Konten dari Pengguna

MRT ke Pamulang: Jalan Baru bagi Ekonomi Warga atau Pemicu Harga Properti?

Sheila Mitha Fitria Arnova

Sheila Mitha Fitria Arnova

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sheila Mitha Fitria Arnova tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi

MRT sering dibayangkan sebagai solusi kemacetan. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, perjalanan ke Jakarta lebih mudah, dan masyarakat punya alternatif selain kendaraan pribadi. Namun, jika suatu hari MRT benar-benar menjangkau kawasan Pamulang, dampaknya mungkin tidak berhenti di soal transportasi.

Ada pertanyaan ekonomi yang menurut saya justru lebih menarik: siapa yang paling diuntungkan ketika sebuah kawasan mendapatkan akses transportasi massal baru?

Rencana pengembangan MRT menuju Tangerang Selatan memang masih dalam tahap studi kelayakan. Pemerintah menargetkan studi kelayakan koridor Lebak Bulus–Serpong selesai pada akhir 2026. Bahkan, rute pastinya belum diumumkan karena masih mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk dampak terhadap kawasan yang akan dilalui.

Artinya, membicarakan MRT di Pamulang saat ini bukan berarti menganggap proyek tersebut sudah pasti dibangun. Justru ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih jauh: kalau transportasi massal benar-benar masuk ke kawasan seperti Pamulang, perubahan ekonomi apa yang mungkin terjadi?

Bukan hanya soal ongkos perjalanan

Kehadiran MRT dapat membuat suatu wilayah menjadi lebih mudah diakses. Bagi pekerja yang setiap hari menuju Jakarta, misalnya, akses transportasi yang lebih baik dapat mengurangi waktu perjalanan dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Efeknya bisa merambat ke kegiatan ekonomi lain.

Orang yang sebelumnya enggan membuka usaha di lokasi tertentu karena aksesnya sulit mungkin mulai melihat peluang. Kedai makan, minimarket, jasa laundry, tempat kos, hingga usaha kecil di sekitar stasiun berpotensi mendapatkan pasar baru.

Di titik ini, MRT bukan lagi sekadar proyek transportasi. Ia bisa menjadi infrastruktur ekonomi.

Semakin mudah sebuah wilayah dijangkau, semakin besar pula peluang terjadinya aktivitas ekonomi di dalamnya.

Namun, ada sisi lain yang sering luput dibicarakan.

Ketika akses membaik, harga tanah ikut berbicara

Pembangunan transportasi memang dapat meningkatkan daya tarik suatu kawasan. Tetapi daya tarik tersebut juga bisa tercermin pada harga tanah dan properti.

Bayangkan seseorang yang sudah memiliki rumah atau tanah di sekitar kawasan yang nantinya berkembang menjadi titik transit. Ketika akses transportasi membaik dan permintaan terhadap kawasan tersebut meningkat, nilai aset yang dimilikinya berpotensi ikut terdorong.

Bagi pemilik properti, ini tentu menjadi kabar baik.

Tetapi bagi masyarakat yang menyewa rumah atau tinggal dengan penghasilan pas-pasan, ceritanya bisa berbeda.

Jika harga tanah meningkat, harga rumah dan biaya sewa juga berpotensi ikut terdorong. Kawasan yang semakin strategis bisa menjadi semakin mahal untuk ditinggali.

Di sinilah pembangunan transportasi menghadirkan sebuah paradoks. MRT dapat membuka pintu menuju pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan itu belum tentu dinikmati secara merata.

Jangan sampai warga hanya menjadi penonton

Menurut saya, keberhasilan MRT tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah penumpang atau berapa menit waktu perjalanan yang berhasil dipangkas.

Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah masyarakat di sekitar jalur tersebut ikut mendapatkan manfaat ekonomi?

Jangan sampai kawasan di sekitar stasiun berkembang pesat, tetapi usaha kecil justru tersingkir karena biaya sewa tempat usaha semakin mahal. Jangan sampai masyarakat lokal hanya melihat harga properti meningkat, sementara mereka sendiri semakin sulit membeli atau menyewa tempat tinggal di wilayahnya.

Karena itu, pembangunan transportasi seharusnya berjalan bersama dengan perencanaan kawasan.

Keberadaan stasiun bisa diarahkan menjadi pusat kegiatan ekonomi yang tidak hanya diisi oleh pusat perbelanjaan atau bisnis berskala besar. Pelaku UMKM lokal juga perlu mendapatkan ruang untuk berkembang.

Begitu pula dengan hunian. Jika kawasan transit berkembang tanpa memperhatikan keterjangkauan tempat tinggal, masyarakat berpenghasilan rendah bisa terdorong semakin jauh dari pusat aktivitas ekonomi.

Pamulang dan masa depan ekonominya

Pamulang bukan sekadar kawasan tempat orang tinggal lalu pergi bekerja ke Jakarta. Kawasan ini juga memiliki aktivitas perdagangan, pendidikan, jasa, dan usaha masyarakat yang terus berkembang.

Karena itu, jika suatu saat MRT benar-benar melewati Pamulang, dampaknya seharusnya dipandang lebih luas daripada sekadar mempermudah perjalanan menuju Jakarta.

MRT bisa menjadi pemicu munculnya pusat-pusat ekonomi baru. Tetapi hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menata kawasan tersebut.

Transportasi yang baik seharusnya membuat masyarakat lebih mudah bergerak tanpa membuat mereka kehilangan tempat untuk tinggal dan mencari nafkah.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya apakah MRT akan membuat perjalanan warga Pamulang lebih cepat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: ketika akses menuju Pamulang semakin mudah, apakah ekonomi warganya ikut naik, atau justru harga tanah dan properti yang melaju lebih dulu?

Sebab, pembangunan transportasi pada akhirnya bukan hanya tentang membangun jalur dan stasiun. Ia juga tentang menentukan siapa yang mendapatkan kesempatan paling besar dari perubahan sebuah kawasan.