Konten dari Pengguna

Vasektomi: Ketakutan yang Tersembunyi di Balik Maskulinitas Laki-Laki

Citra Kumala Dewi

Citra Kumala Dewi

Ketua Bidang IMMawati DPD IMM Sulawesi Utara Anggota Fisioterapi Anak Indonesia Tomohon

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Kumala Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : https://pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber : https://pixabay.com

Tidak tertulis, tapi persepsi tentang kontrasepsi seolah jadi tanggung jawab pada sisi perempuan.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) mencatat prevalensi vasektomi tahun 2024 hanya 0,13%, data ini menunjukan betapa rendahnya peminatan laki-laki untuk berkontribusi.

Padahal mereka bisa andil dengan mengikat saluran sperma, tapi terlalu takut untuk melibatkan diri. Seolah olah label kejantanannya ikut hilang saat saluran sperma itu dihilangkan, padahal tidak ada yang berubah dari fungsi seksual pada diri mereka kecuali sperma yang tidak lagi tercampur dengan mani saat mereka ejakulasi.

Vasektomi adalah KB pada pria yang dilakukan dengan cara memutus atau menutup saluran sperma dari testis, sehingga mani yang keluar saat ejakulasi tidak lagi mengandung sperma yang bisa memacu pembuahan.

Dalam The World Journal Of Men's Health dijelaskan bahwa, Vasektomi secara umum terbagi menjadi 2 tipe:

  1. Vasektomi Konvensional : yaitu pembedahan kecil pada sekitar skrotum untuk memotong tabung atau saluran pembawa sperma keluar dari testis, lalu menutup kembali saluran tersebut dan dijahit.

  2. Vasektomi tanpa sayatan : yaitu pembiusan daerah skrotum lalu diberi lubang pada sisi menuju tabung saluran sperma kemudian di tutup untuk menghentikan saluran sperma.

Semua prosedur ini tidak merubah bentuk dan kualitas seksual, ini adalah prosedur dengan minim komplikasi, tapi hal ini jadi sesuatu yang sangat dihindari oleh laki-laki.

Beban KB adalah tugas perempuan karena perempuan yang mengandung maka perempuan yang harus mengambil peran pencegahan, padahal pembuahan terjadi karena kedua pihak saling menyetujui, maka seharusnya KB juga tidak bisa dibebankan pada satu sisi.

Tidak ada yang mewajibkan KB, tapi kesadaran tentang peran tanggung jawab terhadap anak adalah kemutlakan yang tidak boleh diremehkan, istilah banyak anak banyak rezeki seiring waktu berubah menjadi alasan yang sering digunakan untuk menutupi rasa tanggung jawab yang besar atas hak-hak anak yang belum bisa dipenuhi secara utuh.

Pekerjaan dan pemasukan tidak berbanding lurus dengan tanggungan untuk keluarga, berujung pada eksploitasi anak, menormalisasi anak untuk tidak sekolah dan mengarahkan mereka untuk fokus membantu pemasukan keluarga.

Perempuan dituntut untuk multifungsi, anak dieksploitasi, tapi laki-laki sebagai suami minta untuk tetap dihargai, dihormati dan dipatuhi, patriarki.

Vasektomi dihindari, takut menjadi alasan terkuat, lupa bahwa tugasnya bukan hanya membuat anak tapi juga bertanggung jawab atas keluarganya.

Perempuan dan laki-laki memiliki tanggung jawab yang sama besarnya terhadap kesejahteraan rumah tangga, maka KB seharusnya tidak dibebankan pada sisi perempuan saja.

ilustrasi sumber : https://pixabay.com

Vasektomi tidak seharusnya menjadi ketakutan karena nyatanya maskulinitas tidak sebatas pada seberapa banyak anak yang bisa dihasilkan tapi bagaimana dia mampu bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Edukasi tentang kesehatan berbasis gender harus terus digaungkan, karena ini adalah bentuk kesadaran bahwa ada ketimpangan stigma yang perlu untuk diselaraskan.