Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pertanian Subsisten di Desa Kedang Murung

Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman
Tulisan dari Desy Tandirerung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berfokus pada antisipasi ancaman ketahanan pangan, mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata Universitas Mulawarman tahun 2023. Rabu, 02 Agustus 2023, Desy K. Tandirerung mahasiswa Fakultas Pertanian bersama mahasiswa KKN kelompok 69 Unmul mensosialisasikan pemberdayaan masyarakat melalui pertanian subsisten di Desa Kedang Murung, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Indonesia kini telah mencapai 278,69 juta jiwa pada pertengahan 2023. Dengan pertambahan jumlah penduduk tersebut membuat pemerintah juga harus meningkatkan jumlah produktivitas demi mencukupi kebutuhan pangan. Tidak hanya pemerintah yang harus bertanggung jawab dengan meningkatkan jumlah produktivitas tetapi masyarakatnya juga ikut membantu dengan memproduksi makanan pokok walaupun hanya untuk diri sendiri dan keluarganya yang sering disebut pertanian subsisten.
Tidak lepas dari UU No. 18/2012 tentang Pangan. Disebutkan dalam UU tersebut bahwa ketahanan pangan adalah “kondisi terpenuhnya Pangan bagi negara sampai perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan".
Sosialisasi pemberdayaan masyarakat melalui pertanian subsisten ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat yang tidak memiliki pekerjaan tetap seperti ibu rumah tangga dan para petani agar dapat menghemat pengeluaran dan tidak terus bergantung pada pasokan dari luar serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi.
Zainul Effendi, selaku sekertaris Desa Kedang Murung yang tampak antusias dengan adanya program ini.
“Semoga dengan adanya program ini dapat memotivasi masyarakat terutama para petani untuk kembali memproduksi bahan pokok seperti sayur-sayuran dan padi/beras karena sebelumnya para petani di desa ini memproduksi sendiri bahan pokok tapi sekarang sudah tidak lagi” ujar Zainul.
