Konten dari Pengguna

Dilema IPK Tinggi dan Rasa Bingung Mahasiswa dalam Menentukan Masa Depan

Cyrilla Nur Khulaida

Cyrilla Nur Khulaida

Penulis dan mahasiswa Universitas Pamulang yang aktif menulis tentang isu sosial dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cyrilla Nur Khulaida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi belajar (sumber: https://www.pexels.com/id)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi belajar (sumber: https://www.pexels.com/id)

Beberapa waktu lalu, aku ngobrol sama teman dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dia termasuk mahasiswa yang aktif, IPK-nya bagus, ikut organisasi, bahkan sering jadi panitia kampus. Dari luar kelihatannya keren banget. Tapi ternyata, dia justru sering merasa cemas soal masa depannya sendiri.

Dia pernah bilang, “Aku belajar banyak teori bisnis, tapi kenapa tetap bingung nanti setelah lulus mau jadi apa?”

Dan ternyata, bukan dia saja yang merasakan hal itu. Banyak mahasiswa FEB punya tekanan yang sama. Kita dituntut untuk terlihat sukses, aktif, produktif, dan punya rencana masa depan yang jelas. Padahal kenyataannya, banyak dari kita masih sama-sama bingung mencari arah.

Tugas Banyak, Tapi Ilmu Praktik Masih Kurang

Di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tugas hampir selalu datang setiap minggu. Mulai dari presentasi, makalah, proposal bisnis, laporan keuangan, sampai penelitian. Kadang satu mata kuliah saja sudah menguras tenaga dan pikiran.

Masalahnya, banyak mahasiswa merasa teori yang dipelajari belum cukup untuk menghadapi dunia kerja nyata. Kita belajar tentang strategi bisnis, manajemen perusahaan, atau pemasaran digital, tapi saat magang justru sering bingung harus mulai dari mana.

Akhirnya banyak mahasiswa merasa lelah belajar hanya untuk mengejar nilai, bukan benar-benar memahami praktik di lapangan.

Tekanan Harus Cepat Sukses

Anak FEB sering dianggap punya masa depan cerah. Banyak orang berpikir lulusan ekonomi dan bisnis pasti gampang cari kerja, bisa jadi pengusaha, atau punya gaji besar. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Media sosial juga membuat tekanan semakin besar. Tiap hari kita melihat orang seusia sudah punya bisnis, jadi content creator sukses, atau diterima kerja di perusahaan besar. Tanpa sadar, kita jadi sering membandingkan diri sendiri.

Padahal setiap orang punya proses yang berbeda. Tidak semua mahasiswa langsung tahu tujuan hidupnya sejak awal kuliah.

Magang Kadang Tidak Sesuai Ekspektasi

Banyak mahasiswa berharap magang bisa jadi tempat belajar dan berkembang. Tapi realitanya, ada juga yang justru hanya disuruh mengerjakan pekerjaan kecil tanpa benar-benar diajarkan.

Aku pernah dengar cerita teman yang magang di perusahaan cukup besar, tapi selama dua bulan tugasnya hanya input data dan fotokopi dokumen. Ketika mencoba bertanya lebih jauh tentang pekerjaan lain, jawabannya cuma, “Nanti juga belajar sendiri.”

Dari situ banyak mahasiswa mulai sadar kalau dunia kerja tidak selalu seideal yang dibayangkan.

Quarter Life Crisis Mulai Datang Sejak Kuliah

Hal yang jarang dibahas adalah banyak mahasiswa FEB mengalami tekanan mental bahkan sebelum lulus. Mereka takut tidak mendapat pekerjaan, takut mengecewakan orang tua, dan takut merasa tertinggal dibanding teman-temannya.

Kadang kita terlihat santai di kampus, nongkrong bareng, ketawa bareng. Tapi di dalam kepala, banyak yang sedang memikirkan masa depan setiap malam.

Dan lucunya, semakin mendekati wisuda, rasa takut itu justru semakin besar.

Tidak Semua Tentang Nilai dan Gelar

Pada akhirnya, kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis bukan cuma soal IPK tinggi atau cepat lulus. Yang lebih penting adalah bagaimana kita berkembang, belajar menghadapi tekanan, dan menemukan tujuan yang benar-benar ingin dicapai.

Karena dunia kerja nanti bukan hanya melihat siapa yang paling pintar, tapi juga siapa yang mampu bertahan, terus belajar, dan beradaptasi dengan perubahan.

Dan mungkin, tidak apa-apa kalau hari ini kita masih bingung. Sebab sebagian besar anak muda sebenarnya sedang mencari arah hidupnya masing-masing.