Nongkrong di Kala Pandemi

Mahasiswi Jurnalistik - Universitas Padjadjaran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Clara Ajeng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pusing dikit nongkrong. Bosen dikit nongkrong. Ya itulah, namanya anak muda. Nongkrong sama teman setiap hari sudah jadi makanan wajib buat kita. Bahkan, kalau bisa dihitung-hitung kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk nongkrong sama teman dibandingkan waktu bersama keluarga.
Sebagai generasi milenial, nongkrong menjadi sebuah pilihan yang tepat sebagai tempat pelarian. Tak sedikit dari kita yang memilih untuk nongkrong ketika ada masalah. Meskipun nongkrong belum tentu menjadi solusi dalam sebuah masalah, paling tidak dengan nongkrong kita bisa menjadi lupa dan menghibur diri sendiri sejenak.
Alasan memilih nongkrong
Ada banyak alasan anak muda memilih untuk nongkrong dibandingkan di rumah saja. Beberapa di antaranya ingin sekadar mengobrol atau bertukar pikiran, mencari hiburan, takut ketinggalan informasi, hingga mengerjakan projek bersama. Namun, itu semua kembali pada tujuan kita masing-masing.
“Nongkrong itu ya buat refreshing dan pengin tetap keep up sama temen-temen,” jelas Julia, salah satu mahasiswi Universitas Diponegoro.
Kebutuhan dalam diri sekaligus tempat yang menarik menjadi salah satu pendorong untuk nongkrong. Terlebih dalam masa pandemi ini kita dituntut untuk bekerja di depan layar setiap saat. Hubungan yang dibangun antar individu pun semakin monoton dengan tidak adanya interaksi secara langsung.
Kafe sebagai tempat pilihan
Kafe atau kedai kopi sudah menjadi tempat yang tidak asing lagi bagi kita. Hampir kebanyakan dari kita memilih kafe sebagai tempat tujuan nongkrong. Tak heran, jika perkembangan kafe di Indonesia melonjak dalam beberapa tahun belakangan. Bahkan, halaman rumah yang tak terpakai bisa disulap menjadi tempat nongkrong anak muda.
“Enak aja gitu belajar sama temen, tempatnya comfy,” ujar Gendis, mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kerap memilih kafe sebagai tempat nongkrong.
WiFi kencang, suasana yang santai dan harganya yang pas di kantong tentu menjadi nilai utama untuk para generasi milenial. Tak bisa dipungkiri, berbagai konsep bangunan dan dekorasi yang beragam menjadi daya saing dari setiap kafe. Terlebih hampir di sepanjang jalan kita pasti menemukan kafe yang saling berdekatan.
Nongkrong di bulan Ramadhan
Selain menjadi tempat nongkrong bagi anak muda, bulan Ramadhan ini berhasil mengubah kafe menjadi tempat berkumpul dalam beberapa acara. Pengunjung yang biasanya ramai berdatangan sejak pagi hari kini berganti saat menjelang sore hari.
“Biasanya kalau nongkrong ya di kafe, tapi sekarang lebih sering untuk bukber,” ungkap Enggal, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hal tersebut dijadikan peluang untuk para pemilik kafe. Berbagai tawaran dan promo disebarluaskan melalui sosial media untuk menarik pelanggan. Beberapa di antaranya rela menunggu sejak siang hari untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Atau bagi mereka yang tidak ingin ambil pusing mengenai tempat, biasanya melakukan reservasi terlebih dahulu.
“Kalau hari biasa ramainya pagi sampai siang hari, kalau sekarang sore sampai malam menjelang buka puasa,” tutur Vincent, seorang barista di sebuah kedai kopi Bandung.
Adapun strategi lainnya yang dikeluarkan oleh pemilik kafe ialah dengan membuat menu baru. Menu yang dikemas secara misterius sehingga membuat para pengunjung menunggu dan merasa penasaran.
