Demi Cari Makan, Bocah Yatim Somalia Dua Minggu Berjalan Kaki

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Anak-anak Somalia menderita kelaparan. (Foto: Dok. relawan ACT)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak Somalia menderita kelaparan. (Foto: Dok. relawan ACT)

Maimun Noor Ahmed nama gadis kecil itu. Sembilan tahun usianya. Tubuhnya memang kecil, perutnya memang lapar, tapi semangatnya tak pernah padam mencari makan untuk dua adiknya yang masih balita.

Gadis yatim piatu ini sudah dua bulan tinggal di kamp pengungsian Rajab, Mogadishu, ibu kota Somalia. Perjalanannya ke tempat itu tidak mudah. Dua minggu dia berjalan kaki di tengah terik, sembari menggendong adik lelakinya yang berusia 2,5 tahun dan menggandeng adik perempuannya, yang baru berumur empat tahun.

Diberitakan media lokal, Radio Ergo, Maimun memutuskan pergi dari kampung halamannya di kota Wajid, wilayah Bakool, 285 kilometer dari Mogadishu, setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.

Baca juga: Waktu Seakan Berhenti di Afrika, Jutaan Orang Masih Teriak Kelaparan

X post embed

Ibunda Maimun meninggal dunia pada pertengahan Januari setelah menderita sakit selama tiga bulan. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang angkat barang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas tiga minggu kemudian di Baidoa. Saat itu ayahnya keluar kota untuk mencari kerja demi memberi makan anak-anaknya.

Keluarga Maimun kelaparan setelah 50 kambing mereka mati akibat kekeringan. Maimun sendiri sudah berhenti sekolah setelah ayahnya tidak lagi mampu membayar iuran bulanan sekitar Rp 60 ribu.

Baca juga: Fakta-fakta soal Kelaparan di Somalia

Sebatang kara, Maimun akhirnya memutuskan ikut bersama rombongan ratusan warga desanya mencari makan di ibu kota.

Nurto Ali Ahmed, kawan dari ibunda Maimun, mengatakan gadis kecil itu berjalan kaki bersama mereka mengarungi panas terik Somalia. Sesekali mereka mendapat tumpangan kendaraan, tapi hanya sebentar.

Menurut Nurto, walau lapar berat Maimun lebih mendahulukan adiknya untuk makan.

Anak yang menderita kelaparan di Somalia. (Foto: Dok. relawan ACT)
zoom-in-whitePerbesar
Anak yang menderita kelaparan di Somalia. (Foto: Dok. relawan ACT)

"Maimun memberikan makanan dan minuman yang kami dapat kepada adik-adiknya, dia kehilangan suaranya karena kehausan," ujar Nurto kepada Radio Ergo pekan lalu.

Setelah berjalan dua minggu, mereka tiba di pengungsian Rajab pada 14 Februari lalu. Di tempat ini, Maimun setidaknya mendapatkan sedikit makanan untuk adik-adiknya. Namun kehidupan mereka tidak serta merta baik.

Di Rajab, Maimun dan adik-adiknya tidur beratapkan langit. Adiknya yang paling kecil sudah seminggu ini menderita diare, sementara di kamp itu tidak ada sarana kesehatan.

Diare yang disebabkan oleh bakteri Kolera adalah pembunuh nomor satu di tengah bencana kelaparan Somalia.

Penyakit ini telah diderita 8.000 orang di Somalia, 180 di antaranya meninggal dunia. Saat ini setidaknya ada 1.200 anak di Somalia yang menderita malnutrisi.

Maimun mengatakan dia tengah mencari kerja sebagai pembantu rumah tangga di Mogadishu untuk menghidupi kedua adiknya.

"Pekerjaan yang saya bisa hanya mencuci piring dan menyapu lantai," kata gadis kecil ini.

Baca: Kelaparan Mendera Afrika, Jutaan Warga Meregang Nyawa