Apakah Sekolah Mengajarkan Belajar atau Sekadar Mengejar Nilai?

Mahasiswi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Dian Nurul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Pakai cara apa saja yang penting nilainya bagus."
Kalimat seperti ini mungkin tidak asing bagi banyak pelajar. Di sekolah, nilai sering menjadi ukuran utama untuk menilai keberhasilan seseorang. Semakin tinggi nilai yang diperoleh, semakin pintar seseorang dianggap, sebaliknya, mereka yang mendapatkan nilai rendah sering kali dianggap kurang mampu, meskipun belum tentu demikian.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan sederhana: apakah sekolah benar-benar mengajarkan cara belajar, atau justru lebih mendorong peserta didik untuk mengejar nilai?
Dalam praktiknya, tidak sedikit siswa yang belajar dengan tujuan utama mendapatkan nilai tinggi. Menjelang ujian, materi dihafalkan sebanyak mungkin, soal-soal latihan dikerjakan berulang kali, lalu setelah ujian selesai, sebagian besar materi tersebut perlahan dilupakan. Fenomena ini tentu bukan hal baru. Bahkan banyak orang yang mengaku hanya mengingat sedikit dari apa yang pernah dipelajari selama bertahun-tahun di sekolah.
Padahal, esensi pendidikan seharusnya tidak berhenti pada angka yang tercantum di rapor atau lembar hasil ujian. Pendidikan semestinya membantu peserta didik memahami suatu pengetahuan, mengembangkan rasa ingin tahu, serta membangun kemampuan berpikir yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, sistem pendidikan sering kali menempatkan nilai sebagai tujuan utama. Orang tua bangga ketika anaknya memperoleh nilai tinggi, sekolah menjadikan nilai sebagai indikator keberhasilan pembelajaran, bahkan peserta didik sendiri sering mengukur kemampuan mereka berdasarkan angka yang diperoleh. Akibatnya, proses belajar terkadang menjadi nomor dua, sementara hasil akhir menjadi fokus utama.
Dalam perspektif sosiologi kurikulum, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi yang membentuk cara pandang masyarakat mengenai keberhasilan. Ketika nilai terus dijadikan ukuran utama, peserta didik secara tidak langsung belajar bahwa angka lebih penting daripada proses memahami materi. Mereka belajar bahwa keberhasilan ditentukan oleh hasil yang terlihat, bukan oleh proses belajar yang dijalani.
Tidak mengherankan jika kemudian muncul budaya belajar yang berorientasi pada ujian, banyak siswa lebih fokus mempelajari materi yang kemungkinan keluar dalam tes daripada memahami keseluruhan konsep. Pertanyaan yang sering muncul bukan lagi "Apa yang bisa saya pelajari?" melainkan "Apa yang akan keluar saat ujian?"
Padahal, dunia di luar sekolah tidak selalu menilai seseorang berdasarkan angka. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah sering kali sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Sayangnya, keterampilan-keterampilan tersebut tidak selalu tercermin dalam nilai ujian.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan John Dewey yang melihat pendidikan sebagai proses belajar melalui pengalaman, bukan sekadar proses mengumpulkan informasi. Pendidikan seharusnya membantu seseorang memahami kehidupan dan mengembangkan kemampuan untuk terus belajar, bukan hanya berhasil menjawab soal ujian.
Tentu saja nilai tetap memiliki fungsi penting, nilai dapat digunakan untuk melihat perkembangan belajar dan mengevaluasi pemahaman peserta didik. Masalah muncul ketika nilai menjadi satu-satunya tujuan yang ingin dicapai. Ketika hal itu terjadi, belajar tidak lagi dipandang sebagai proses pengembangan diri, melainkan sekadar cara untuk mendapatkan angka yang baik.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, kemampuan untuk terus belajar justru menjadi semakin penting. Informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui internet dan teknologi digital. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya lebih berfokus pada bagaimana peserta didik belajar, bukan hanya pada seberapa tinggi nilai yang mereka peroleh.
Pada akhirnya, sekolah memang membutuhkan sistem penilaian. Namun, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan peserta didik dengan nilai tinggi, melainkan juga individu yang memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan kemauan untuk terus belajar sepanjang hidup. Sebab, nilai mungkin hanya bertahan di rapor, tetapi kemampuan belajar akan dibutuhkan seumur hidup.
