Eksistensi Alih Wahana Sastra bagi Generasi Z

Mahasiswi aktif prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Desy Tri Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alih wahana sastra sebenarnya bukanlah fenomena yang baru ada. Namun, beberapa tahun terakhir fenomena alih wahana sastra semakin keras terdengar, bukan hanya sebagai bahan obrolan biasa, tetapi juga banyak sekali yang ikut mengembangkan serta mencoba fenomena ini. Dengan maraknya fenomena alih wahana sastra ini maka artikel ini memuat eksistensi alih wahana sastra khususnya bagi generasi Z. Sebelum membahas terlalu jauh terkait eksistensi alih wahana, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan alih wahana sastra?
Menurut Sapardi Djoko Damono, alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian (karya sastra) ke jenis kesenian (karya sastra) lain. Seperti; puisi dialih wahanakan menjadi musikalisasi puisi, alih wahana cerpen menjadi siniar (podcast), alih wahana cerpen menjadi drama, alih wahana novel menjadi film, dan sebagainya. Sastrawan ternama yaitu Sapardi Djoko Damono, memiliki buku yang berjudul Alih Wahana. Menurutnya, alih wahana sastra terjadi sebagai budaya yang tidak statis, budaya selalu berkembang (dinamis) sesuai dengan zaman dan pengaruh teknologi.
Pada zaman dahulu alih wahana sastra yang sering dipertunjukkan seperti lakon pewayangan baik wayang kulit ataupun wayang golek. Kemudian semakin berkembangnya zaman munculah alih wahana yaitu ekranisasi sastra. Eneste mendefinisikan ekranisasi sebagai proses pelayarputihan atau pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke film (ecran dalam bahasa Prancis berarti layar). Pemindahan novel ke layar putih akan mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan (pengurangan atau penambahan unsur). Oleh sebab itu, ekranisasi dapat dikatakan sebagai proses perubahan (Eneste, 1997:60).
Ekranisasi sastra sebenarnya bukan lagi sebuah gagasan baru, hal ini sudah cukup lama terjadi, contoh: ekranisasi novel best seller yang berjudul “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang diangkat menjadi sebuah film box office, kemudian ada juga novel “Ketika Cinta Bertasbih”, dan masih banyak novel-novel lain yang diangkat ke dalam film layar lebar di Indonesia.
Fenomena ekranisasi novel menjadi sebuah film dilakukan tak ayal untuk mencari target pasar. Dapat dikatakan demikian karena dengan adanya ekranisasi sastra tersebut membuat orang-orang menjadi lebih semangat dan dibuat lebih penasaran dengan adanya visualisasi dari novel tersebut. Hal ini sejalan dari pendapat Saryono (2015) yang menyebutkan bahwa fenomena ekranisasi merupakan sebuah Hybrid Literary Multimedia, fenomena tersebut muncul untuk mengejar pasar. Sejalan dengan pendapat tersebut, Damono (2005:98) menyatakan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini semakin banyak novel, yang biasanya dikategorikan sebagai sastra populer, diangkat ke layar perak setelah sebelumnya diubah bentuknya menjadi skenario film.
Semakin berkembangnya zaman dan majunya teknologi alih wahana sastra semakin berkembang, tidak hanya sineas saja yang dapat melakukan alih wahana sastra. Sekarang hampir seluruh bagian masyarakat dapat melakukan kegiatan alih wahana dan juga semakin mudah dalam menikmati alih wahana.
Mungkin saja para pelajar yang membawakan puisi menjadi sebuah musikalisasi puisi, cerpen dibawakan menjadi karya sastra drama. Berbagai platform untuk mengunggah alih wahana tersebut juga sudah banyak disediakan, seperti; YouTube, Spotify, Medsos (instagram, facebook), dan banyak platform lain yang dapat diakses dengan mudah.
Lalu, bagaimana eksistensi dari fenomena alih wahana tersebut? Jika ditelisik dari maraknya pembicaraan terkait alih wahana, kemudian juga penggunaan platform yang tersedia saat ini keberadaan alih wahana sangat diterima dengan baik, dan banyak digandrungi oleh para generasi Z.
Pernyataan di atas dibuktikan dengan banyaknya siniar (podcast) yang berkembang salah satunya pada platform spotify. Disana terdapat salah satu akun siniar yang bernama ‘budaya.kita’ yang menyuguhkan alih wahana sastra teks tertulis menjadi siniar, banyak remaja yang berkontribusi menjadi pengisi suara tokoh dalam siniar tersebut.
Beralih kepada platform YouTube, yang di mana kita dapat menemukan banyak sekali alih wahana puisi menjadi musikalisasi puisi, puisi menjadi monolog, cerpen menjadi drama, dan sebagainya yang rata-rata dapat ditemukan para kontributornya merupakan anak-anak generasi Z yang lahir pada rentang tahun 1990-2010 (Bencsik, dkk, 2016).
Untuk melihat eksistensi alih wahana juga dapat ditinjau dari data para penikmat alih wahana yang mencapai ribuan, ratusan, bahkan jutaan kali didengar atau dilihat oleh banyak orang. Laman Film Indonesia (FI) (2015) mencatat pada tahun 2015, film dengan judul Surga yang Tak Dirindukan memuncaki peringkat tertinggi di antara film-film lainnya yaitu Comic 8: Casino Kings Part 1, Magic Hour, Di Balik 98, 3 Dara, dan seterusnya. Jumlah penonton mencapai 1.523.570 orang. Sebuah fenomena luar biasa yang membuktikan bahwa karya sastra yang diekranisasikan memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, alih wahana hadir memberikan banyak warna baru bagi perjalanan sejarah sastra di Indonesia, kemudian secara tidak langsung juga alih wahana sudah memperluas literasi melalui perangkat digitalisasi, serta memperluas para penikmat karya sastra.
Sumber:
Faidah, Citra Nur. 2019. Ekranisasi Sastra Sebagai Bentuk Apresiasi Sastra Penikmat Alih
Wahana, (Hasta Wiyata: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 2, No. 2)
