarga. Dari sini dapat kita lihat bahwa tradisi Sati pada para janda justru menjahui konteks spiritual, yang awalnya tradisi dilakukan secara sukarela berubah menjadi paksaan dan kebanyak dari mereka melakukan ritual Sati karena alasan finansial. Terkadang seorang istri yang tidak ingin melakukan ritual Sati, maka anggota badan perempuan tersebut akan dipatahkan sehingga tidak dapat melarikan diri. Jika kedapatan para janda melarikan diri dan berguling keluar dari tumpukan kayu bakar, janda tersebut akan didorong kembali dengan tongkat bambu ke dalam kobaran api.

Pada masa kolonial Inggris di India tradisi Sati telah dilarang untuk dipraktekan, karena dipandang sebagai tradisi barbar oleh bangsa Barat. Misionaris Eropa pada awal abad ke-19 memberikan peranannya untuk mencegah ritual Sati menyebar dengan cara mengkapanyekan pencegahan tradisi tersebut.

Jauh sebelum para kolonial Inggris melarang praktek Sati, secara historis banyak upaya yang dilakukan penguasa Mughal sebelumnya untuk mencegah ritual Sati melalui cara formal. Di bawah Kesultanan Delhi pada masa kekuasaan Alauddin Khilji (1294-1316) dan Muhammad bin Tughlaq (1325-1351) seorang perempuan yang ingin melakukan ritual Sati harus mencari izin terlebih dahulu, namun perizinan ini lama-kelaman hanya menjadi sebuah formalitas saja, karena masih banyak perempuan Hindu dari keluarga kerajaan terus melakukan ritual Sati tanpa terkendali. Humayun (1530-1540) juga mencoba untuk mencegah ritual Sati, akhirnya kerajaan mengeluarkan perintah untuk menentang ritual Sati. Akbar (1556-1606) bersikeras bahwa seorang perempuan tidak dapat melakukan ritual Sati tanpa adanya perizinan khusus dari Kotwalsnya (petugas kepolisian yang memiliki tanggung jawab atas kantor polisi). Kotwalsnya diperintahkan untuk menunda keputusan seorang perempuan tersebut selama mungkin.

Kesultanan Mughal juga sempat memberlakukan banyak peraturan untuk para janda yang hendak ingin melakukan ritual Sati, dengan cara pemberian uang pensiun, hadiah dan batuan rehabilitas diberikan untuk seorang perempuan yang mungkin hendak melakukan ritual Sati. Terlebih lagi anak-anak yang ingin melakukan ritual Sati sangat dilarang dengan keras oleh para penguasa. Orang-orang Mughal terus menghalangi jalannya praktik Sati, namun ritual ini masih saja tetap dilakukan di daerah-daerah di luar Agra.

Tidak hanya Inggris saja, orang-orang Eropa lainnya juga melarang perkembangnya ritual ini. Bentinck membuat undang-undang atas dasar dorongan dari meningkatnya praktek Sati dikalangan masyarat Hindu didaerah provinsinya, yaitu Bengal. Pada abad ke-17, tepatnya pada tanggal 4 Desember 1827, Lord William Bentinck mengesahkan Peraturan Sati setelah ia menjadi Gubernur Jendral Bengal. Didalam isi peraturan tersebut, berisikan dengan jelas, ringkas dan tegas dalam mengutuk ritual Sati yang berkembang dimasyarakat Hindu.

Bentinck menyatakan bahwa ritual Sati merupakan suatu yang ilegal terjadi dan seseorang yang melakukan ritual tersebut akan mendapatkan sebuah hukuman oleh pengadilan. Membuat zamindar (seorang petugas) yang memiliki sebuah tanggung jawab untuk berkomunikasi secara langsung atau melaporkannya kepada petugas kantor polisi terdekat atas semua insiden yang terjadi dilingkungan sekitar serta kedapatan melihat seseorang yang ingin melakukan ritual Sati. Bila terdapat kasus kelalaian yang disengaja, maka petugas yang bertanggung jawab tersebut akan dikenakan denda sebesar 200 Rupe atau dipenjara selama 6 bulan.

Hingga tahun 1829 akhirnya tradisi Sati dilarang oleh pemerintah kolonial Inggris, meskipun 10 tahun kemudian masyarakat India meyakinkan pemerintah untuk menambahkan amandemen yang membedakan antara bakar secara “sukarela” dan “paksa”, yang mana jika kedapatan seorang janda melakukan tradisi Sati secara sukarela maka akan diangga tidak masalah.

Para Brahmana Bengali Ortodoks lalu membentuk diri mereka kedalam suatu Dewan Agama atau Dharma Sabha untuk mengumpulkan sejumlah uang yang digunakan untuk melawan undang-undang tersebut sampai ke pengadilan tertinggi, yaitu Dewan Penasihat yang berada di Inggris. Tahun 1832 banding tersebut lalu sampai ke telinga Dewan Penasihat, para pemohon berpendapat bahwa penghapusan ritual Sati bertentangan dengan apa yang diberikan George III pada Statute 37, mereka beranggapan bahwa orang-orang Inggris terlalu ikut campur kedalam agama mereka dan sepenuhnya agar tidak mencampuri agama Hindu.

Dari 7 anggota dewan rahasia, hanya 3 yang memberikan suara untuk menentang perundang-undangan yang dibuat oleh Bentinck, akhirnya ritual Sati dapat ditegakkan. Madras serta Bombay kemudian mengikuti pelarangan praktik Sati dengan membuat undang-undang mereka sendiri. Perlahan penguasa lokal yang berada dibawah kekuasaan Inggris juga mengakui undang-undang terhadap tradisi Sati sesui dengan peraturan Inggris. Tahun 1846 penguasa Jaipur juga turut serta dalam melarang praktik ini. Tahun 1861 Ratu Victoria juga mengeluarkan larangan umum agar tradisi tidak beredar diseluruh daerah India.