Konten dari Pengguna

Patah Bukan Hanya Milik Dahan

Nanda Pratama

Nanda Pratama

Universitas Muhammadiyah Jambi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nanda Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi dahan pohon. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi dahan pohon. Foto: Shutter Stock

Dalam deru kehidupan yang seringkali tak terduga, kata-kata bijak Emha Ainun Najib muncul sebagai cerminan tajam tentang kenyataan yang sulit dihadapi: bahwa hidup ini sering berjalan dalam pola yang bertentangan dengan harapan kita, dan tidak jarang, seperti mimpi buruk yang kita benci.

Kita semua pernah mengalami momen ketika rencana dan impian kita berbenturan dengan kenyataan yang tak terduga. Saat itulah kekecewaan, patah hati, dan kefrustasian merajalela. Kata "patah", menggambarkan betapa identiknya kata ini dengan dahan pada pohon. Seperti patahnya dahan yang rapuh ketika menuai angin, perasaan kita pun sering hancur ketika dihadapkan pada kenyataan yang tak diharapkan.

Namun, yang menarik adalah bahwa hati, pusat emosi kita, tidak memiliki tulang namun memiliki musim patah. Ia, bagai lautan emosi, terkadang bercabang dan remuk, menjadi tuan bagi kekecewaan, putus asa, dan amarah yang tak berujung.

Dalam dunia ini, terkadang rasanya seolah-olah alam semesta tak peduli dengan impian, doa, atau perencanaan kita. Kita sering menyalahkan takdir, atau bahkan Sang Pembuat Takdir yang tampaknya tak berpihak pada kita.

Namun, melalui introspeksi mendalam, kita dapat mulai memahami bahwa terkadang Tuhan mengatur rencana yang lebih besar daripada yang bisa kita lihat. Seperti langkah bijak seorang seniman menggabungkan warna-warna pada kanvas, Tuhan mungkin mengerti apa yang kita butuhkan lebih baik daripada apa yang kita inginkan.

Sebuah studi terbaru dalam Journal of American Heart Association memunculkan fakta yang patut diperhatikan. Antara tahun 2006 dan 2017, diagnosa sindrom patah hati meningkat enam sampai sepuluh kali lipat. Memang musim patah tidak ada dalam kamus meteorologi, makanya minim antisipasi walaupun paling sering melanda tanpa aba-aba.

Beberapa tahun badai patah menghujani lembah lembah kedalaman hati kita, suasana ketenangan di musim gugur seakan berlalu begitu saja, keadaan tak terduga membuat suasana hilang entah ke mana umpama kemarau panjang di bulan Januari berharap hujan di bulan Juni.

Bahkan ketika kita menjalani hidup dengan sepenuh hati, melakukan segalanya dengan sebaik-baiknya, kita masih terkadang harus meratapi kenyataan bahwa rencana kita hancur, dan hati kita terluka. Namun, dalam keheningan, kita mungkin akan menyadari bahwa terkadang Tuhan mengerti apa yang tidak kita ketahui.

Sebagai penutup, bayangkan seorang anak kecil yang bermain dengan benda tajam. Orang tua yang bijaksana dengan segera mengambilnya dari tangan anak itu, meskipun si kecil menangis dan marah. Mereka tahu bahwa tindakan mereka adalah yang terbaik. Demikian pula, terkadang hati kita harus dipatahkan agar kita dapat dilepaskan dari sesuatu yang salah.

Jadi, dalam semua kerumitan dan ketidakpastian kehidupan, mungkin patah hati adalah peringatan bahwa Tuhan sedang menjalankan paletnya yang indah untuk melukis kisah kita yang penuh makna. Emha Ainun Najib telah memberikan pandangan tajam tentang realitas ini, dan melalui pesan kritisnya, kita diingatkan untuk melihat keindahan di balik patah hati dan menemukan pemahaman yang lebih dalam tentang hidup.