5 Perbedaan Formula E dan Formula One, Sirkuit Kuda Lumping Jakarta E-Prix

ASN Kementerian ESDM, sedang menempuh studi di Australian National University. Kalau bukan anak bangsa yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan saudara mengharapkan orang lain akan datang membangun bangsa kita - - BJ Habibie
Tulisan dari David Firnando Silalahi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terlepas dari segala kontroversinya, tak lama lagi Jakarta E-Prix atau Formula E akan digelar pada 4 Juni 2022 mendatang. Mata dunia akan semua mengarah pada Jakarta dan Indonesia. Selain menggerakan ekonomi Jakarta, ajang balapan mobil berbasis baterai ini diharapkan mempromosikan energi ramah lingkungan dan mobil listrik itu sendiri.
Baca juga: Formula E Jadi Ajang Promosi Mobil Listrik dan Energi Bersih
Mungkin bagi banyak orang, balapan F1 dan Formula E tidak ada bedanya. Mobil balapnya secara kasat mata tampak serupa. Lintasan balap juga mirip. Padahal banyak hal berbeda sebenarnya. Yuk kita lihat beberapa perbedaan keduanya:
Perbedaan Antara Formula E dan Formula One
1. Jenis mesin dan bobot
Mesin yang digunakan merupakan perbedaan paling mendasar. Mobil balap Formula 1 menggunakan mesin berbahan bakar (internal combustion engine), sedangkan mobil balap Formula E menggunakan motor listrik. Layaknya mobil tamiya raksasa.
Bobot mobil Formula 1 sekitar 700kg, sedangkan mobil balap Formula E mencapai 900 kg. Tampaknya karena harus menggendong baterai sebagai sumber tenaganya, mobil Formula E menjadi jauh lebih berat.
2. Tenaga dan kecepatan mesin
Teknologi mobil balap Formula E terbaru dilaporkan telah mampu mencapai kecepatan maksimum 280km/jam. Jauh lebih baik dari sebelumnya, yang hanya mampu 200km/jam. Tenaganya setara mesin berkekuatan 200 kW.
Kecepatannya kalah jauh jika dibandingkan mobil Formula 1 yang mampu digeber hingga 397km/jam. Tenaganya setara mesin berkekuatan 700 kW.
Tingkat akselerasi keduanya jauh berbeda. Jika mobil Formula E butuh 3 detik untuk melaju dari 0-100km/jam, mobil Formula 1 lebih cepat 1 detik untuk mencapai kecepatan yang sama. Ini tentu signifikan dalam balapan. Jadi jika diadu, jelas mobil F1 lebih unggul karena lebih gesit.
3. Lintasan dan durasi balapan
Umumnya lintasan balap Formula 1 dibuat khusus. Tidak menggunakan badan jalan (street circuit) yang setiap hari digunakan.
Panjang minimum balapan Formula 1 diatur sepanjang 305 km. Namun ada pengecualian untuk sirkuit Monaco yang panjangnya hanya kira-kira 260km. Biasanya, balapan Formula 1 akan berlangsung antara 80 dan 100 menit dari awal hingga akhir.
Formula E yang juga disebut ePrix, umumnya menggunakan sirkuit jalanan. Total jarak yang harus diselesaikan sepanjang 80 hingga 90 kilometer. Balapan diselenggarakan di dalam sirkuit atau jalan umum dalam kota yang ditutup untuk umum. Misalnya Long Beach di California atau sirkuit Monako.
Durasi balapan ePrix berakhir dalam 45 menit ditambah satu putaran. Ini untuk meminimalkan risiko mobil kehabisan tenaga saat balapan.
4. Tingkat kebisingan
Deru mesin pada balapan Formula 1 bisa mencapai level kebisingan 134 dB. Ini setara dengan kebisingan mesin jet pesawat terbang saat lepas landas, suara sirene, atau bunyi letusan kembang api.
Suara mobil Formula E hanya sekitar 80 dB, atau kira-kira setara dengan suara flushing toilet. Atau hanya seperti suara bising jalan raya. Jadi tidak heran ada yang mengatakan balapan Formula E suaranya kurang greget.
5. Kapan pertama kali diselenggarakan
Kejuaraan dunia Grand Prix Formula 1 pertama kalinya dihelat di Silverstone, Inggris, pada 13 Mei 1950. Jadi usia Formula 1 telah lebih dari 7 dekade.
Sedangkan Formula E pertama memulai debutnya pada tahun 2014 di Olimpiade Beijing. Baru berumur 7 tahun, hanya sepersepuluh umur dari Formula 1. Ibaratnya anak kelas 1 SD dengan kakeknya yang berumur 70 tahun. Dengan perbedaan usia yang jauh ini, sangat wajar jika Formula 1 tampak mendominasi pada banyak hal.
Sirkuit Kuda Lumpin Formula E Jakarta
Sirkuit balap Jakarta ePrix berbeda dari umumnya yang 100% memanfaatkan jalan raya (street circuit). Sirkuit Jakarta merupakan modifikasi jalan raya dan lintasan baru. Kira-kira 50:50. Lintasan yang total panjangnya 2,4 km ini berbentuk menyerupai kuda lumping.
Head of Technical Operation at Formula E Operation Barry Mortimer mengungkapkan tantangan terberat lomba di Jakarta adalah cuacanya yang panas dan lembab.
Ini bisa mempengaruhi kinerja baterai mobil balap, dan sangat mungkin mempengaruhi jalannya lomba.
Semoga saja drama balapan ePrix di Valencia, hampir setengah dari pembalap tidak mampu mencapai garis finish, karena baterainya kehabisan daya. Kejadian di Valencia ini membuat Formula E menjadi tertawaan netizen. Semoga kejadian serupa tidak terulang di Jakarta nanti. Sukses Formula E! (DFS).
