Konten dari Pengguna

Demam Photobox Anak Gen Z: No Photobox, No Memory

Shisca Fitriana Anggraeni

Shisca Fitriana Anggraeni

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shisca Fitriana Anggraeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Main ke mal atau sekadar nongkrong di kafe, kita pasti sering melihat pemandangan ini: antrean anak muda mengular di depan bilik photobox. Begitu gilirannya tiba, mereka masuk ramai-ramai. Pas keluar, mukanya mendadak ceria sambil pamer selembar foto strip yang masih hangat dari mesin cetak. Bagi anak-anak Gen Z , mampir ke bilik foto ini seperti sudah jadi ritual wajib. Kalau agenda kumpul-kumpul bareng teman selesai tanpa membawa pulang selembar foto strip, rasanya pulang ke rumah jadi kurang afdal.

Sumber:dokumentasi pribadi(generate AI)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber:dokumentasi pribadi(generate AI)

Mengapa Tren Photobox Begitu Populer?

Ada alasan kuat kenapa tren lawas ini mendadak hidup lagi. Foto di photobox itu menawarkan satu hal: keseruan yang spontan. Dengan modal empat sampai enam kali jepretan dalam waktu singkat, kita tidak punya waktu untuk menyiapkan pose sesempurna mungkin. Kadang tombol hitung mundur belum selesai, kamera sudah menjepret duluan. Hasilnya? Muka canggung, tertawa lepas, atau salah tingkah justru jadi kenangan paling mahal dan berkesan.

Keberadaan bilik foto ini juga selalu setia menemani berbagai momen. Mulai dari sekadar pelarian sepulang kuliah, agenda setelah nonton bioskop, pesta ulang tahun, sampai perayaan wisuda kelulusan. Wajar saja kalau antreannya hampir tidak pernah sepi, apalagi saat akhir pekan atau ketika ada acara seru di kampus.

Keunikan Foto Fisik di Era Digital

Satu pembeda besar dari tren ini adalah bentuk fisiknya. Di era digital, ribuan foto di galeri HP biasanya hanya menumpuk begitu saja dan tenggelam di folder, jarang sekali dibuka kembali. Berbeda cerita dengan selembar foto strip. Lembaran kertas ini bisa dipajang di dinding kamar, terselip rapi di dompet, atau beralih fungsi menjadi pembatas buku. Tiap kali mata kita tidak sengaja melihatnya, memori hari itu langsung berputar ulang. Kita bisa mengingat jelas siapa kawan paling berisik, hingga siapa teman paling mati gaya saat itu.

Sumber:dokumentasi pribadi(felo AI)

Bebas Berekspresi dan Ramah Kantong

Bilik kotak ini juga menjadi ruang aman untuk bebas berekspresi. Di dalam sana, tidak ada mata orang lain menilai penampilan kita. Kita juga bebas dari tuntutan untuk terlihat sempurna seperti standarisasi di media sosial . Mau bergaya kalem, bertingkah konyol, sampai pamer muka paling absurd sekalipun, semua sah-sah saja. Suasananya jauh lebih santai ketimbang berfoto demi kebutuhan feeds Instagram, tempat kita harus pusing memikirkan sudut pengambilan gambar (angle) hingga filter estetik.

Bonus lainnya, aktivitas ini jadi opsi paling ramah kantong untuk merawat gaya hidup yang estetik bareng teman. Harganya relatif murah. Bermodal sistem patungan antar-teman, semua orang dalam geng bisa membawa pulang cetakan foto sama. Momen kebersamaan pun terasa jauh lebih intim karena tiap orang memegang bukti nyata dari hari berharga tersebut.

Sebagian orang mungkin mencibir dan menganggap fenomena ini cuma tren musiman yang bakal cepat basi. Namun, melihat menjamurnya berbagai penyedia bilik foto dengan tema unik dan bingkai visual menggemaskan, rasanya kebiasaan ini bakal bertahan sangat lama. Manusia pada dasarnya selalu mencari cara paling sederhana untuk menandai momen hidup mereka.

Pada akhir cerita, masuk ke bilik foto bukan sekadar urusan ikut-ikutan tren yang sedang viral. Nilai utamanya ada pada manusia di dalam foto tersebut dan momen kebersamaan yang ingin dikunci rapat-rapat. Empat pose di selembar kertas kecil memang kelihatan sepele bagi orang lain. Namun, bagi yang menjalaninya, kertas itu menyimpan cerita panjang untuk masa tua. Intinya, bagi anak muda zaman sekarang: no photobox, no memory.