Konten dari Pengguna

Humanisme Kartini di Tengah Pandemi

Damar Tri Afrianto

Damar Tri Afrianto

Dosen di Institut Teknologi Telkom (ITT) Purwokerto

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damar Tri Afrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momen memperingati Hari Kartini sekiranya dapat digunakan untuk mencari relevansi pemikiran dan aktivis perempuan kelahiran 142 tahun lalu itu di masa pandemi Covid-19 kuartal kedua ini.

Kartini yang bukan hanya dilihat sebagai pencetus emansipasi perempuan namun lebih dari itu seorang kartini yang harus dilihat pada sisi optimismenya tentang sebuah kemandirian ekonomi dalam hubungan interdepensi secara gender. Sebagai mana kita saat ini yang harus terus berjuang dalam kemandirian ekonomi sepanjang pandemik tahun kedua ini. Kemandirian interpendensi Kartini ini lahir dari perlawanannya secara masif terhadap feoalisme dan kolonialisme di masanya.

Feodalisme berperan memproduksi iklim patriarki ke segala ruang, di mana dominasi kaum pria menguasai segala kepentingan. Sedangkan kolonialisme menciptakan perbudakan dan perendahan diri bagi pribumi.

Melalui buku berjudul Panggil Aku Kartini Sadja karangan Pramoedya Ananta Toer kita bisa saksikan bahwa perlawanan Kartini dilakukan dengan ‘pena tajamnya’. Sisi humanisme Kartini ditunjukan dengan kepeduliannya terhadap penderitaan rakyat waktu itu yang ditorehkan dalam tulisan-tulisannya. Surat kabar-surat kabar yang memuat tulisan-tulisan perlawanan Kartini membuat gusar jajaran pemerintah Belanda waktu itu dan gaung dari surat-surat itu menggema ke belahan di dunia.

Kita bisa tengok ungkapan Pramodeya tentang Kartini bahwa,

"Sastra menjadi kekuatan bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai kebebasan dan kekuasaan. Maka, hanya dengan mengarang lah Kartini bisa menunjukkan kekuatannya."

Kartini Sebuah Harapan

Situasi pandemi covid 19 yang sedang melanda di belahan dunia, tidak berlebihan jika nilai Kartini bisa diadaptasi bagi semua kalangan tak hanya kaum perempuan. Kartini mengajarkan kita tentang harapan sebuah perubahan. Mental optimisme dan berjuang dengan kemampuan yang dimiliki, adalah sikap-sikap yang penting diterapkan di tengah pandemi ini.

Sungguh ironis, wabah yang sedang melanda ini justru masih ada pihak-pihak yang membuat situasi tidak kondusif. Munculnya berita hoaks, propaganda pada pemerintah, serta apatisme terhadap protokol kesehatan adalah sebagian rangkaian sifat yang jauh dari nilai humanis Kartini.

Kartini adalah influencer yang melintas zaman, kita melihatnya bukan hanya tokoh bagi kaum perempuan, tapi melihatnya pada sisi kemanusiaannya. Dalam konteks saat ini, perayaan Kartini tidak cukup hanya dimasukkan dalam pemaknaan emansipasi perempuan. Kartini adalah representasi dari upaya menjadi manusia seutuhnya.

Kartini menjadi pengingat agar tidak terjerumus pada disorientasi diri dan hanya memprioritaskan nilai pribadi maupun kelompok. Di saat pandemi ini, kemampuan humanitas kita sangat diperlukan baik dalam sikap toleransi maupun berbagi. Aturan social distancing, di sisi lain telah memicu ketegangan ekonomi dan sosial, terutama ekonomi kelas ke bawah.

Tidak sedikit dari masyarakat kita yang hilang pekerjaannya, di sinilah peran kita untuk tidak hanya mementingkan nilai pribadi. Sikap seperti itulah yang dikorbarkan Kartini.

Rehistoris

Kartini yang mendukung kesetaraan hak asasi bagi wanita di Indonesia. Namun, sebenarnya apa yang dilakukan Kartini secara implisit adalah atas nama kemanusiaan, atas nama memperjuangkan hak-hak keadilan, dalam hal ini kategori gender tidak cukup memadai. Sosok Kartini bukan pola interaksi linear pada kaum perempuan, melainkan dalam situasi global dan pandemi ini sosok dan nilai

Kartini adalah interaksi ‘multilateral’, setiap anak bangsa dapat meneladani Kartini. Stereotip Kartini yang hanya berpusat pada perempuan dapat mereduksi nilai-nilai ketedalanannya. Karena sebenarnya Kartini adalah bagian dari ketedalan menjadi sebuah ‘bangsa’.

Menempatkan Kartini beserta nilai-nilai dalam konteks global akan mendorong keterbukaan kita untuk kembali ke khazanah yang lebih mendalam, lebih imajinatif dan manusiawi. Literatur sejarah tentang Kartini perlu dibukakan akses yang luas.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan atau sejarah diharapkan mampu mewadahi masyarakat untuk mengenal siapa Kartini secara luas bukan hanya sebagai sosok emansipasi perempuan , tapi sosok kemanusiannya. Nilai yang terkahir inilah yang penting saat situasi pandemi covid-19 ini.

Perayaan Hari Kartini di saat pandemi bukan hilang dan tiada, bukan juga kita tidak mampu merayakannya dengan gagap gempita seperti sedia kala, namun perayaan itu akan bermigrasi ke dalam hati sanubari setiap manusia.

R. A. Kartini. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Damar Tri Afrianto

Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV)

Institut Teknologi Telkom Purwokerto