Apple Sebar Peringatan Spyware Massal ke Pengguna di 110 Negara

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi data security, security, data. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi data security, security, data. Foto: Pixabay

Raksasa teknologi Apple baru saja meluncurkan gelombang peringatan keamanan terbaru dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada para penggunanya di 110 negara. Langkah darurat ini memicu lonjakan laporan dari para korban yang mendeteksi adanya aktivitas mercenary spyware atau peretasan tingkat tinggi yang disponsori oleh negara pada perangkat mereka.

Berbagai lembaga pemantau hak digital global dan firma keamanan siber mengonfirmasi adanya lonjakan dramatis terkait laporan ancaman ini. Fenomena ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pengamat bahwa kampanye spionase siber global saat ini sedang berlangsung dalam skala yang jauh lebih masif dari yang diperkirakan sebelumnya.

Lonjakan Laporan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

Direktur tim investigasi Access Now, Mohammed Al-Maskati, mengungkapkan bahwa lini bantuan darurat mereka kebanjiran aduan dari para pengguna Apple sejak akhir pekan lalu. Jumlah aduan yang masuk tercatat melonjak sekitar 30 hingga 40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan gelombang pengiriman notifikasi keamanan Apple di masa-masing sebelumnya. Lonjakan ini mencakup pula para pengguna yang sebelumnya pernah menerima peringatan serupa namun kini kembali menjadi target aktif serangan siber.

Peneliti senior di The Citizen Lab, John Scott-Railton, menegaskan bahwa pola persebaran notifikasi kali ini sangat tidak biasa. Ia mengumpamakan fenomena ini dengan puncak gunung es dari sebuah operasi intelijen siber yang jauh lebih besar. “Skala dan keragaman geografis dari unggahan publik mengenai penerimaan notifikasi ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah indikasi kuat bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di balik layar,” ujar Scott-Railton.

Anggota Militer Ukraina Turut Menjadi Target

Skala dari serangan siber ini kian nyata setelah sejumlah figur publik dan personel militer mengonfirmasi penerimaan alarm tersebut secara terbuka. Salah satu korban adalah seorang prajurit aktif Angkatan Bersenjata Ukraina yang saat ini tengah berada di garis depan pertempuran melawan Rusia. Prajurit yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut mengaku sempat mengira peringatan itu merupakan upaya penipuan digital biasa sebelum akhirnya divalidasi langsung oleh pihak Apple. “Sejujurnya saya agak terkejut, saya tidak pernah mengira bahwa saya cukup penting untuk dijadikan target seperti ini,” ungkap prajurit tersebut saat diwawancarai.

Pihak militer Ukraina dilaporkan terkejut karena tidak menduga mereka akan menjadi target langsung dari serangan siber sekelas mercenary spyware yang membutuhkan biaya sangat mahal tersebut. Selain prajurit tersebut, beberapa rekannya di korps militer Ukraina juga dilaporkan menerima peringatan keamanan yang sama. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius di internal pertahanan siber Ukraina, meski lembaga tanggap darurat siber negara tersebut belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.

Metode Notifikasi Baru Memperluas Kesadaran Pengguna

Banyak analis menilai bahwa lonjakan aduan ke pusat bantuan hak digital ini tidak lepas dari pembaruan sistem peringatan yang baru diterapkan oleh Apple. Mulai tahun ini, perusahaan menyebarkan notifikasi ancaman langsung ke layar kunci iPhone, aplikasi pengaturan sistem, surat elektronik terdaftar, hingga halaman masuk akun Apple di web. Langkah taktis ini dinilai berhasil menekan tingkat ketidakpedulian pengguna terhadap serangan siber terarah. Al-Maskati menjelaskan, “Metode notifikasi baru Apple telah membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya masalah ini, sehingga pengguna lebih sulit untuk mengabaikannya.”

Sebagai langkah pencegahan yang sangat direkomendasikan, Apple dan para pakar siber mendesak para pengguna yang masuk dalam daftar target untuk segera mengaktifkan fitur Lockdown Mode pada perangkat mereka. Fitur keamanan ekstrem ini dirancang khusus untuk membatasi fungsi-fungsi rentan pada iPhone, iPad, dan komputer Mac, guna mencegah infeksi malware berbahaya. Sejauh ini, pihak pengembang mengeklaim belum menemukan adanya kasus peretasan yang berhasil menembus pertahanan perangkat yang telah mengaktifkan mode proteksi ketat ini.