Ketika Masyarakat Lebih Banyak Menonton daripada Membaca Berita

ASN Tugas Belajar di S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM. Pemerhati pendidikan dan media sosial. Penikmat kopi, film, musik, dan kuliner.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Danasmoro Brahmantyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, cara kita memahami dunia berubah cukup drastis. Informasi tentang politik, ekonomi, konflik global, hingga isu sehari-hari tidak lagi datang melalui cara yang sama seperti dulu. Kita tidak selalu membuka situs berita, membaca koran, atau mencari laporan panjang. Sebaliknya, banyak orang kini "bertemu" informasi di sela-sela aktivitas menonton video pendek di media sosial.
Perubahan ini bukan sekadar soal teknologi. Ketika cara memperoleh informasi berubah, cara kita memahami dunia pun ikut berubah.
Laporan Digital News Report dari Reuters Institute menunjukkan bahwa media sosial dan platform video kini telah menjadi salah satu pintu masuk utama masyarakat untuk mengakses berita. Di Indonesia, kecenderungan ini bahkan terlihat lebih kuat. Banyak orang memperoleh informasi melalui media sosial dan aplikasi percakapan, sementara proporsi yang mengakses berita langsung melalui situs resmi media relatif jauh lebih kecil.
Perubahan tersebut menandai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bergantinya platform. Yang sedang berubah sesungguhnya adalah hubungan antara publik, informasi, dan kepercayaan.
Di saat yang sama, berbagai survei internasional menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap informasi dan institusi yang memproduksinya cenderung mengalami tekanan. Data Reuters Institute menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap berita secara global turun ke titik terendah sejak pengukuran dimulai pada 2015, yaitu sebesar 37%.
Masyarakat kini dihadapkan pada limpahan informasi yang datang dari banyak sumber sekaligus, tetapi tidak selalu memiliki pijakan yang sama untuk menentukan mana yang dapat dipercaya. Akibatnya, perdebatan publik sering kali tidak lagi dimulai dari perbedaan pendapat, melainkan dari perbedaan mengenai fakta yang dianggap nyata. Barangkali inilah salah satu wajah paling nyata dari era post-truth.
Berebut Perhatian
Jika kita melihat kembali satu dekade lalu, kebanyakan orang memperoleh berita dengan cara yang relatif sederhana. Kita membuka koran, menyalakan televisi, atau mengunjungi portal berita secara sengaja karena ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kini pola itu berubah. Banyak orang tidak lagi mencari berita secara aktif. Mereka justru menemukannya di tengah aliran konten media sosial. Saat membuka Instagram, TikTok, YouTube, atau Facebook, berita muncul berdampingan dengan video hiburan, konten gaya hidup, resep makanan, hingga promosi produk.
Perubahan ini sering disebut sebagai platformisasi. Informasi tidak lagi mengalir langsung dari produsen berita kepada publik, melainkan melalui perantara platform digital yang menggunakan algoritma untuk menentukan apa yang layak dilihat setiap pengguna.
Akibatnya, perhatian menjadi komoditas yang semakin langka. Berita harus bersaing dengan jutaan konten lain yang sama-sama memperebutkan waktu dan fokus audiens.
Reuters Institute mencatat kecenderungan lain yang tidak kalah penting: semakin banyak orang sengaja menghindari berita. Sebagian merasa lelah menghadapi arus informasi yang terus dipenuhi konflik, krisis, dan ketidakpastian. Akibatnya, tantangan komunikasi publik hari ini bukan hanya membuat masyarakat memahami informasi, tetapi juga membuat mereka tetap bersedia memperhatikannya.
Di saat yang sama, format informasi juga berubah. Video pendek, visual yang menarik, dan penyampaian yang langsung ke inti persoalan semakin disukai dibandingkan teks yang panjang dan padat. Bukan berarti masyarakat berhenti membaca, tetapi aktivitas membaca berita kini harus bersaing dengan pengalaman visual yang lebih cepat dan lebih mudah dicerna.
Bergantinya Penjaga Gerbang
Perubahan lain yang tidak kalah penting adalah bergesernya sumber kepercayaan. Dulu, media arus utama menjadi penjaga gerbang informasi. Kini, mereka berbagi ruang dengan kreator konten, podcaster, influencer, dan berbagai figur publik yang memiliki hubungan lebih personal dengan audiensnya.
Banyak kreator mampu menjelaskan isu yang rumit dengan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian masyarakat merasa lebih mudah memahami sebuah isu dari video seorang kreator dibandingkan dari laporan resmi yang panjang dan formal.
Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut sosiolog Zygmunt Bauman sebagai liquid modernity. Dalam masyarakat yang serba cair dan terus berubah, otoritas yang dahulu dianggap mapan tidak lagi diterima begitu saja. Kepercayaan harus terus dibangun dan dipertahankan.
