Konten dari Pengguna

Blindbox dan Jebakan Rasa Penasaran

Clarence Dione

Clarence Dione

You only live once Seorang siswi di SMA TRINITAS BANDUNG

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Clarence Dione tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Merupakan Dokumentasi Pribadi: Diambil di Miniso Festival Citylink Bandung
zoom-in-whitePerbesar
Foto Merupakan Dokumentasi Pribadi: Diambil di Miniso Festival Citylink Bandung

Pernahkah kalian melihat kotak-kotak kecil berisi karakter lucu yang banyak dijual di pusat perbelanjaan atau ramai muncul di media sosial? Produk tersebut dikenal sebagai blind box, yaitu kemasan misterius yang berisi salah satu dari berbagai jenis barang dalam suatu seri, tetapi pembeli tidak mengetahui secara pasti barang yang akan diperoleh sebelum membukanya. Ketidakpastian inilah yang menjadi daya tarik utama blind box. Rasa penasaran mendorong seseorang untuk mencoba membeli, sedangkan kejutan ketika kotak dibuka dapat memberikan perasaan senang. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakpastian hadiah dalam blind box dapat meningkatkan rasa penasaran dan mendorong niat membeli secara impulsif. Dengan demikian, pengalaman membeli blind box bukan hanya tentang memperoleh barang, tetapi juga tentang menikmati sensasi kejutan.

Fenomena blind box semakin populer di kalangan anak muda, termasuk generasi Z. Berbagai karakter dengan desain menggemaskan dari seri tertentu membuat produk ini tidak hanya dipandang sebagai mainan, tetapi juga sebagai barang koleksi. Contohnya adalah Hirono dan berbagai karakter dari film atau permainan yang dapat ditemukan di toko seperti Miniso, OH SOME, Pop Mart, maupun toko resmi lainnya. Daya tarik tersebut membuat sebagian orang ingin mengumpulkan seluruh karakter dalam satu seri. Masalah muncul ketika barang yang diperoleh ternyata tidak sesuai dengan keinginan atau merupakan barang duplikat. Alih-alih berhenti, seseorang justru dapat membeli blind box berikutnya dengan harapan memperoleh karakter yang diinginkan. Penelitian mengenai perilaku konsumen blind box juga menunjukkan bahwa tujuan melengkapi koleksi dapat membuat pembelian dilakukan berulang kali karena konsumen berusaha mengatasi ketidakpastian dan menyelesaikan koleksinya.

Di sinilah rasa penasaran yang awalnya menyenangkan dapat berubah menjadi perilaku konsumsi berlebihan. Pengeluaran yang terus bertambah dapat menjadi salah satu dampaknya, terutama ketika seseorang mengejar karakter langka atau mencoba mendapatkan barang tertentu. Penelitian terbaru menemukan bahwa kelangkaan produk dapat meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif pada konsumen blind box. Semakin sulit suatu barang diperoleh, semakin besar pula dorongan sebagian konsumen untuk segera membelinya. Selain itu, desain blind box yang memberikan pengalaman seperti permainan juga dapat meningkatkan keterlibatan dan niat membeli. Artinya, sistem acak pada blind box memang dirancang untuk memberikan pengalaman yang menarik, tetapi konsumen tetap perlu menyadari batas antara hiburan dan pembelian yang tidak terkendali.

Selain rasa penasaran, fenomena ini juga berkaitan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kekhawatiran akan tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang diikuti orang lain. Media sosial dapat memperkuat perasaan tersebut karena seseorang terus melihat koleksi, pembukaan blind box, atau karakter langka milik orang lain. Akibatnya, muncul keinginan untuk ikut membeli agar tetap merasa menjadi bagian dari suatu tren. FOMO dapat membuat seseorang lebih memperhatikan apa yang dimiliki orang lain dibandingkan mempertimbangkan kebutuhan dirinya sendiri. Dalam konteks blind box, tekanan untuk mengikuti tren dan memperoleh barang yang dianggap langka dapat memperkuat dorongan melakukan pembelian secara spontan. Penelitian mengenai produk berbasis hadiah acak juga menunjukkan adanya hubungan antara FOMO dan perilaku konsumsi berisiko yang dapat membentuk suatu siklus berulang.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Self-Determination Theory yang menjelaskan tiga kebutuhan psikologis dasar manusia, yaitu relatedness, competence, dan autonomy. Relatedness berkaitan dengan kebutuhan untuk diterima dan merasa terhubung dengan orang lain. Dalam tren blind box, kebutuhan ini dapat muncul ketika seseorang ingin memiliki barang yang sama dengan teman atau komunitasnya. Competence berkaitan dengan keinginan untuk merasa mampu dan berhasil, yang dalam konteks koleksi dapat muncul ketika seseorang berhasil memperoleh karakter langka atau melengkapi suatu seri. Sementara itu, autonomy berkaitan dengan keinginan untuk memiliki pilihan dan kendali atas diri sendiri. Ketika FOMO terlalu kuat, seseorang justru dapat merasa terdorong mengikuti tren meskipun pembelian tersebut sebenarnya tidak diperlukan. FOMO juga telah dikaitkan dengan kecemasan dan kecenderungan memikirkan secara berlebihan aktivitas orang lain.

Lalu, bagaimana cara menikmati blind box tanpa terjebak dalam kebiasaan membeli secara berlebihan? Langkah pertama adalah menetapkan batas jumlah dan anggaran pembelian dalam periode tertentu. Dengan begitu, keinginan membeli tidak langsung menentukan keputusan. Kedua, jangan menjadikan barang langka sebagai satu-satunya tujuan. Jika karakter yang diinginkan belum didapat, bukan berarti pembelian harus terus dilakukan. Ketiga, bersikap lebih kritis terhadap tren di media sosial. Apa yang terlihat menarik di layar belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau kondisi setiap orang. Terakhir, penting untuk mengendalikan FOMO dengan menyadari bahwa mengikuti semua tren bukanlah kewajiban. Blind box dapat menjadi hiburan dan sarana mengoleksi selama keputusan pembelian tetap berada dalam kendali diri.

Pada akhirnya, blind box bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Rasa penasaran, kejutan, dan kegembiraan ketika membuka kotak merupakan bagian dari pengalaman yang memang membuat produk ini menarik. Penelitian juga menunjukkan bahwa manfaat kesenangan (hedonic benefits) dapat meningkatkan kepuasan konsumen, meskipun risiko yang dirasakan tetap dapat mengurangi pengalaman tersebut. Persoalannya bukan semata-mata pada blind box, melainkan pada bagaimana seseorang mengendalikan perilaku konsumsinya. Ketika rasa penasaran berubah menjadi dorongan untuk terus membeli, terutama karena mengejar barang langka atau takut tertinggal tren, kebiasaan tersebut dapat mulai merugikan. Karena itu, nikmatilah kejutan blind box secukupnya, tetapkan batas pengeluaran, dan jangan biarkan tren media sosial menentukan setiap keputusan. Kebaikan dalam menikmati sebuah tren pada akhirnya dapat dimulai dari kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.