Konten dari Pengguna

Tempe vs Tahu, Pangan Lokal Berbahan Global

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dani Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perajin Tempe dan Tahu Tradisional. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perajin Tempe dan Tahu Tradisional. Foto: Generated by AI

Indonesia mungkin satu-satunya negara di dunia yang mampu mengubah biji kedelai menjadi dua ikon kuliner berbeda. Keduanya telah menjadi bagian dari identitas bangsa. Harganya relatif murah, kandungan proteinnya tinggi, dan diterima oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Namun, ada sebuah ironi besar yang jarang disadari. Di balik statusnya sebagai pangan lokal, bahan baku utama tempe dan tahu justru berasal dari luar negeri. Sebagian besar kedelai yang diolah setiap hari oleh sekitar 160 ribu lebih pengrajin tempe dan tahu di Indonesia merupakan kedelai impor. Artinya, ketika masyarakat menikmati sepotong tempe goreng seharga Rp2.000, sesungguhnya mereka sedang menikmati hasil dari rantai pasok global yang dimulai ribuan kilometer jauhnya, dari ladang-ladang kedelai di Amerika Serikat atau Brasil.

Pertanyaan yang menarik bukan lagi apakah Indonesia mampu menanam kedelai, melainkan berapa besar manfaat ekonomi yang diperoleh jika sebagian impor berhasil digantikan oleh produksi dalam negeri.

Sumber data: World Integrated Trade Solution (WITS) – World Bank, berdasarkan data UN Comtrade (2024).

Mengacu pada nilai impor kedelai Indonesia pada 2024 yang mencapai sekitar US$1,40 miliar atau sekitar Rp23 triliun (kurs Rp16.500 per dolar AS), terdapat peluang ekonomi yang sangat besar apabila produksi domestik ditingkatkan secara bertahap.

Dengan asumsi kebutuhan nasional tetap sekitar 2,8 juta ton per tahun, simulasi sederhana menunjukkan:

Sumber data: Hasil analisis asumsi pengurangan impor, 2026.

Angka tersebut hanyalah manfaat langsung berupa penghematan devisa. Nilai ekonomi yang sesungguhnya jauh lebih besar karena setiap rupiah yang dibelanjakan untuk produksi kedelai dalam negeri akan berputar kembali di perekonomian nasional. Petani memperoleh pendapatan, industri benih berkembang, distributor pupuk memperoleh pasar, tenaga kerja terserap, transportasi meningkat, hingga industri pengolahan tahu dan tempe memperoleh pasokan yang lebih stabil. Dalam ekonomi regional, efek seperti ini dikenal sebagai multiplier effect, di mana satu aktivitas ekonomi memicu aktivitas ekonomi lainnya.

Dengan kata lain, setiap rupiah yang berhasil dialihkan dari impor menjadi produksi domestik berpotensi menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan sekadar menghemat devisa.

Indonesia Memiliki Keunggulan yang Tidak Dimiliki Negara Lain

Selama ini Indonesia sering dibandingkan dengan Amerika Serikat atau Brasil sebagai produsen kedelai. Padahal kondisi agroekologi ketiga negara tersebut sangat berbeda.

Amerika Serikat mengembangkan kedelai dalam sistem monokultur berskala ribuan hektare dengan mekanisasi penuh. Brasil memanfaatkan lahan Cerrado yang sangat luas. Indonesia memang tidak memiliki bentang lahan seperti itu, tetapi memiliki keunggulan lain yang justru lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Sebagai negara tropis, Indonesia dapat melakukan penanaman hampir sepanjang tahun. Di banyak wilayah, kedelai dapat ditanam sebagai tanaman kedua setelah padi tanpa harus membuka lahan baru. Sistem tanam padi–kedelai atau jagung–kedelai memungkinkan intensitas tanam meningkat sekaligus memperbaiki kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen alami.