Di satu sisi, perkembangan ini membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Namun, di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan baru. Popularitas tidak selalu berjalan beriringan dengan akurasi, dan kedekatan emosional tidak selalu identik dengan kebenaran.
Algoritma, AI, dan Ilusi Pemahaman
Perubahan lanskap informasi semakin kompleks ketika algoritma dan kecerdasan buatan mulai memainkan peran yang lebih besar. Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows pernah mengingatkan bahwa internet mendorong kita untuk mengonsumsi informasi secara cepat, singkat, dan terfragmentasi. Kita terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa sempat mendalaminya.
Kini kecenderungan tersebut diperkuat oleh kehadiran akal imitasi atau artificial intelligence (AI) generatif. Berbagai platform digital mampu merangkum berita, menjawab pertanyaan, dan menyajikan informasi dalam hitungan detik. Kemudahan ini tentu membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih cepat.
Hanya saja, ada risiko yang perlu disadari dan diwaspadai bersama. Semakin banyak orang merasa cukup membaca ringkasan tanpa pernah menelusuri sumber aslinya. Kita merasa sudah memahami sebuah isu, padahal yang kita miliki sering kali hanya gambaran singkat yang belum tentu utuh.
Di Indonesia, diskusi tentang AI juga berkembang dalam konteks yang unik. Sebelum banyak digunakan oleh ruang redaksi media, teknologi AI generatif lebih dahulu dikenal publik melalui berbagai konten politik di media sosial selama Pemilu 2024. Pengalaman ini menunjukkan bahwa
AI tidak hanya berfungsi sebagai alat pengolah informasi, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat membentuk persepsi publik.
Menjaga Kepercayaan di Tengah Banjir Informasi
Bagi dunia komunikasi publik dan pembangunan, perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus risiko. Informasi tentang kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, atau berbagai program pembangunan kini dapat menjangkau lebih banyak orang melalui format yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Jan Servaes mengenai komunikasi pembangunan partisipatif, yaitu komunikasi yang melibatkan masyarakat sebagai mitra, bukan sekadar penerima pesan.
Namun, risikonya juga nyata. Ketika masyarakat semakin bergantung pada media sosial dan aplikasi percakapan sebagai sumber informasi, ruang publik menjadi lebih rentan terhadap misinformasi, disinformasi, dan polarisasi. Eli Pariser menyebut gejala ini sebagai filter bubble, yaitu kondisi ketika algoritma membuat kita lebih sering melihat informasi yang sesuai dengan pandangan kita sendiri dan semakin jarang berhadapan dengan perspektif yang berbeda. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membentuk echo chamber, ruang gema tempat keyakinan yang sama terus menerus dipantulkan dan diperkuat, sementara pandangan yang berbeda semakin jarang ditemui. Tantangannya bukan hanya soal akurasi informasi, tetapi juga berkurangnya kemampuan masyarakat untuk berdialog dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Ironisnya, pada saat kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting, banyak organisasi media profesional justru menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, sejumlah media mengurangi jumlah pekerja, mengecilkan ruang redaksi, atau bahkan menghentikan operasinya.
Pada saat yang sama, kepemilikan media semakin terkonsentrasi pada segelintir kelompok bisnis besar yang juga memiliki kepentingan politik dan ekonomi. Peneliti media Indonesia, seperti Agus Sudibyo dan Ignatius Haryanto, telah lama mengingatkan bahwa konsentrasi kepemilikan semacam ini berpotensi memengaruhi keragaman informasi dan independensi pemberitaan. Dalam situasi seperti itu, tantangannya bukan hanya soal keberlanjutan ekonomi media, tetapi juga kemampuan media menjalankan fungsi pengawasan terhadap kekuasaan.
Media yang sehat mutlak diperlukan sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga kualitas informasi publik.
Menjaga Hak untuk Bertanya
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menjadi yang paling sering muncul di layar masyarakat. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana tetap dipercaya.
Marshall McLuhan pernah mengatakan bahwa, "the medium is the message." Cara kita menyampaikan sesuatu ikut membentuk makna dari pesan itu sendiri. Ketika medium yang dominan kini adalah video pendek, algoritma, dan ringkasan AI, maka cara berkomunikasi juga harus beradaptasi.
Satu hal tidak boleh berubah di tengah banjir informasi ini adalah kepercayaan tetap menjadi mata uang yang paling berharga.
Teknologi akan terus berganti, platform akan terus berubah, tetapi masyarakat tetap membutuhkan informasi yang akurat, jujur, dan dapat dipercaya untuk memahami dunia di sekelilingnya.
Menurutmu, bagaimana pemerintah, media, dan komunikator pembangunan sebaiknya merespons perubahan besar ini?
