Refleksi Hari Ibu lewat Novel Hana Tara Hata

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Detrya Izzati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perayaan Hari Ibu kerap dipenuhi ungkapan manis tentang cinta tanpa syarat dan pengorbanan yang tak terhitung. Namun, di balik bunga dan ucapan terima kasih, ada sisi peran ibu yang jarang dibicarakan, seperti keputusan yang diam-diam, sering disalahpahami, tapi krusial bagi masa depan anak
Refleksi ini terasa kuat dalam novel Hana Tara Hata karya Tere Liye.
Sebagai pembaca serial Bumi, kita mengenal Hana sebagai “Nenek Lebah”, sosok bijak yang mampu berkomunikasi dengan alam. Namun lewat novel ini, Tere Liye mengajak pembaca melihat Hana dari sudut yang lebih manusiawi. Bukan sebagai legenda, tapi sebagai seorang ibu yang dengan sadar memilih jalan hidup yang “biasa saja” demi anaknya.
Pilihan itulah yang membuat banyak pembaca sempat bertanya-tanya, mengapa judul novel ini Hana Tara Hata, padahal sebagian besar cerita justru mengikuti petualangan putranya, Mata-hana-tara? Jawabannya tidak sesederhana soal ceritanya, melainkan menyentuh isu mendasar tentang pengasuhan.
Hana pernah menjadi pahlawan. Ia pernah dielu-elukan karena kemampuannya membaca alam dan menyelamatkan kota Exeos. Namun alih-alih memanfaatkan status tersebut untuk membesarkan anaknya, Hana justru menarik diri. Ia memilih untuk hidup normal, berhenti menggunakan kekuatannya, dan membesarkan Mata jauh dari bayang-bayang legenda.
Dalam kacamata psikologi, keputusan Hana dapat dibaca sebagai upaya membangun healthy boundaries. Ia memahami bahwa label “anak orang hebat” bisa menjadi beban. Hana tidak ingin Mata tumbuh dengan identitas yang ditentukan oleh privilege atau ekspektasi orang lain. Ia ingin anaknya mengenal nilai kemanusiaan terlebih dahulu, sebelum mengenal kekuasaan atau keistimewaan.
Hasil dari pilihan itu tergambar jelas pada sosok Mata.
Mata diceritakan sebagai pemuda jenius dengan pencapaian akademik tertinggi. Dalam dunia yang mengagungkan prestasi, ia punya semua bekal untuk menjadi ambisius. Namun konflik utama novel justru menunjukkan hal sebaliknya. Ketika Mata terpilih mengikuti Festival Bunga Matahari, sebuah kompetisi mencari bunga matahari yang mekar pertama kali dan terkenal mematikan, motivasi Mata mengikutinya justru bukanlah untuk pengakuan.
Ketika Hana menolak Mata mengikuti festival tersebut, posisi itu justru diberikan kepada Laya, sahabat Mata yang merupakan penyandang disabilitas. Keputusan kejam ini membuat Mata akhirnya mengambil risiko, ia tetap berangkat bukan demi gelar, melainkan demi melindungi orang lain. Di titik ini, petualangan melawan bahaya bukan lagi sekadar elemen fantasi, melainkan ujian atas nilai yang tertanam sejak kecil.
Di sinilah Tere Liye menegaskan bahwa keberanian tidak lahir dari kekuatan saja, tetapi dari didikan moral yang ditempa di rumah. Prinsip Mata bukan muncul tiba-tiba di medan petualangan, melainkan tumbuh dari didikan orang tua yang konsisten menempatkan empati di atas ego.
Hal ini ditegaskan dalam salah satu adegan paling mengharukan di novel tersebut. Saat Hana menangis cemas di atap, Gara-gara-dia III, suami Hana sekaligus ayah Mata, menghiburnya:
“Anak kita… Dia tumbuh besar amat membanggakan, Hana… karena dia punya ibu yang hebat. Dia memilikimu sejak kecil. Ibunya, ibu terbaik di seluruh Klan Matahari,” ujar Gara-gara-dia III.
“Tapi… tapi bukan aku, melainkan kamu. Kamulah yang sebenarnya mendidik Mata memiliki prinsip-prinsip terbaik. Mata memiliki ayah terbaik di seluruh dunia paralel…,” balas Hana.
Dialog ini menegaskan bahwa seluruh petualangan Mata pada akhirnya bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang pembuktian prinsip yang diwariskan oleh kedua orang tuanya.
Menariknya, Hana Tara Hata juga menyelipkan satir sosial yang cukup relevan dengan kehidupan hari ini. Melalui penggambaran tokoh-tokoh “pesohor” yang gemar nyinyir dan memprovokasi publik selama festival berlangsung, Tere Liye menyindir budaya menghakimi, fenomena yang familier di dunia maya. Di tengah hiruk-pikuk itu, sikap Mata yang tetap menolong mereka yang bahkan mungkin berniat mencelakainya terasa kontras, sekaligus mengharukan.
Di sinilah novel ini menemukan momentumnya dengan Hari Ibu. Hana Tara Hata mengingatkan kita bahwa peran orang tua, terutama ibu, sering kali tidak hadir dalam bentuk heroik atau terlihat. Ia hadir dalam konsistensi, dalam keberanian menahan diri, dan dalam keputusan untuk tidak menjadikan anak sebagai perpanjangan ego.
Pada akhirnya, judul Hana Tara Hata adalah sebuah pernyataan. Mata boleh jadi tokoh yang bergerak di garis depan, menghadapi bahaya dan mengambil risiko. Namun Hana adalah alasan mengapa semua itu memiliki arah. Ia adalah bingkai yang memastikan keberanian tidak kehilangan kemanusiaannya.
Di tengah perayaan Hari Ibu, novel ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang anak tidak semata diukur dari prestasi atau gelar saja, melainkan dari prinsip yang ia pegang ketika berhadapan dengan dunia yang keras. Sebuah refleksi bahwa peran terbesar orang tua sering kali justru bekerja dalam diam.
