Ketika Anak Mengejar Cita-Cita, Orang Tua Menghitung UKT, Kos, dan Biaya Hidup
Tulisan dari Clarizza Wilda Satriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi seorang anak, diterima di perguruan tinggi mungkin menjadi salah satu kabar paling membahagiakan. Setelah melewati proses panjang, akhirnya ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita.
Namun, di balik kabar bahagia itu, ada orang tua yang mulai menghitung.
Berapa biaya UKT yang harus dibayarkan setiap semester? Berapa biaya kos setiap bulan? Berapa uang makan yang harus disiapkan? Bagaimana dengan biaya transportasi, kebutuhan kuliah, internet, buku, hingga pengeluaran tak terduga?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu disampaikan kepada anak. Akan tetapi, sering kali itulah yang memenuhi pikiran orang tua setelah anak memutuskan untuk kuliah, terutama jika harus tinggal jauh dari rumah.
Ketika Biaya Kuliah Bukan Sekadar UKT
Selama ini, biaya kuliah sering kali identik dengan UKT. Padahal, bagi mahasiswa yang tinggal di luar kota, UKT hanyalah salah satu bagian dari pengeluaran.
Setiap semester, orang tua harus menyiapkan uang untuk membayar UKT. Setelah itu, masih ada kebutuhan lain yang harus dipikirkan setiap bulan.
Kos menjadi salah satunya.
Tidak semua mahasiswa memiliki kesempatan untuk tinggal bersama keluarga selama kuliah. Sebagian harus merantau karena kampus yang dipilih berada di kota lain. Akibatnya, orang tua harus menyediakan biaya tempat tinggal selama anak menyelesaikan pendidikannya.
Setelah kos, ada kebutuhan yang jauh lebih mendasar: makan.
Seorang mahasiswa tentu membutuhkan makan setiap hari. Jika dihitung selama satu bulan, biaya makan bukanlah jumlah yang sedikit. Belum lagi transportasi, pulsa, internet, perlengkapan kuliah, biaya tugas, praktikum, dan kebutuhan lainnya.
Artinya, ketika seorang anak berkata, "Aku mau kuliah," sebenarnya orang tua tidak hanya sedang mempersiapkan biaya pendidikan.
Mereka juga sedang mempersiapkan biaya kehidupan anak selama menempuh pendidikan.
Ada Orang Tua yang Harus Menghitung Uang Berkali-kali
Bagi keluarga tertentu, memenuhi kebutuhan tersebut mungkin bukan persoalan besar. Namun, bagi keluarga yang memiliki banyak tanggungan, semuanya membutuhkan perhitungan.
Jika orang tua memiliki beberapa anak, kebutuhan keluarga tentu semakin banyak.
Ada anak yang sedang kuliah. Ada yang masih sekolah. Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi. Ada tagihan bulanan. Ada kebutuhan kesehatan. Semuanya harus berjalan bersamaan.
Penghasilan orang tua akhirnya harus dibagi untuk banyak keperluan.
Karena itu, kemampuan ekonomi sebuah keluarga seharusnya tidak hanya dilihat dari pekerjaan orang tua. Seseorang yang memiliki pekerjaan tetap belum tentu memiliki penghasilan yang sepenuhnya dapat digunakan untuk membiayai satu anak.
Terlebih jika anak harus kuliah di luar kota dan membutuhkan biaya hidup tambahan.
"Orang Tua Kan Kerjanya Tetap"
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana.
Namun, apakah pekerjaan tetap berarti semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan mudah?
Belum tentu.
Orang tua yang memiliki penghasilan tetap juga memiliki pengeluaran tetap. Bahkan, semakin banyak anggota keluarga yang harus ditanggung, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada kalanya orang tua harus mengurangi kebutuhan pribadi agar kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Ada kalanya mereka harus menunda membeli sesuatu yang sebenarnya mereka inginkan.
Ada pula saat ketika mereka hanya bisa berharap uang yang dimiliki cukup sampai akhir bulan.
Semua dilakukan karena mereka ingin anaknya tetap bisa kuliah.
Sayangnya, perjuangan seperti ini sering kali tidak terlihat.
Anak hanya melihat uang yang diberikan kepadanya. Sementara orang tua mungkin harus memikirkan dari mana uang tersebut berasal dan bagaimana memenuhi kebutuhan lainnya setelah uang itu diberikan.
Di Balik Uang Kos, Ada Perjuangan yang Tidak Terlihat
Ketika mahasiswa menerima uang untuk membayar kos, mungkin yang terlihat hanya nominalnya.
Tetapi ada cerita panjang sebelum uang tersebut sampai ke tangan anak.
Ada orang tua yang bekerja dari pagi hingga sore. Ada yang harus mengatur pengeluaran rumah tangga. Ada yang menghitung kembali tabungan. Ada yang menunda kebutuhan pribadi.
Semua demi satu hal: anak tetap bisa tinggal di dekat kampus dan melanjutkan pendidikan.
Begitu pula dengan uang makan.
Uang yang terlihat sederhana bagi mahasiswa sebenarnya merupakan bentuk perhatian dan tanggung jawab orang tua. Mereka ingin anaknya tidak kelaparan, dapat belajar dengan baik, dan mampu menjalani kehidupan perkuliahan dengan layak.
Jangan Sampai Tingginya Biaya Membuat Mimpi Terasa Berat
Pendidikan memang membutuhkan biaya. Perguruan tinggi juga membutuhkan dana untuk menyediakan fasilitas, tenaga pengajar, dan berbagai kebutuhan akademik.
Namun, di sisi lain, mahasiswa juga datang dari kondisi keluarga yang berbeda-beda.
Ada keluarga yang memiliki satu anak. Ada yang memiliki beberapa anak.
Ada mahasiswa yang tinggal bersama orang tua. Ada pula yang harus merantau.
Ada yang hanya perlu membayar UKT. Ada yang harus membayar UKT sekaligus kos, makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa biaya pendidikan tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi.
Yang perlu dipikirkan bukan hanya apakah orang tua mampu membayar UKT, tetapi juga apakah setelah membayar UKT mereka masih mampu memenuhi kebutuhan hidup anak selama kuliah.
Untuk Orang Tua yang Terus Berjuang
Mungkin seorang anak tidak selalu mengatakan terima kasih setiap kali menerima uang untuk kuliah.
Mungkin mereka juga tidak tahu berapa banyak yang harus dikorbankan orang tua untuk membayar UKT, kos, dan kebutuhan sehari-hari.
Namun, bukan berarti perjuangan itu tidak berarti.
Di balik setiap uang kuliah yang dibayarkan, ada harapan.
Di balik uang kos, ada kekhawatiran.
Di balik uang makan, ada kasih sayang.
Dan di balik semua pengorbanan itu, ada doa agar anak dapat menyelesaikan pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
Maka, bagi mahasiswa yang saat ini masih dibiayai orang tua, jangan pernah menganggap remeh perjuangan tersebut.
Kuliah bukan hanya tentang datang ke kampus, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu mendapatkan gelar.
Kuliah juga tentang memahami bahwa ada orang tua yang setiap bulan berusaha memastikan kebutuhan anaknya tetap terpenuhi.
Karena pada akhirnya, UKT mungkin dibayar setiap semester, tetapi perjuangan orang tua membiayai kuliah berlangsung setiap hari.
Dan mungkin, suatu hari nanti ketika kita sudah mampu berdiri sendiri, barulah kita benar-benar memahami betapa mahalnya perjuangan orang tua untuk membuat kita sampai di bangku perkuliahan.