Selain itu, Indonesia memiliki sekitar 7 juta hektare sawah, jutaan hektare lahan kering, serta kawasan perkebunan muda yang masih memungkinkan penerapan sistem tumpangsari. Jika hanya sebagian kecil dari potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal, peningkatan produksi nasional dapat berlangsung tanpa ekspansi lahan yang berisiko terhadap lingkungan.

Ancaman Perubahan Iklim Justru Menjadi Momentum

Perubahan iklim sering dipandang sebagai ancaman bagi sektor pertanian. Namun, bagi komoditas kedelai, kondisi tersebut juga dapat menjadi peluang apabila dikelola dengan tepat.

Kedelai membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan dengan padi. Pada musim kemarau, ketika banyak lahan sawah tidak lagi dapat ditanami padi karena keterbatasan air, kedelai justru dapat menjadi alternatif yang lebih efisien. Dengan pemanfaatan varietas toleran kekeringan, irigasi hemat air, dan teknologi pertanian presisi, kedelai berpotensi menjadi salah satu komoditas adaptif terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, sebagai tanaman leguminosa, kedelai memiliki jejak karbon yang relatif lebih rendah karena kebutuhan pupuk nitrogen sintetis lebih sedikit. Hal ini menjadikan pengembangan kedelai sejalan dengan agenda pertanian rendah emisi dan target penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia.

Belajar dari India dan Brasil

Keberhasilan meningkatkan produksi kedelai bukan sesuatu yang mustahil. India dan Brasil pernah menghadapi tantangan serupa.

Brasil mengubah wilayah Cerrado yang semula dianggap tidak produktif menjadi salah satu kawasan pertanian paling produktif di dunia melalui investasi besar pada riset varietas, pengelolaan tanah, pengapuran, serta pembangunan infrastruktur logistik.

India memilih pendekatan berbeda. Pemerintah memberikan dukungan harga minimum (Minimum Support Price/MSP), memperkuat penyuluhan pertanian, dan memperluas akses benih unggul sehingga petani memiliki kepastian pasar.

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari kedua negara tersebut. Bukan dengan meniru secara utuh, tetapi dengan mengadaptasi kebijakan sesuai karakteristik pertanian tropis Indonesia yang didominasi petani kecil.

Dari Swasembada Menuju Kedaulatan

Selama ini istilah swasembada sering dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan dari produksi sendiri. Padahal tantangan pangan saat ini jauh lebih kompleks.

Indonesia tidak hanya membutuhkan swasembada, tetapi juga kedaulatan pangan. Kedaulatan berarti petani memperoleh keuntungan yang layak, industri memperoleh pasokan yang stabil, konsumen menikmati harga yang terjangkau, dan negara tidak terlalu rentan terhadap gejolak pasar global.

Artinya, keberhasilan tidak diukur semata-mata dari berapa ton kedelai yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa kuat rantai pasok nasional mampu bertahan ketika terjadi krisis pangan dunia.

Saatnya Kedelai Menjadi Komoditas Strategis

Selama beberapa dekade, kedelai sering dipandang sebagai komoditas pelengkap dibandingkan dengan padi atau jagung. Padahal, jutaan rumah tangga Indonesia menggantungkan kebutuhan protein hariannya pada tahu dan tempe. Di balik makanan sederhana tersebut terdapat rantai ekonomi yang melibatkan petani, pedagang, industri pengolahan, hingga usaha mikro yang jumlahnya mencapai ratusan ribu.

Karena itu, penguatan produksi kedelai bukan sekadar kebijakan pertanian, melainkan investasi strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia. Setiap hektare kedelai yang berhasil dipanen bukan hanya menghasilkan biji-bijian, tetapi juga mengurangi ketergantungan impor, menghemat devisa, menciptakan lapangan kerja, memperkuat pendapatan petani, dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Tempe dan tahu telah menjadi simbol jati diri kuliner Indonesia. Kini tantangannya adalah memastikan bahwa identitas tersebut tidak lagi bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Ketika kedelai lokal mampu memenuhi kebutuhan nasional, maka Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negeri pencipta tempe, tetapi juga sebagai bangsa yang benar-benar berdaulat atas pangannya sendiri.