Konten dari Pengguna

Transformasi Kurikulum Indonesia: Peluang, Masalah, dan Solusi

Danisa Febri Asyifa

Danisa Febri Asyifa

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi, Di Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danisa Febri Asyifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pexels.com/Polina tankilevitch
zoom-in-whitePerbesar
Pexels.com/Polina tankilevitch

Perubahan kurikulum di Indonesia bukan hal yang asing. Bahkan bisa dibilang, kita sudah "langganan" ganti kurikulum. Dari zaman Kurikulum 1947, 1975, 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum 2006 (KTSP), Kurikulum 2013, sampai sekarang Kurikulum Merdeka. Setiap kali ganti, selalu disambut dengan janji akan "membawa angin segar" bagi pendidikan Indonesia. Tapi, seberapa banyak angin segar itu benar-benar terasa sampai ke ruang kelas?

Di satu sisi, kita harus jujur mengakui bahwa Kurikulum Merdeka menawarkan peluang yang besar. Sistem ini lebih fleksibel, berpusat pada peserta didik, dan memberi ruang pada guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa. Ada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mendorong siswa lebih terlibat aktif dan berpikir kritis. Ini langkah maju dibanding pendekatan sebelumnya yang sangat kaku dan seragam.

Namun, peluang ini tidak datang tanpa tantangan. Perubahan kurikulum di negeri ini sering kali tidak dibarengi dengan kesiapan sistem secara menyeluruh. Banyak guru yang mengaku belum sepenuhnya memahami implementasi kurikulum baru. Pelatihan yang disediakan kadang bersifat satu arah dan terlalu singkat. Akibatnya, banyak guru merasa kebingungan saat harus menyesuaikan metode ajar dengan konsep “merdeka belajar”.

Belum lagi bicara soal ketimpangan fasilitas. Sekolah-sekolah di kota besar mungkin bisa langsung tancap gas karena sudah punya akses internet stabil, perangkat teknologi memadai, dan lingkungan yang mendukung. Tapi bagaimana dengan sekolah-sekolah di pelosok? Masih banyak yang kekurangan guru, kekurangan buku, bahkan listrik pun terbatas. Dalam kondisi seperti ini, kurikulum sebagus apa pun akan sulit diterapkan.

Selain itu, partisipasi orang tua dan masyarakat juga masih minim. Padahal, kurikulum baru menekankan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas. Tanpa dukungan lingkungan sekitar, proses pembelajaran akan timpang. Siswa belajar hal-hal positif di sekolah, tapi tidak mendapat dukungan yang sama di rumah atau lingkungan. Akhirnya, pendidikan karakter pun hanya jadi sekadar slogan.

Lalu, apa solusinya?

Pertama, pemerintah harus berhenti menjadikan kurikulum sebagai proyek jangka pendek. Kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, melainkan arah perjalanan pendidikan bangsa. Butuh konsistensi, pendampingan jangka panjang, dan evaluasi yang benar-benar melibatkan suara guru dan siswa.

Kedua, investasi pada pelatihan guru harus jadi prioritas utama. Bukan hanya dalam bentuk seminar kilat, tapi pelatihan mendalam, praktik langsung, serta komunitas belajar yang aktif dan berkelanjutan. Guru bukan sekadar pelaksana kebijakan, tapi kunci utama keberhasilan kurikulum.

Ketiga, pemerataan infrastruktur pendidikan harus terus didorong. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi tidak bisa ditunda. Pendidikan adalah hak semua anak bangsa, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar atau punya akses digital.

Keempat, libatkan siswa sebagai subjek pendidikan, bukan objek. Dengarkan mereka. Apa yang mereka butuhkan? Apa yang membuat mereka semangat belajar? Kurikulum yang baik bukan hanya mengajar anak untuk lulus ujian, tapi membentuk mereka menjadi manusia utuh yang mampu berpikir, merasa, dan bertindak.

Transformasi kurikulum di Indonesia sebenarnya membawa harapan. Tapi harapan itu hanya akan jadi kenyataan jika semua pihak mau terlibat dan bekerja bersama. Pemerintah, guru, orang tua, dan siswa harus duduk dalam satu meja visi: membangun pendidikan Indonesia yang relevan, adil, dan memerdekakan.Karena sejatinya, pendidikan bukan soal mengejar nilai, tapi membentuk masa depan. Dan masa depan itu dimulai dari sekarang, dari ruang kelas, dari cara kita mengajar dan belajar.