Gaya Elit Ekonomi Sulit: Mahasiswa Rantau Terlilit Pinjol Akibat Candu Spaylater

Mahasiswa Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Delvina Dwi Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Delvina Dwi Putri
Dunia perkuliahan seringkali menjadi panggung sandiwara yang mahal. Di satu sisi kita melihat mirror selfie dengan ponsel terbaru, namun di sisi lain ada tangis yang disembunyikan karena tagihan Spaylater yang sudah lewat tenggat pembayaran.

Minggu lalu, seorang teman dekat saya tiba-tiba menghilang dari semua grup WhatsApp. Bukan karena ponselnya rusak, tapi karena dia sedang ketakutan setengah mati. Ternyata, nomor ponsel seluruh kontak di handphone-nya termasuk orang tuanya diteror oleh penagih utang dari aplikasi pinjaman online (pinjol).
Teman saya ini adalah seorang anak rantau. Setiap bulan, orang tuanya di kampung bekerja keras untuk mengirimkan uang saku yang seharusnya cukup untuk biaya hidup dan kuliah. Namun, godaan hidup di kota orang ternyata lebih kuat dari rasa tanggung jawabnya. Semuanya bermula dari kecanduan fitur Spaylater.
Awalnya, dia hanya menggunakan fitur tersebut untuk kebutuhan mendesak. Namun, lama-kelamaan dia kehilangan kendali. Uang kiriman yang seharusnya untuk bayar kos dan makan, justru dia gunakan secara tidak bertanggung jawab: membayar cicilan tiket konser serta cicilan ponsel baru agar tetap terlihat "setara" dengan teman-teman lainnya saat mirror selfie. Ketika tagihan Spaylater membengkak dan uang bulanan dari orang tuanya habis hanya dalam seminggu untuk menutupi bunga, dia mulai terjun ke lubang hitam bernama pinjol.
Gengsi yang Harganya Terlalu Mahal
Sebagai mahasiswa, tekanan sosial itu pasti nyata adanya. Kita takut dianggap "ketinggalan zaman" jika tidak ikut tren. Bagi anak rantau, ada beban tambahan: ia ingin terlihat "sukses" dan "berubah" di kota besar.
Di sinilah pinjol masuk sebagai "pahlawan". Hanya dengan modal selfie bersama KTP, uang jutaan rupiah cair dalam hitungan menit. Bagi mahasiswa yang sedang lapar akan validasi, ini akan menjadi jalan pintas. Padahal, uang itu bukan miliknya; itu adalah utang yang akan mencekik leher dan menghancurkan nama baiknya di depan orang tua yang sangat mempercayainya.
Lingkaran Setan: Menggadaikan Kepercayaan Orang Tua
Saya melihat sendiri bagaimana dia terjebak dalam lingkaran "gali lubang tutup lubang". Saat mendapat uang saku setelah mendapat transferan dari orang tua , bukannya dipakai untuk makan, uang itu langsung lunas untuk membayar bunga pinjol A. Untuk makan sehari-hari, dia meminjam lagi di aplikasi pinjol B atau bahkan meminjam uang dengan teman terdekatnya.
Proses ini terus berulang hingga dia memiliki banyak aplikasi pinjol yang berbeda. Hidupnya hancur. Dia takut mengangkat telepon dari ibunya karena merasa berdosa, dan takut mengangkat telepon nomor asing karena teror debt collector. Prestasi akademiknya merosot, dan dia bahkan takut ke kampus karena nomor teman-temannya sudah dihubungi oleh penagih utang. Kepercayaan yang dibangun orang tuanya bertahun-tahun runtuh hanya demi kepuasan sesaat.
Menurut saya, saat kita di kota orang (merantau) kita harus bisa manajemen keuangan dengan baik, Jika kamu juga adalah anak rantau, ingatlah hal-hal ini:
1. Ingat Keringat Orang Tua: Sebelum mengklik "Bayar Nanti", bayangkan berapa lama orang tuamu harus bekerja untuk menghasilkan uang tersebut.
2. Transparansi Keuangan: Jika kamu merasa uang saku tidak cukup, bicarakan jujur dengan orang tua. Kejujuran jauh lebih baik daripada mereka tahu dari teror penagih utang.
3. Hapus Aplikasi 'Paylater': Jangan beri celah bagi diri sendiri untuk berutang. Jika tidak mampu beli tunai, berarti kamu memang belum mampu.
4. Cari Lingkaran Pertemanan yang Sehat: Teman sejati tidak akan menilaimu dari merek ponsel atau baju yang kamu pakai.
Mahasiswa Berharga Karena Isi Kepala, Bukan Saldo Pinjol. Sebagai sesama mahasiswa, mari kita kembali ke realitas. Tidak ada yang salah dengan menyukai hal-hal bagus, tapi jangan sampai kita mengorbankan ketenangan jiwa dan harapan orang tua demi Instastory 24 jam.
Jangan biarkan FOMO membunuh logika kita. Kita merantau untuk membawa ijazah dan kebanggaan, bukan tumpukan utang dan rasa malu. Mari kita tunjukkan bahwa kualitas seorang sarjana ditentukan oleh integritasnya, bukan oleh seberapa mewah gaya hidup yang ia paksakan.
Beranilah menjadi diri sendiri, meski tanpa gadget terbaru. Karena pada akhirnya, gelar sarjanamu jauh lebih berharga daripada validasi dari orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan cicilanmu.
