Konten dari Pengguna

Kabut Asap Palembang 2026: Udara Berbahaya dan Warga Mulai Merasakan Dampaknya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Diah Iskandar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baru-baru ini, warga Palembang, Sumatra Selatan, kembali menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Kondisi ini menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah Palembang mencapai tingkat yang berbahaya dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Mengutip ANTARA, data BMKG menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Stasiun Musi 2, Palembang, mencapai 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB hari Minggu (4 Oktober 2026). Tingkat ini termasuk dalam kategori "sangat berbahaya". BMKG menyatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh asap akibat kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Sumatra Selatan yang terbawa angin masuk ke Palembang.

SUMBER BMKG
zoom-in-whitePerbesar
SUMBER BMKG
SUMBER BMKG

Situasi ini tidak terbatas pada waktu pagi hari saja. Berdasarkan data pemantauan BMKG pada tanggal 4 Oktober, konsentrasi PM2,5 mulai meningkat sejak dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, konsentrasinya telah mencapai angka sekitar 641 µg/m³ dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya di angka 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB. Kualitas udara kembali memburuk pada malam hari; pada pukul 18.00 WIB, konsentrasi PM2,5 di lokasi Musi 2 tercatat masih berada di angka 586,6 µg/m³, yang termasuk dalam kategori berbahaya.

SUMBER IQAir

Data IQAir pada hari yang sama juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pada pukul 20.00 WIB, kualitas udara Palembang tercatat memiliki nilai US AQI sebesar 376—masuk dalam kategori "Berbahaya" (Hazardous)—sementara konsentrasi PM2,5 mencapai 263 µg/m³. Meskipun data ini berasal dari sistem pemantauan yang berbeda dengan milik BMKG, data tersebut turut mengindikasikan bahwa kualitas udara Palembang tetap buruk sepanjang malam.

Kabut Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Warga

Kabut asap tidak hanya mengubah warna langit menjadi kelabu suram, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Sejumlah sekolah di Palembang kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh setelah kualitas udara mencapai tingkat berbahaya. Pada tanggal 4 Oktober, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Palembang tercatat di angka 433, sementara konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 903,6 µg/m³.

Operasional penerbangan juga turut terdampak. Pada tanggal 1 Oktober 2026, kabut asap menyebabkan jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang berkurang hingga sekitar 500 meter. Kondisi ini mengakibatkan penundaan sejumlah penerbangan dan menghalangi dua pesawat untuk mendarat di Palembang. Hal ini menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar masalah lingkungan. Seiring menurunnya jarak pandang dan memburuknya kualitas udara, sektor pendidikan, perjalanan, serta aktivitas sehari-hari masyarakat pun ikut terganggu.

Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan Warga

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Situasi ini memerlukan perhatian khusus, terutama bagi anak-anak, lansia, dan individu yang telah memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 12.589 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) antara tanggal 1 hingga 21 September 2026. Angka-angka ini didasarkan pada data pengobatan dari rumah sakit dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh wilayah Palembang. Pihak Dinas Kesehatan juga telah mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker saat kualitas udara memburuk. Pemerintah juga telah mulai mengambil langkah-langkah untuk membantu warga yang terdampak, termasuk penyediaan layanan pengobatan gratis bagi mereka yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap. Kendati demikian, masyarakat harus tetap waspada dengan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, mengenakan masker, serta memeriksa kondisi kualitas udara sebelum keluar rumah.

Asap Berasal dari Kebakaran Hutan dan Lahan di Dekat Palembang

Kabut asap yang menyelimuti Palembang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Sumatra Selatan. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian khusus adalah Ogan Komering Ilir (OKI). Dalam rapat evaluasi upaya penanggulangan kebakaran pada tanggal 2 Oktober, pemerintah daerah melaporkan adanya sekitar 3.059 titik panas di seluruh Sumatra Selatan, dengan hampir separuhnya berada di wilayah OKI. Asap dari wilayah tersebut juga dilaporkan berdampak pada Kota Palembang. Tingginya jumlah titik panas menunjukkan bahwa masalah kebakaran hutan dan lahan di Sumatra Selatan masih tergolong serius. Terbawa oleh angin, asap tidak hanya menetap di lokasi kebakaran tetapi juga menyebar ke kawasan perkotaan, sehingga berdampak pada warga Palembang.

Kesimpulan

Kabut asap di Palembang menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar masalah lingkungan. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari kualitas udara yang berbahaya dan masalah kesehatan hingga perlunya penerapan pembelajaran jarak jauh serta gangguan pada penerbangan. Bahwa situasi ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat mengenakan masker atau membatasi aktivitas di luar ruangan. Meskipun melindungi masyarakat itu penting, pencegahan dan penanganan sumber kebakaran juga harus menjadi prioritas. Selama kualitas udara belum membaik, masyarakat perlu tetap waspada, terutama mereka yang rentan terhadap gangguan pernapasan. Pada saat yang sama, penanganan kebakaran hutan dan lahan harus dilakukan secara serius untuk memastikan bahwa kabut asap tidak terus menjadi masalah tahunan yang berulang.