Konten dari Pengguna

Di Balik Program MBG Ada Multiplier Effect Economy yang Jarang Diketahui

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atqiya Fadhil Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Amsal (Dok: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Amsal (Dok: Istimewa)

Oleh: Amsal, S.E., M.E., Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII), Mahasiswa Doktoral (S-3), Penerima Beasiswa LPDP Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PPIPS), Universitas Syiah Kuala.

Ketika melakukan perjalanan dan melihat langsung aktivitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada satu hal menarik yang menurut saya belum banyak diketahui publik. Di balik makanan yang setiap hari disiapkan oleh dapur-dapur MBG, ternyata terdapat pergerakan ekonomi masyarakat yang cukup luas. Bukan hanya anak-anak yang menerima manfaat gizi, tetapi juga petani, peternak, nelayan, pedagang, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang memperoleh kesempatan kerja.

Dalam sebuah kesempatan, saya mendengar langsung cerita dan curhatan sejumlah petani. Mereka menceritakan bagaimana pada masa sebelumnya hasil panen yang melimpah justru sering menjadi persoalan. Ketika produksi meningkat, harga terkadang jatuh sangat rendah. Bahkan, ada hasil pertanian yang terpaksa dibuang karena tidak terserap pasar dan harga jualnya tidak sebanding dengan biaya produksi maupun biaya panen.

Namun, kehadiran dapur MBG mulai membuka peluang pasar baru. Kebutuhan bahan pangan yang relatif terencana memberikan kesempatan bagi hasil pertanian untuk terserap. Beberapa petani yang saya temui bahkan menyampaikan bahwa produk pertanian mereka kini lebih cepat terserap sehingga muncul semangat untuk meningkatkan produksi dan membuka lahan baru.

Cerita tersebut memberikan perspektif bahwa MBG bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

MBG dan Efek Pengganda Ekonomi

Dalam teori ekonomi John Maynard Keynes, dikenal konsep Multiplier Effect atau efek pengganda. Teori ini menjelaskan bahwa pengeluaran dalam perekonomian dapat menghasilkan dampak berantai terhadap pendapatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Konsep tersebut relevan untuk membaca pelaksanaan MBG. Ketika satu dapur membeli sayuran dari petani, telur dari peternak, ikan dari nelayan, dan bahan pangan lainnya dari pedagang lokal, transaksi tersebut tidak berhenti pada satu pihak. Uang yang diterima pemasok kembali berputar untuk membeli pupuk, benih, pakan ternak, membayar pekerja, serta memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dengan demikian, satu aktivitas pengadaan bahan pangan dapat menggerakkan berbagai sektor ekonomi sekaligus.

Inilah potensi besar MBG yang perlu mendapatkan perhatian. Belanja pemerintah tidak hanya dilihat sebagai pengeluaran anggaran, tetapi juga sebagai instrumen untuk menggerakkan ekonomi produktif hingga ke tingkat desa.

Menghidupkan Rantai Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Pemikiran Mark Granovetter melalui teori Social Embeddedness menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi sesungguhnya melekat pada hubungan sosial. Transaksi ekonomi tidak hanya berbicara tentang harga dan keuntungan, tetapi juga kepercayaan, kerja sama, dan jaringan antarpelaku ekonomi.

Dalam konteks MBG, hubungan antara dapur SPPG, kelompok tani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM menjadi sangat penting. Apabila hubungan tersebut dibangun secara terbuka dan berkelanjutan, MBG berpotensi memperkuat ekosistem ekonomi lokal.

Aceh memiliki peluang besar untuk mengembangkan pola tersebut. Setiap daerah mempunyai potensi komoditas berbeda. Wilayah pertanian dapat memasok sayuran dan beras, wilayah pesisir menyediakan hasil perikanan, sedangkan peternak dan UMKM dapat mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dapur.

Karena itu, pelibatan pemasok lokal harus menjadi prioritas agar perputaran uang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Pembangunan Harus Meningkatkan Kesejahteraan

Amartya Sen melalui Capability Approach mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh kesempatan untuk hidup lebih baik.

Dalam perspektif ini, keberhasilan MBG tidak hanya dihitung dari jumlah makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat. Kita juga perlu melihat apakah petani memperoleh kepastian pasar, apakah UMKM berkembang, apakah tenaga kerja terserap, dan apakah pendapatan masyarakat meningkat.

Tentu, potensi tersebut harus didukung tata kelola yang baik. Pengadaan bahan pangan perlu transparan, pembayaran kepada pemasok harus tepat waktu, standar keamanan pangan harus dijaga, dan kesempatan usaha harus terbuka secara adil. Pemerintah juga perlu memastikan peningkatan permintaan tidak menimbulkan kelangkaan atau kenaikan harga yang merugikan masyarakat umum.

Evaluasi berbasis data mengenai jumlah pemasok lokal, nilai transaksi, tenaga kerja, serta perubahan pendapatan petani dan UMKM juga penting dilakukan agar dampak program dapat diukur secara objektif.

Jangan Hanya Melihat Makanan di Atas Piring

Sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) sekaligus mahasiswa doktoral Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Syiah Kuala, saya melihat MBG sebagai kebijakan yang memiliki dimensi ekonomi, sosial, dan kemanusiaan.

Kita perlu melihat lebih jauh dari sekadar makanan yang tersaji di atas piring. Di baliknya ada petani yang kembali bersemangat menanam, nelayan yang memperoleh peluang pasar, peternak yang meningkatkan produksi, pelaku UMKM yang mengembangkan usaha, serta masyarakat yang mendapatkan pekerjaan.

Pengalaman mendengar langsung cerita petani tentang hasil panen yang dahulu sering tidak terserap pasar, kemudian melihat munculnya optimisme untuk kembali meningkatkan produksi, menjadi pengingat bahwa kebijakan publik dapat menghadirkan dampak yang lebih luas daripada tujuan awalnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa MBG telah menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi masyarakat. Masih ada tantangan yang harus diperbaiki, mulai dari tata kelola, pemerataan pemasok, kualitas makanan, hingga pengawasan pelaksanaan.

Namun, potensi ekonomi yang tumbuh dari program ini jangan sampai diabaikan hanya karena kita terlalu fokus melihat satu sisi persoalan.

Sebab, keberhasilan MBG bukan hanya ketika anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga ketika petani kembali bersemangat menanam, hasil panen terserap pasar, UMKM berkembang, lapangan kerja tercipta, dan ekonomi masyarakat bergerak.

Pada akhirnya, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa besar anggaran yang dibelanjakan negara, melainkan seberapa jauh anggaran tersebut mampu mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.