Konten dari Pengguna

Tradisi Bancakan: Tergesernya Kearifan Budaya Lokal oleh Kue Ulang Tahun

Dedi Kurniawan

Dedi Kurniawan

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Teknik Mesin

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dedi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tradisi bancakan. Sumber: Google AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tradisi bancakan. Sumber: Google AI

Pernahkah kalian merasakan tradisi bancakan dalam kehidupan sehari-hari saat ini? Salah satunya ketika kalian diundang untuk menghadiri acara peringatan hari kelahiran seseorang dalam tradisi kearifan lokal. Sayangnya, fenomena saat ini menunjukkan kebanyakan orang lebih memilih memperingati hari kelahiran dengan kue ulang tahun modern. Padahal, tradisi bancakan (atau bancaan) adalah upacara selamatan masyarakat Jawa dan Sunda yang bertujuan memohon keselamatan dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan melalui kegiatan makan bersama beralaskan daun pisang.

Bancakan bukan sekadar acara makan-makan. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur atas berkah, kelahiran, atau hajat, sekaligus momen penyetaraan derajat karena semua kalangan duduk bersama tanpa sekat. Menu hidangannya pun sarat makna tersembunyi. Nasi tumpeng melambangkan doa yang dipanjatkan ke atas kepada Sang Pencipta. Gudangan (urap) melambangkan keberkahan rezeki yang melimpah. Telur rebus melambangkan proses awal kehidupan, dan ikan asin (gereh) melambangkan nilai kesederhanaan.

Tradisi ini biasanya digelar pada momen sakral daur hidup manusia. Mulai dari wetonan (hari lahir kalender Jawa), masa kehamilan (mitoni), turun tanah (tedhak siten), khitanan, pernikahan, hingga memperingati kematian dan syukuran hajat seperti rumah baru atau panen melimpah.

Pergeseran budaya saat ini menjadi tantangan nyata ketika kue ulang tahun dari budaya Barat kerap menggantikan bancakan. Kedua tradisi ini memiliki esensi yang sangat berbeda; bancakan mengajarkan kesederhanaan dan gotong-royong komunal, sementara kue ulang tahun cenderung menonjolkan selebrasi personal dan kemewahan visual.

Di era modern, melestarikan tradisi bancakan bukan berarti harus menolak budaya luar secara mutlak. Fokus utamanya adalah menjaga nilai inti bancakan, yaitu doa bersama dan bersedekah kepada sesama. Dengan mengenalkan kembali sejarah dan esensi bancakan kepada generasi muda, kita dapat memastikan akar budaya bangsa ini tidak sirna ditelan zaman.