Menghapus Stigma Lewat Kunjungan KKN UPI ke SLB Syiarul Muslimin

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dafina Ainand tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Neglasari, Garut – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kelompok Desa Neglasari melaksanakan kunjungan edukatif ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Syiarul Muslimin, sebagai bagian dari program kerja KKN di bidang pendidikan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat proses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus sekaligus menumbuhkan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua anak. Di tengah lingkup kehidupan bermasyarakat, pemahaman mengenai Sekolah Luar Biasa (SLB) masih sering diselimuti oleh berbagai stigma dan kesalahpahaman. Padahal, SLB hadir sebagai ruang belajar yang memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus untuk tumbuh, berkembang, dan memperoleh hak pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengenal proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga memahami perjuangan panjang para pendidik dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Salah satu pengelola sekaligus generasi penerus SLB Syiarul Muslimin, Yeni Setiasih, menceritakan cikal bakal berdirinya sekolah tersebut. Menurutnya, sekolah ini lahir dari keprihatinan orang tuanya melihat banyak anak disabilitas di sekitar Desa Cangkuang, Neglasari, dan Haruman yang tidak bisa bersekolah.
"Papa dan mama melihat kondisi warga di sekitar sini, di sekitar Cangkuang, Neglasari, Haruman, banyak anak disabilitas yang tidak bisa sekolah karena waktu itu SLB baru ada satu, di Leles, jaraknya lumayan jauh. Dari situ Papa terbersit ingin mendirikan SLB, karena memang basic orang tua saya itu di SLB," Ucap Pengelola SLB Syiarul Muslimin, Yeni Setiasih, Rabu (15/07/2026).
Dari titik itulah SLB Syiarul Muslimin berdiri, dengan visi mewujudkan pendidikan layanan khusus yang bermutu bagi anak-anak disabilitas.
"Melalui pendidikan layanan khusus yang bermutu, kami ingin menjadikan anak-anak disabilitas menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mandiri di masyarakat dengan karakter Pancawaluya" Ujarnya.
Hingga kini, sekolah tersebut melayani peserta didik mulai jenjang TKLB, SDLB, SMPLB, hingga SMALB dengan karakteristik kebutuhan yang beragam, di antaranya tunarungu, tunawicara, tunagrahita, autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Down syndrome, serta berbagai kebutuhan khusus lainnya. Dengan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta didik, sekolah berupaya memastikan setiap anak dapat belajar secara optimal.
Yeni mengakui, tantangan terbesar pada masa awal berdirinya sekolah bukan hanya soal sarana, melainkan pandangan masyarakat yang keliru terhadap SLB.
"Dulu masyarakat di sini masih memandang sekolah SLB itu sekolah orang-orang gila. Jadi wawasan tentang SLB itu masih negatif," Ucapnya.
Untuk mengubah pandangan tersebut, para pengajar mendatangi langsung rumah-rumah warga di desa-desa sekitar untuk mendata anak disabilitas sekaligus meyakinkan orang tua. Namun, upaya itu tidak selalu disambut baik.
"Kami menjaring ke wilayah desa-desa terdekat, meminta data disabilitas ke desa. Tapi tidak semua orang tua yang kami datangi itu menerima." Imbuhnya.
Kesabaran para pendidik perlahan membuahkan hasil. Dalam dua tahun terakhir, semakin banyak orang tua yang datang sendiri mendaftarkan anaknya ke SLB Syiarul Muslimin. Beliau menjelaskan, kesediaan orang tua menyekolahkan anak ke SLB bukan berarti mereka pasrah pada keterbatasan sang anak, melainkan bentuk pemahaman bahwa sekolah membawa manfaat lain di luar aspek akademik.
"Sekolah di SLB ini tidak akan menyembuhkan, tapi dengan sekolah, anak yang punya kekurangan apa pun minimal punya jiwa sosial, punya teman, rasa disiplinnya pun tertanam, walaupun mereka tidak paham apa-apa," Ujarnya.
Yeni berharap masyarakat, terutama orang tua yang memiliki anak dengan hambatan intelektual, mental, maupun fisik, tidak lagi ragu untuk mengenal SLB dan menyekolahkan anaknya sesuai kebutuhan. Ia menyoroti masih adanya orang tua yang memaksakan anaknya masuk ke sekolah umum, padahal si anak membutuhkan layanan pendidikan khusus. Menurutnya, pihak sekolah kerap kedatangan guru SD maupun TK yang berkonsultasi karena mendapati siswa yang semestinya bersekolah di SLB, namun orang tuanya belum bersedia memindahkan sang anak, salah satunya karena rasa gengsi akibat pandangan masyarakat yang masih menganggap SLB sebagai sesuatu yang asing.
Untuk para siswa didiknya, Yeni menaruh harapan besar agar mereka dapat hidup mandiri di masyarakat setelah lulus, tidak lagi bergantung pada orang tua. Baginya, status sebagai anak disabilitas bukan penghalang untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan diterima di lingkungan sekitar.
Di akhir perbincangan, Yeni menegaskan bahwa pendidikan inklusif di SLB sesungguhnya tidak seseram yang selama ini dibayangkan masyarakat. Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang tua yang memiliki putra-putri dengan hambatan intelektual, mental, maupun fisik, khususnya yang berada di wilayah Neglasari, Cangkuang, dan sekitarnya, untuk mempercayakan pendidikan anak mereka kepada SLB Syiarul Muslimin.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPI berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, kesempatan berkembang, dan lingkungan yang menerima mereka tanpa stigma. SLB Syiarul Muslimin menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif mampu membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mandiri, kreatif, dan percaya diri.
Terdapat pembelajaran berhagar yang kami peroleh. Kami belajar bahwa setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang berbeda. Keterbatasan yang dimiliki bukanlah penghalang untuk berkarya. Berbagai hasil karya siswa menjadi bukti nyata bahwa mereka memiliki kemampuan yang patut diapresiasi, mulai dari melukis, membuat kerajinan tangan, face painting, hingga berbagai keterampilan kreatif lainnya.
Pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan hanya bertujuan memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membangun rasa percaya diri, mengembangkan bakat, melatih keterampilan hidup, serta mempersiapkan mereka agar mampu hidup lebih mandiri di lingkungan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPI berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, kesempatan berkembang, dan lingkungan yang menerima mereka tanpa stigma. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci agar setiap anak dapat mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
SLB Syiarul Muslimin menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif mampu membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mandiri, kreatif, dan percaya diri. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, diharapkan semakin banyak anak yang memperoleh kesempatan belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang mampu berkontribusi sesuai dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki.
