Konten dari Pengguna

Transformasi Transaksi Digital Lewat MENGULAS Untuk UMKM di Desa Tegalsari

Cut Kinasih

Cut Kinasih

Mahasiswa Universitas Airlangga jurusan Perbankan dan Keuangan

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cut Kinasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi Transaksi Digital  Lewat MENGULAS Untuk UMKM di Desa Tegalsari
zoom-in-whitePerbesar

Mahasiswa KKN BBK 6 Universitas Airlangga di Desa Tegalsari, jalankan program pilar ekonomi untuk transformasi keuangan digital pada UMKM desa.

Di tengah pesatnya teknologi digital, banyak pelaku UMKM yang dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman dan cepat beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan pasar. Namun, fakta di lapangan menunjukan bahwa tidak semua pelaku UMKM memiliki akses, pemahaman, dan keterampilan terhadap pemanfaatan teknologi yang optimal. Melihat tantangan dan kendala ini, mahasiswa KKN BBK 6 Universitas Airlangga hadirkan solusi melalui program MENGULAS (Menuju UMKM Naik Kelas), sebuah inisiatif yang mendorong digitalisasi UMKM khususnya transformasi dalam bertransaksi yang awalnya konvensional menjadi terintegrasi dengan QRIS. Program ini memiliki fokus akan pendampingan pelaku UMKM di desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi untuk mengenal dan berpindah ke sistem pembayaran digital lewat QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Pembuatan QRIS sendiri melalui media shopee partner, karena tidak disertai biaya admin saat pencairan. Mahasiswa BBK 6 Universitas Airlangga membantu proses pendaftaran, pembuatan akun, hingga verifikasi untuk mendapatkan QRIS resmi bagi pelaku usaha. Tidak hanya itu, tim juga memberikan bimbingan mulai dari menerima pembayaran hingga proses pencairan dana ke rekening pemilik UMKM.

Sayangnya, meskipun program ini membawa semangat yang berdampak baik, tetapi kondisi di lapangan tidak luput dari tantangan yang menyertai. Program ini hanya berhasil memverifikasi dua UMKM dari empat UMKM oleh Shopee Partner, banyaknya berkas yang harus dilengkapi serta ketatnya proses verifikasi menjadi kendala tersendiri bagi tim. Selain itu, banyak UMKM yang menolak program kami, karena sebagian besar dari mereka masih merasa nyaman dengan metode konvensional seperti pembayaran tunai dan transfer bank. Tidak jarang juga yang menolak program karena dirasa rumit dalam prosesnya, takut ditipu, atau tidak memahami manfaatnya secara menyeluruh.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi UMKM tidak cukup dengan menyediakan akses dan teknologi, namun perlu disertai pendekatan persuasif dan edukasi berkelanjutan. Perubahan pola pikir dan kebiasaan menjadi kunci utama dalam menyukseskan transformasi digital di sektor UMKM.

Melalui program MENGULAS, diharapkan bahwa hadirnya mahasiswa KKN BBK 6 Universitas Airlangga bukan sekedar pemicu awal, tetapi sebagai jembatan bagi para pelaku usaha untuk lebih terbuka dengan inovasi, meski pencapaian ini dinilai belum maksimal, langkah kecil ini diharapkan menjadi fondasi dalam perkembangan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.